Survei Poltracking Terbaru: Gerindra Raih 22,9%, Kepercayaan kepada Prabowo-Gibran 64,8%
Partai Gerindra memimpin elektabilitas partai politik dengan angka 22,9 persen dalam survei terbaru Poltracking Indonesia. Pada saat yang sama, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mencapai 64,8 persen.
Hasil survei yang dirilis pada Oktober 2026 tersebut memberikan gambaran tentang peta dukungan politik dan persepsi masyarakat terhadap pemerintah. Gerindra unggul atas PDI Perjuangan yang memperoleh elektabilitas 13,4 persen, sedangkan tingkat kepercayaan terhadap pemerintah naik dibandingkan survei Agustus 2026.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda Rasyid, menyampaikan hasil elektabilitas partai melalui siaran YouTube Poltracking Indonesia, Selasa 20 Oktober 2026. Sementara itu, hasil survei mengenai kepercayaan publik memperlihatkan bahwa penilaian masyarakat terhadap pemerintah masih lebih tinggi daripada tingkat kepuasan terhadap kinerjanya.
Gerindra Pimpin Elektabilitas, PDI-P Menempati Posisi Kedua
Survei Poltracking Indonesia menempatkan Partai Gerindra di urutan pertama dengan elektabilitas 22,9 persen. PDI Perjuangan mengikuti dengan 13,4 persen, sedangkan Partai Golkar berada di posisi ketiga dengan 9,1 persen.
Hanta Yuda menjelaskan bahwa Gerindra memperoleh elektabilitas tertinggi dalam survei tersebut. Hasil ini menempatkan partai yang dipimpin Prabowo Subianto itu di atas para pesaingnya dalam peta dukungan politik nasional.
"Elektabilitas Gerindra tertinggi, kemudian disusul PDI-P," ujar Hanta, dikutip dari siaran YouTube Poltracking Indonesia, Selasa 20 Oktober 2026.
Setelah tiga partai teratas, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meraih elektabilitas 7,1 persen. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memperoleh 5,8 persen, disusul Partai Demokrat dengan 5,4 persen.
Nasdem mencatat elektabilitas 3,9 persen, sedangkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memperoleh 2,9 persen. Partai Amanat Nasional (PAN) meraih 2,2 persen dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memperoleh 1,6 persen.
Adapun Perindo mencatat 0,5 persen dan Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) memperoleh 0,3 persen. Hanura meraih 0,2 persen, sementara Partai Ummat, PBB, Garuda, PKN, dan Partai Buruh masing-masing mencatat 0,1 persen.
Angka tidak tahu atau tidak menjawab mencapai 24,2 persen. Besarnya kelompok ini menunjukkan masih ada responden yang belum menentukan pilihan atau tidak menyampaikan preferensi partainya.
Tujuh Partai Berpeluang Lolos ke DPR
Hasil survei tersebut juga memberikan gambaran mengenai peluang partai politik melewati ambang batas parlemen. Jika ketentuan ambang batas tetap sebesar 4 persen, tujuh partai berpotensi memperoleh kursi di DPR berdasarkan elektabilitas survei.
Hanta Yuda menyebut Gerindra, PDI-P, Golkar, PKB, PKS, Demokrat, dan Nasdem sebagai partai yang berpeluang besar lolos ke parlemen.
"Kalau dilihat datanya, Nasdem, Demokrat, PKS, PKB, Golkar, PDI-P, dan Gerindra berpotensi besar lolos di parlemen, kalau angkanya (ambang batas parlemen) tetap di 4 persen," jelas Hanta.
Namun, hasil survei tidak menjamin perolehan kursi pada pemilu mendatang. Elektabilitas dapat berubah mengikuti perkembangan politik, kinerja partai, pilihan kandidat, dan dinamika kampanye.
Partai-partai dengan angka di bawah 4 persen menghadapi tantangan lebih besar jika ketentuan tersebut tetap berlaku. Karena itu, hasil survei dapat menjadi bahan evaluasi bagi partai dalam menyusun strategi untuk memperluas dukungan pemilih.
Kepercayaan kepada Prabowo-Gibran Naik Menjadi 64,8 Persen
Selain memotret elektabilitas partai, survei Poltracking mengukur kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Hasilnya menunjukkan 64,8 persen responden menyatakan percaya terhadap pemerintahan saat ini.
Angka tersebut terdiri atas 10,8 persen responden yang menyatakan sangat percaya dan 54 persen yang menyatakan cukup percaya. Tingkat kepercayaan ini meningkat dibandingkan hasil survei Agustus 2026 yang mencapai 63,2 persen.
Kenaikan tersebut mencapai 1,6 poin persentase. Meski demikian, Poltracking mencatat tingkat kepercayaan publik pada Oktober cenderung stabil dibandingkan dua bulan sebelumnya.
Survei itu juga mengukur keyakinan masyarakat terhadap arah kebijakan pemerintah. Sebanyak 61,3 persen responden percaya bahwa kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran pada dasarnya bertujuan memperbaiki kehidupan masyarakat kecil.
Sementara itu, 62,1 persen responden menilai pemerintah serius menyelesaikan persoalan masyarakat. Angka tersebut terdiri atas 12,4 persen yang menilai pemerintah sangat serius dan 49,7 persen yang menilai cukup serius.
Dalam aspek kepemimpinan, sebanyak 64,7 persen responden menilai Prabowo memiliki posisi kuat dalam memimpin dan mengendalikan jalannya pemerintahan.
Kepercayaan Publik Lebih Tinggi daripada Kepuasan Kinerja
Poltracking mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintahan berada pada angka 55,3 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan tingkat kepercayaan publik sebesar 64,8 persen.
Selisih tersebut mencapai 9,5 poin persentase. Temuan ini menunjukkan bahwa keyakinan masyarakat terhadap pemerintah belum sepenuhnya sejalan dengan penilaian mereka terhadap hasil kerja yang dirasakan.
Kepercayaan mencerminkan keyakinan responden terhadap kepemimpinan dan arah pemerintahan. Sementara itu, kepuasan kinerja lebih berkaitan dengan penilaian masyarakat terhadap pelaksanaan kebijakan dan hasil yang mereka rasakan.
Perbedaan kedua indikator tersebut penting untuk membaca persepsi publik secara lebih menyeluruh. Tingkat kepercayaan yang relatif tinggi tidak otomatis berarti masyarakat telah puas terhadap seluruh kebijakan pemerintah.
Karena itu, pemerintah tetap perlu memperhatikan hasil evaluasi publik terhadap pelayanan, kondisi ekonomi, dan penyelesaian persoalan masyarakat. Konsistensi pelaksanaan kebijakan dapat memengaruhi perkembangan kepercayaan dan kepuasan pada survei berikutnya.
Metode Survei Poltracking Indonesia
Poltracking Indonesia melaksanakan survei pada 30 September hingga 7 Oktober 2026 melalui wawancara tatap muka. Survei tersebut melibatkan 1.220 warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih.
Peneliti menggunakan metode multistage random sampling untuk menarik sampel. Survei ini memiliki margin of error sekitar Β±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Dengan batas kesalahan tersebut, angka survei perlu dibaca sebagai estimasi dukungan dan persepsi masyarakat, bukan hasil pemungutan suara. Perbedaan angka antarpihak juga perlu ditafsirkan dengan mempertimbangkan ketidakpastian statistik.
Secara keseluruhan, survei Oktober 2026 memperlihatkan keunggulan Gerindra dalam elektabilitas partai dan tingkat kepercayaan yang relatif tinggi terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun, selisih antara kepercayaan dan kepuasan kinerja menunjukkan bahwa persepsi positif masyarakat masih perlu diikuti hasil kebijakan yang nyata.( dari berbagai sumber)
Penulis: Nurul Huda
Advertisement