Kanker Payudara Pria, Kenali Gejala, Faktor Risiko, dan Pentingnya Deteksi Dini
Apa sih kanker payudara priaPertanyaan ini masih sering muncul di masyarakat. Banyak orang mengira kanker payudara hanya menyerang perempuan. Padahal, pria juga memiliki jaringan payudara di sekitar puting sehingga tetap berisiko mengalami penyakit ini, meski jumlah kasusnya jauh lebih sedikit.
Data tahun 2022 menunjukkan kanker payudara menjadi kanker paling banyak dialami perempuan di dunia. Terdapat sekitar 2,3 juta kasus baru dengan sekitar 670 ribu kematian. Di Indonesia, jumlah kasus kanker payudara mencapai sekitar 66 ribu kasus. Di sisi lain, kanker payudara pada pria hanya menyumbang sekitar satu persen dari seluruh kasus kanker payudara. Meski demikian, angka tersebut tidak boleh membuat masyarakat lengah karena sebagian besar kasus pada pria baru terdiagnosis ketika memasuki stadium lanjut.
Kondisi itu terjadi karena banyak pria tidak menyadari bahwa mereka juga dapat mengalami kanker payudara. Akibatnya, benjolan atau perubahan pada area dada sering diabaikan hingga penyakit berkembang lebih jauh. Dalam artikel Kanker Payudara pada Pria yang ditulis Dewi Sartika A.Md dari RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang menyebut secara sederhana, penyakit ini merupakan pertumbuhan sel abnormal pada jaringan payudara pria yang berkembang tanpa terkendali. Sel-sel tersebut kemudian membentuk tumor dan dapat menyebar ke organ lain apabila tidak segera ditangani.
Jenis yang paling sering ditemukan pada pria adalah Invasive No Special Type (NST) atau karsinoma invasif tanpa tipe khusus. Pada kondisi ini, sel kanker berasal dari jaringan payudara kemudian berkembang ke jaringan di sekitarnya. Menurut Cancer Research UK, meskipun struktur payudara pria lebih kecil dibanding perempuan, jaringan tersebut tetap dapat menjadi tempat berkembangnya sel kanker. Karena itu, setiap perubahan pada area puting dan payudara tetap perlu mendapat perhatian.
Para ahli mengatakan faktor genetik memiliki pengaruh paling besar terhadap kanker payudara pria. Mutasi pada gen dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ini. Pria yang memiliki anggota keluarga dekat dengan riwayat kanker payudara memiliki peluang lebih besar terkena penyakit serupa. Risiko tersebut bahkan dapat meningkat dua hingga lima kali lipat dibanding populasi umum. Oleh karena itu, dokter sering menyarankan konseling genetik bagi keluarga dengan riwayat kanker yang kuat.
Gangguan Hormon Juga Berperan Besar
Selain faktor keturunan, perubahan hormon dapat meningkatkan risiko kanker payudara pada pria. Kadar estrogen yang terlalu tinggi atau kadar testosteron yang rendah menjadi salah satu pemicunya. Beberapa kondisi kesehatan dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon tersebut. Misalnya obesitas, gangguan fungsi hati, sindrom Klinefelter, gangguan testis, ginekomastia, hingga penggunaan obat hormonal dalam jangka panjang.
Menjaga berat badan ideal dapat membantu menurunkan risiko berbagai jenis kanker yang berkaitan dengan hormon, termasuk kanker payudara.
Faktor lingkungan juga ikut memengaruhi munculnya kanker payudara pria. Paparan radiasi dalam jangka panjang diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit ini. Beberapa penelitian menemukan angka kejadian lebih tinggi pada pekerja industri logam yang terpapar radiasi dan panas secara terus-menerus. Paparan tersebut diduga memengaruhi fungsi testis dalam menghasilkan hormon testosteron.
Konsumsi alkohol berlebihan juga meningkatkan risiko. Beberapa studi menunjukkan pria yang mengonsumsi lebih dari 90 gram alkohol setiap hari memiliki risiko jauh lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mengonsumsinya.
Karena itu, menerapkan gaya hidup sehat menjadi langkah penting dalam menurunkan risiko penyakit. Mengurangi konsumsi alkohol, menjaga berat badan, dan rutin berolahraga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan secara keseluruhan.
Apa Saja Gejalanya
Gejala kanker payudara pada pria sebenarnya hampir sama dengan perempuan. Sayangnya, banyak penderita menganggap perubahan tersebut sebagai masalah biasa.Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain muncul benjolan keras di sekitar puting, benjolan sulit digerakkan, serta ukurannya cepat membesar. Puting juga dapat tertarik ke dalam, memerah, atau mengalami pembengkakan.
Gejala lain meliputi luka yang tidak kunjung sembuh, keluarnya cairan atau darah dari puting, hingga muncul benjolan pada ketiak akibat pembesaran kelenjar getah bening.Pada stadium lanjut, penderita dapat mengalami sesak napas, nyeri tulang, sakit kepala, mual, muntah, kelelahan berkepanjangan, hingga kulit dan mata menguning. Kondisi tersebut menunjukkan kemungkinan penyebaran kanker ke organ lain seperti paru-paru, hati, tulang, atau otak.
Untuk itu deteksi dini penting dilakukan. Dokter menangani kanker payudara pria dengan pendekatan yang hampir sama seperti pada perempuan. Pilihan terapi bergantung pada stadium penyakit, ukuran tumor, serta penyebarannya. Operasi menjadi terapi utama yang paling sering dilakukan. Dokter biasanya melakukan mastektomi radikal, yaitu mengangkat jaringan payudara beserta kelenjar getah bening di sekitarnya.
Setelah operasi, pasien dapat menjalani kemoterapi, radioterapi, terapi hormonal, atau terapi target sesuai kondisi medisnya. Pada stadium lanjut, tim medis juga memberikan terapi paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Peluang kesembuhan meningkat apabila kanker ditemukan sejak stadium awal. Karena itu, setiap benjolan atau perubahan pada payudara pria sebaiknya segera diperiksa oleh tenaga kesehatan. Untuk itu kesadaran menjadi kunci utama dalam menghadapi kanker payudara pria. Penyakit ini memang jarang terjadi, tetapi bukan berarti mustahil menyerang laki-laki.
Semakin cepat seseorang mengenali gejala dan memeriksakan diri, semakin besar peluang pengobatan berhasil. Sebaliknya, menunda pemeriksaan justru meningkatkan risiko penyakit berkembang ke stadium lanjut.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement