Waspada Nyeri Leher Akibat Saraf Kejepit, Kenali Gejala dan Penanganannya
Nyeri leher akibat saraf kejepit semakin sering muncul di tengah kebiasaan masyarakat menggunakan perangkat digital. Posisi menunduk terlalu lama dapat memberi tekanan tambahan pada tulang belakang leher. Kondisi ini sering dianggap sebagai pegal biasa, padahal nyeri yang menetap dapat menandakan gangguan pada bantalan tulang belakang.
Dalam tulisannya berjudul Waspada Nyeri Leher Akibat Saraf Kejepit , Samuel Gunawan Hutajulu dari RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta menjelaskan penyebab, gejala, penanganan, hingga kemungkinan tindakan operasi.
Seperti diketahui leher salah satu fingsinya adalah menopang kepala sekaligus membantu tubuh melakukan berbagai gerakan. Karena itu, bagian tubuh tersebut menerima beban cukup besar dalam aktivitas sehari-hari. Penggunaan ponsel, komputer, dan perangkat digital dapat memperburuk tekanan jika seseorang mempertahankan posisi tubuh yang kurang baik.
Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian ialah adanya Cervical Herniated Nucleus Pulposus (CHNP) atau yang popular dengan sebutan saraf kejepit pada leher. Kondisi ini terjadi ketika bantalan antar ruas tulang belakang mengalami penonjolan dan menekan saraf di sekitarnya.
Nyeri akibat kondisi tersebut dapat mengganggu berbagai aktivitas. Penderitanya dapat mengalami kesulitan saat bekerja, mengemudi, beristirahat, bahkan tidur. Selain nyeri, keluhan juga dapat menjalar dari leher menuju bahu, lengan, hingga tangan.
Waspada Nyeri Leher Akibat Saraf Kejepit pada Usia Produktif
Menurut tulisan Samuel Gunawan Hutajulu, saraf kejepit dapat muncul pada kelompok usia produktif. Kondisi tersebut banyak berkaitan dengan proses degeneratif pada tulang belakang. Namun, faktor gaya hidup dan cedera juga dapat meningkatkan risikonya.
Bantalan antarruas tulang belakang memiliki kandungan air yang membuatnya lentur. Seiring bertambahnya usia, kandungan tersebut dapat berkurang. Akibatnya, bantalan menjadi kurang fleksibel dan lebih mudah mengalami kerusakan.
Ketika bantalan mengalami retakan atau robekan, bagian dalamnya dapat menonjol keluar. Tonjolan tersebut kemudian dapat menekan akar saraf. Tekanan inilah yang dapat memunculkan nyeri dan gangguan saraf pada leher.
Proses penuaan bukan satu-satunya penyebab saraf kejepit pada leher. Kebiasaan sehari-hari juga dapat memberikan tekanan tambahan pada tulang belakang. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan pola hidup dan cara menggunakan tubuh.
Kebiasaan merokok, kurang berolahraga, serta pola makan dengan nutrisi kurang seimbang dapat memengaruhi kesehatan tubuh. Selain itu, postur yang buruk dapat meningkatkan beban pada struktur leher.
Cedera juga dapat memicu masalah tersebut. Aktivitas tertentu yang melibatkan gerakan leher secara berlebihan dapat meningkatkan tekanan pada bantalan tulang belakang. Karena itu, seseorang perlu menggunakan teknik tubuh yang tepat ketika melakukan aktivitas fisik.
Kenali Gejalanya
Gejala CHNP dapat muncul secara tiba-tiba. Nyeri terkadang muncul setelah seseorang menggerakkan leher dalam posisi tertentu. Pada kondisi lain, keluhan dapat bertahan selama beberapa minggu.
Nyeri juga dapat menjalar dari leher menuju salah satu lengan. Dalam beberapa kasus, keluhan dapat mengenai kedua lengan. Kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya iritasi atau tekanan pada akar saraf.
Selain itu, intensitas nyeri dapat berubah mengikuti aktivitas. Sebagian penderita merasakan keluhan berkurang ketika beristirahat. Sebaliknya, aktivitas tertentu dapat membuat nyeri terasa lebih berat.
Yang Harus Diwapadai Akibat Saraf Kejepit yang Menetap
Nyeri leher yang terus berlangsung membutuhkan perhatian lebih. Apalagi jika keluhan mulai menjalar menuju bahu, lengan, atau tangan. Pemeriksaan dokter penting untuk memastikan penyebab keluhan tersebut.
Gejala saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis CHNP. Dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat meminta pemeriksaan penunjang.
Langkah tersebut membantu dokter menentukan kondisi tulang belakang dan saraf. Dengan diagnosis yang tepat, dokter dapat memilih penanganan sesuai kondisi setiap pasien. Penanganan CHNP bergantung pada tingkat keparahan gejala. Pasien dengan keluhan ringan hingga sedang umumnya memperoleh penanganan konservatif terlebih dahulu. Dokter dapat memberikan obat sesuai kebutuhan dan kondisi pasien.
Obat antinyeri dapat membantu mengurangi keluhan. Dokter juga dapat mempertimbangkan obat untuk mengurangi spasme otot atau nyeri yang berkaitan dengan gangguan saraf. Penggunaan obat harus mengikuti pemeriksaan dan anjuran tenaga medis.
Selain obat, dokter dapat menyarankan terapi fisik. Aktivitas fisik yang sesuai dapat membantu menjaga fungsi tubuh dan mendukung proses pemulihan. Fisioterapis juga dapat membantu pasien melakukan latihan dengan teknik yang tepat.
Samuel Gunawan Hutajulu dalam tulisannya juga membahas teknik dalam terapi fisik. Salah satunya ialah pendekatan Butler yang menggunakan gerakan tertentu untuk membantu mobilitas saraf. Namun, pasien sebaiknya mempelajari teknik tersebut melalui tenaga profesional.
Waspada Nyeri Leher Akibat Saraf Kejepit dan Jangan Abaikan Gejala
Masyarakat perlu mengenali perbedaan antara pegal biasa dan keluhan yang menetap. Nyeri yang terus muncul atau menjalar membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Apalagi jika keluhan muncul bersama kelemahan pada anggota gerak.
Pencegahan juga dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Pertahankan postur tubuh yang baik saat bekerja dan menggunakan perangkat digital. Berikan waktu istirahat ketika tubuh berada dalam posisi yang sama terlalu lama.
Selain itu, jaga aktivitas fisik dan pola hidup sehat. Hindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko gangguan tulang belakang. Jika nyeri leher terus berulang, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter.
Dengan mengenali nyeri leher akibat saraf kejepit sejak awal, masyarakat dapat mengambil langkah yang lebih tepat. Pemeriksaan medis tetap menjadi dasar untuk menentukan penyebab dan penanganan. Jangan menunda pemeriksaan ketika nyeri mengganggu aktivitas atau muncul bersama gangguan fungsi saraf.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement