Hari Tani Nasional, Produktivitas Padi Wonokalang Sidoarjo Capai 9,5 Ton per Hektar
Di tengah tantangan regenerasi petani, Desa Wonokalang, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, justru menunjukkan sektor pertanian masih memiliki peluang ekonomi yang menjanjikan. Sekitar 90 hektare lahan pertanian di desa tersebut mampu dimanfaatkan hingga tiga kali musim tanam dalam setahun. Produktivitasnya pun terbilang tinggi, mencapai sekitar 9,5 ton gabah per hektare.
Potensi tersebut menjadi perhatian dalam momentum Hari Tani Nasional. Kemampuan petani Wonokalang memaksimalkan lahan dinilai dapat menjadi salah satu gambaran bahwa peningkatan produktivitas pertanian tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pola tanam, sarana pendukung, dan mekanisasi.
Anggota DPR RI Komisi VII Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengatakan, kemampuan mencapai tiga musim tanam dalam setahun perlu ditopang dengan ketersediaan alat dan mesin pertanian agar proses pengolahan lahan hingga panen dapat berlangsung lebih cepat.
βUntuk mencapai percepatan musim tanam ketiga atau tiga kali panen, tentu harus diimbangi dengan mekanisasi. Karena itu, saya akan menyampaikan kebutuhan tambahan traktor ini kepada Kementerian Pertanian,β kata BHS saat menghadiri kegiatan musim tanam di Wonokalang, Sabtu, 26 September 2026.
BHS menilai peningkatan produksi juga harus dibarengi dengan dukungan dari sisi hulu dan hilir. Ketersediaan pupuk, sistem pompanisasi, mekanisasi, serta harga gabah yang memberikan keuntungan bagi petani menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian.
Ia menyebut harga gabah di tingkat petani saat ini dapat mencapai sekitar Rp7.700 per kilogram. Angka tersebut berada di atas harga pembelian pemerintah yang disebut sekitar Rp6.500 per kilogram.
βIni menunjukkan bahwa harga gabah sebenarnya mampu memberikan semangat kepada petani untuk terus bercocok tanam. Dengan dukungan pupuk dan pompanisasi, kita berharap produktivitas pertanian semakin meningkat,β ujarnya.
Tidak Semua Wilayah Sidoarjo Bisa Tiga Kali Tanam
Kemampuan Wonokalang melakukan tiga kali musim tanam dalam setahun ternyata tidak menjadi kondisi umum di seluruh wilayah Kabupaten Sidoarjo. Kepala Bidang Pengembangan Produksi Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Pengendalian Bencana Pertanian Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Sidoarjo, Mokhamad Rudy Al Amin, menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi karakteristik wilayah serta dukungan sarana dan prasarana pertanian.
Menurut Rudy, indeks pertanaman di Kabupaten Sidoarjo secara umum berada di kisaran 1,5. Karena itu, kemampuan Wonokalang mencapai tiga kali musim tanam menjadi kondisi yang relatif spesifik.
βTidak semua desa bisa tanam tiga kali. Di Sidoarjo ini indeks pertanamannya sekitar 1,5, sehingga Wonokalang ini spesifik bisa tanam tiga kali dan produksinya bagus dengan dukungan sarana prasarana yang ada,β kata Rudy.
Kondisi tersebut membuat optimalisasi lahan pertanian di Wonokalang menjadi salah satu potensi yang dapat terus dikembangkan. Dengan dukungan sarana produksi dan mekanisasi, waktu tanam dapat ditekan sehingga lahan memiliki peluang menghasilkan produksi lebih banyak dalam satu tahun.
Di sisi lain, keberlanjutan pertanian tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan gabah dalam jumlah besar. Persoalan kesejahteraan petani juga menjadi bagian penting, terutama ketika sektor pertanian menghadapi tantangan regenerasi.
Camat Wonoayu, Anwar, mengatakan kebijakan pemerintah terkait pupuk dan harga hasil pertanian dapat berpengaruh terhadap minat generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian.
Menurutnya, semakin baik pendapatan yang diperoleh petani, semakin besar pula peluang sektor pertanian dipandang sebagai pilihan pekerjaan yang memiliki prospek oleh generasi muda.
βDengan turunnya harga pupuk dan naiknya harga hasil pertanian, terutama gabah, ini akan memberi dukungan yang luar biasa kepada pemuda untuk turun aktif dalam bidang pertanian,β ujar Anwar.
Ia berharap produktivitas lahan dan pendapatan petani di wilayah Wonoayu dapat terus dipertahankan. Dengan demikian, pertanian tidak hanya menjadi pekerjaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya, tetapi juga dapat berkembang menjadi sektor ekonomi yang menarik bagi generasi muda.
Advertisement