Dari Modal Rp50 Ribu, Nurul Huda Bertahan 44 Tahun Menjaga Batik Tulis Sidoarjo
Sebelum dikenal sebagai pemilik Galeri Batik Tulis Al-Huda, Nurul Huda hanyalah seorang pelajar SMA yang mencoba mengembangkan usaha dengan modal Rp50.000. Kini, setelah lebih dari empat dekade berlalu, perjalanan tersebut membawanya menjadi salah satu perajin yang aktif menjaga keberlangsungan batik tulis Sidoarjo.
Bukan hanya memproduksi batik, Huda juga membuka pelatihan, menciptakan lapangan pekerjaan hingga memberi kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
Saat ditemui Ngopibareng.id di Galeri Batik Tulis Al-Huda, kompleks Perumahan Sidokare Asri, Desa Sepande, Sidoarjo, Sabtu, 26 September 2026, Nurul Huda mengenang awal perjalanannya membatik pada 1982.
Kala itu, ia masih duduk di kelas II SMA. Modal Rp50.000 yang diberikan keluarga menjadi titik awalnya mengenal dunia usaha batik.
"Rp50.000 itu kalau dibelikan kain untuk baju dapat 14. Lain-lainnya saya harus mencari sendiri," kata Huda.
Belum memiliki kemampuan desain maupun pemasaran, ia tetap mencoba memproduksi batik secara sederhana. Hasilnya kemudian ditawarkan kepada guru-gurunya di sekolah. Dari penjualan tersebut, Huda bisa membantu membayar biaya pendidikan hingga melanjutkan kuliah.
Perjalanan itu berlanjut ketika ia menjadi mahasiswa. Setelah lulus, Huda sempat menjadi asisten dosen selama sekitar enam bulan sebelum kemudian diangkat menjadi dosen. Namun, dunia akademik tidak membuatnya meninggalkan batik.
Ia justru terus mengembangkan usaha tersebut. Dari awalnya bekerja sendiri, Huda mulai mengajak dua orang untuk membantu proses mencanting dan pewarnaan. Usaha kecil itu perlahan tumbuh. Pemasarannya meluas dari Sidoarjo ke Surabaya, Madura, Malang, hingga sejumlah daerah lainnya.
Pada 1998, jumlah pekerjanya disebut telah mencapai sekitar 20 orang. Perkembangan terus berlanjut hingga sekitar 2010, ketika jumlah pekerja mencapai 50 orang.
Tak Ingin Batik Sidoarjo Hilang
Bagi Huda, perjalanan panjang tersebut tidak hanya tentang membesarkan usaha. Ia justru semakin khawatir ketika melihat sejumlah sentra batik di Sidoarjo mulai kehilangan aktivitas produksinya.
Huda menyebut, selain Jetis, Sidoarjo dahulu memiliki aktivitas batik di kawasan Sekardangan dan Jabon. Namun, menurut pengamatannya, dua kawasan tersebut kemudian tidak lagi menjadi sentra batik seperti sebelumnya.
Ia menilai salah satu persoalannya adalah pengetahuan membatik yang tidak diturunkan kepada generasi berikutnya.
"Yang membuat punah ternyata dulu itu juragannya tidak mau berkembang. Biasanya orangnya kolot, artinya tidak mau menularkan ilmu batik," ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat Nurul Huda memilih jalan berbeda. Setelah batik Indonesia mendapat pengakuan UNESCO pada 2009, ia ditunjuk sebagai ketua paguyuban dan koperasi batik di Sidoarjo. Momentum ini digunakan untuk mendorong pelestarian batik bukan hanya melalui pemakaian, tetapi juga melalui pendidikan dan regenerasi perajin.
Menurut Huda, batik tidak akan benar-benar lestari jika masyarakat hanya mengenakannya tanpa memahami bagaimana kain tersebut dibuat. Karena itu, ia membuka pelatihan membatik mulai dari proses desain, pencantingan, pewarnaan hingga menjadi pakaian.
Pelatihan tersebut kemudian berkembang dan diikuti masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Timur. Bahkan, pelajar dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi datang untuk belajar. Mahasiswa juga memanfaatkan tempat tersebut sebagai lokasi belajar dan mengerjakan tugas akhir.
Dari Sidoarjo Menyebarkan Batik ke Jawa Timur
Perjalanan Nurul Huda kemudian tidak berhenti di Sidoarjo. Ia mendapat kesempatan untuk membantu mengembangkan batik di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur melalui kegiatan pelatihan. Menurutnya, pengembangan batik daerah tersebut turut mendorong munculnya identitas batik di berbagai wilayah Jawa Timur.
Ia mengisahkan, pada masa pemerintahan Gubernur Jawa Timur Soekarwo, terdapat dorongan agar setiap kabupaten dan kota memiliki batik sebagai bagian dari identitas daerah. Huda kemudian terlibat dalam proses pengembangan dan pelatihan selama bertahun-tahun.
"Selama 10 tahun saya mengajar. Nah, sekarang ada batik seluruh Jawa Timur," katanya.
Bagi Huda, perkembangan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem batik, bukan sekadar menciptakan persaingan antar pelaku usaha. Ia mengakui, ketika ilmu membatik dibagikan kepada banyak orang, jumlah pelaku usaha otomatis bertambah. Namun, ia memilih melihatnya sebagai bagian dari penciptaan lapangan kerja.
"Saya tadi menciptakan lapangan kerja, membantu pemerintah. Saingan di mana-mana pasti ada," ujarnya.
Harga Batik Tulis hingga Jutaan Rupiah
Di Galeri Batik Tulis Al-Huda, harga kain batik yang diproduksi Nurul cukup beragam. Mulai sekitar Rp200.000 hingga lebih dari Rp5 juta, tergantung bahan, desain, tingkat pengerjaan dan karakter produk. Untuk sejumlah motif, ia bahkan membatasi produksinya hanya beberapa lembar agar memiliki nilai eksklusif.
"Limited edition. Saya menciptakan hanya tiga karena mereka nggak mau dikembari," katanya.
Menurut Huda, perbedaan batik tulis dengan kain bermotif batik hasil produksi massal dapat terlihat dari proses pembuatannya. Batik tulis dikerjakan secara manual menggunakan canting dan malam. Setiap garis membutuhkan ketelitian tangan perajin.
Proses tersebut dimulai dari pembuatan desain, pencantingan menggunakan canting, pencoletan warna, fiksasi, penutupan bagian tertentu dengan malam, pewarnaan dasar hingga pelorodan. Setelah malam dilepaskan menggunakan air panas, motif batik akan terlihat dan kain kemudian dijemur.
Untuk pewarnaan, terdapat pewarna alami maupun sintetis. Pewarna alami dapat berasal dari tanaman yang memiliki pigmen tertentu, sedangkan pewarna sintetis menggunakan bahan kimia seperti naftol dan garam.
Promosi dari Mulut ke Mulut
Menariknya, Huda tidak mengandalkan promosi digital sebagai satu-satunya cara memperkenalkan batiknya. Ia justru banyak memanfaatkan jaringan pelanggan dan promosi dari mulut ke mulut.
Ketika ada instansi yang membeli batik dalam jumlah besar, ia memberikan kesempatan kepada beberapa orang untuk mengenal produknya secara langsung. Dari sana, pembeli baru datang melalui rekomendasi.
Strategi lainnya dilakukan melalui sponsorship berbagai kegiatan, termasuk acara kampus dan kegiatan yang melibatkan figur publik. Menurut Nurul, kreativitas menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha.
"Manajemen itu tergantung kreativitas kita sebenarnya. Kalau di lapangan, tergantung kreativitas kita," tuturnya.
Memberi Kesempatan kepada Penyandang Disabilitas
Di antara para pekerja di galerinya, terdapat pula penyandang disabilitas yang diberi kesempatan untuk bekerja. Huda mengatakan, keputusan tersebut muncul karena ia melihat masih ada penyandang disabilitas yang kesulitan memperoleh pekerjaan meskipun memiliki keterampilan.
Selama mampu berkomunikasi dan memiliki kemampuan yang sesuai, ia memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja dan belajar.
"Mereka juga masa depannya bisa seperti kita-kita semua," ujarnya.
Menurutnya, pekerja berkebutuhan khusus tersebut tetap membutuhkan pendampingan dan pembelajaran dalam menjalankan pekerjaan. Bagi Huda, kesempatan bekerja bukan sekadar persoalan mendapatkan penghasilan, tetapi juga memberikan ruang agar mereka dapat berkembang dan memiliki masa depan.
Tantangan Batik Bukan Sekadar Persaingan Produk
Memasuki era modern, Huda menilai tantangan terbesar batik bukan hanya persaingan dengan produk printing. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membuat generasi muda tetap mengenal dan mencintai budaya membatik.
Karena itu, ia mendorong kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha batik melalui berbagai kegiatan yang melibatkan anak-anak hingga remaja.
"Budaya batik ini kan diakui dunia. Bagaimana cara kita melestarikan? Kita harus berkolaborasi antara UKM batik dengan pemerintah," katanya.
Menurutnya, kegiatan seperti pameran, pelatihan, festival, hingga kebijakan penggunaan batik dapat menjadi cara untuk menjaga keberlangsungan industri batik.
Empat puluh empat tahun setelah memulai usaha dengan modal Rp50.000, Nurul Huda kini tidak hanya berbicara tentang kain dan motif. Perjalanannya menjadi cerita tentang bagaimana sebuah keterampilan tradisional dapat menjadi sumber penghidupan, membuka lapangan kerja, menjadi ruang belajar, sekaligus memberi kesempatan kepada mereka yang selama ini memiliki keterbatasan akses pekerjaan.
Bagi Nurul Huda, menjaga batik tetap hidup berarti memastikan ilmu di balik setiap goresan canting tidak ikut hilang ditelan zaman.
Advertisement