Kekeringan di Bojonegoro, Tambak Ikan Mulai Mengering
Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai berdampak pada usaha budi daya ikan. Sejumlah tambak ikan dan kolam pancing dilaporkan mengalami penyusutan air, sehingga pemilik tambak terpaksa memanen ikan sebelum mencapai masa panen yang seharusnya.
Kondisi tersebut terjadi di sejumlah lokasi, termasuk wilayah Kecamatan Bojonegoro Kota dan Kecamatan Kapas. Di tengah kemarau panjang, keterbatasan air menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pemilik tambak untuk mempertahankan ikan yang dipelihara.
Lokasi tambak yang terdampak antara lain berada di Kelurahan Ledok Kulon, Jetak, Klangon, Pacul, dan Sumbang, Kecamatan Bojonegoro Kota. Sementara di Kecamatan Kapas, lokasi yang disebutkan meliputi Desa Kalianyar dan Desa Wedi.
Dampak kekeringan terhadap tambak ikan menambah persoalan yang harus ditangani pemerintah daerah, selain kebutuhan air bersih bagi masyarakat.
Tambak Kekurangan Air, Pemilik Terpaksa Panen Ikan
Salah satu pemilik tambak di Kelurahan Klangon, Kecamatan Bojonegoro Kota, Susilo, mengatakan dirinya terpaksa mengurangi jumlah ikan yang dipelihara. Langkah tersebut dilakukan karena ketersediaan air di tambak semakin terbatas.
βTerpaksa kami panen, karena air di tambak tinggal sedikit,β ujar Susilo kepada Ngopibareng.id, Jumat 25 September 2026.
Susilo menjelaskan, tambak yang dipanennya berisi beberapa jenis ikan, antara lain patin, nila, bawal, dan tombro. Ikan-ikan tersebut dipanen lebih awal untuk mengurangi risiko kematian akibat kondisi air yang tidak mencukupi.
Menurutnya, pemilik tambak lainnya juga melakukan langkah serupa selama kemarau panjang. βTerpaksa kami jual karena takut mati sia-sia jika tidak dipanen,β imbuhnya.
Panen lebih awal menjadi pilihan pemilik tambak untuk menyelamatkan ikan yang masih dipelihara. Namun, keputusan tersebut berpotensi memengaruhi waktu pemeliharaan dan hasil budi daya ikan.
BPBD Bojonegoro Distribusikan 626 Tangki Air Bersih
Di tengah dampak kekeringan yang meluas, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat penanganan kebutuhan air bersih bagi warga terdampak.
Hingga 24 September 2026, BPBD Bojonegoro telah mendistribusikan 626 tangki atau sekitar 3.130.000 liter air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.
Distribusi tersebut, berdasarkan data yang disampaikan, menjangkau 74 desa yang tersebar di 19 kecamatan. Penanganan ini melibatkan BPBD serta dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan lembaga kemasyarakatan.
Cakupan penanganan kekeringan pada 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, penanganan disebut mencakup 14 desa di 13 kecamatan.
Pemerintah daerah menyatakan seluruh wilayah terdampak telah mendapatkan pengiriman air bersih melalui dukungan berbagai pihak.
Kemarau 2026 Diperkirakan Lebih Kering
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bojonegoro, Heru Wicaksi, mengatakan peningkatan cakupan penanganan kekeringan sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menurut Heru, kondisi kemarau 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Karena itu, BPBD tidak hanya mengandalkan pendistribusian air bersih, tetapi juga melakukan langkah antisipasi dan penanganan di wilayah terdampak.
BPBD Bojonegoro juga mengandalkan layanan call center Pusdalops sebagai kanal pengaduan masyarakat. Layanan tersebut beroperasi selama 24 jam untuk mendukung respons terhadap kebutuhan penanganan bencana.
βAir bersih merupakan kebutuhan dasar sehingga pemenuhannya harus diprioritaskan,β kata Heru Wicaksi kepada media.
Ketersediaan kanal pengaduan menjadi bagian dari upaya mempercepat komunikasi antara masyarakat terdampak dan petugas penanganan kekeringan.
Advertisement