Kebakaran Ranu Kembang Picu Penutupan Jalur Pendakian Gunung Semeru
Kebakaran hutan terjadi di kawasan jalur pendakian Gunung Semeru, Jawa Timur, tepatnya di Blok Ranu Kembang pada Rabu 26 Agustus 2026. Kebakaran tersebut berdampak pada penutupan total jalur pendakian Gunung Semeru, termasuk akses menuju Ranu Kumbolo.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup seluruh aktivitas pendakian Gunung Semeru hingga batas waktu yang belum ditentukan. Kebijakan tersebut dilakukan demi keselamatan pendaki sekaligus mendukung proses pemadaman kebakaran.
Lokasi kebakaran berada di Blok Ranu Kembang, kawasan yang berada di sekitar jalur pendakian menuju Danau Ranu Kumbolo. Sebelumnya, laporan kebakaran juga muncul di kawasan Bukit Sentong, Desa Ranupani.
Dengan adanya penutupan tersebut, pendaki untuk sementara tidak dapat melakukan perjalanan menuju Ranu Kumbolo maupun melanjutkan pendakian ke puncak Gunung Semeru.
Aktivitas Gunung Semeru Masih Dipantau
Selain persoalan kebakaran hutan, aktivitas vulkanik Gunung Semeru juga masih menjadi perhatian. Gunung Api Semeru berada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, dengan ketinggian mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Berdasarkan pengamatan, Gunung Semeru terlihat jelas. Asap kawah tidak teramati. Kondisi cuaca cerah hingga berawan dengan angin lemah menuju timur laut dan barat laut. Suhu udara di sekitar kawasan gunung berkisar 18-19 derajat Celsius.
Aktivitas kegempaan Gunung Semeru juga masih tercatat. Dalam periode pengamatan, terjadi 39 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10-22 mm dan durasi 71-153 detik.
Selain itu, tercatat 11 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-7 mm dan durasi 24-96 detik. Kemudian terdapat satu kali gempa hembusan dengan amplitudo 8 mm dan durasi 58 detik.
Aktivitas lainnya meliputi dua kali gempa harmonik dengan amplitudo 2-3 mm dan durasi 226-270 detik, serta tiga kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 6-25 mm, S-P 22-37 detik dan durasi 63-124 detik.
Rekomendasi Keselamatan Gunung Semeru
Seiring kondisi tersebut, masyarakat dan pendaki diminta mematuhi rekomendasi keselamatan di kawasan Gunung Semeru.
Pertama, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Kedua, masyarakat maupun wisatawan diminta tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
Ketiga, masyarakat diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
Kewaspadaan terutama diperlukan di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Potensi lahar juga perlu diwaspadai pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan.
Jalur Pendakian Semeru Ditutup hingga Waktu yang Belum Ditentukan
Penutupan jalur pendakian Gunung Semeru dilakukan setelah kebakaran hutan terjadi di Blok Ranu Kembang pada 26 Agustus 2026.
Dengan ditutupnya jalur pendakian Gunung Semeru, kawasan Ranu Kumbolo juga otomatis tidak dapat dikunjungi pendaki untuk sementara waktu.
Balai Besar TNBTS belum menetapkan kapan jalur pendakian akan kembali dibuka. Pembukaan jalur akan menyesuaikan kondisi kebakaran, proses penanganan di lapangan, serta faktor keselamatan di kawasan Gunung Semeru.
Karena itu, calon pendaki diimbau tidak memaksakan diri memasuki kawasan yang sedang ditutup dan menunggu informasi resmi terkait pembukaan kembali jalur pendakian Gunung Semeru dan Ranu Kumbolo.