Takbiran Idul Fitri 2026 Bertepatan Nyepi, Muhammadiyah Bali Minta Tanpa Pengeras Suara
Perayaan malam takbiran Idulfitri 1447 Hijriah yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi pada Kamis, 19 Maret 2026, menjadi momentum penting bagi umat beragama di Provinsi Bali untuk menjaga toleransi dan ketertiban bersama.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bali, Husnul Fahmi, menyampaikan seruan bersama yang menekankan pentingnya menjaga keharmonisan antarumat beragama dalam pelaksanaan dua momen besar tersebut.
βSetelah melakukan beberapa kali pertemuan dengan Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali, kami selaras membuat seruan bersama bahwa umat Islam tetap diperbolehkan melaksanakan takbir, namun dengan beberapa catatan,β ujar Fahmi, Selasa 17 Maret 2026.
Aturan Pelaksanaan Takbiran Saat Nyepi
Dalam surat edaran FKUB, disebutkan bahwa pelaksanaan takbiran tetap diperbolehkan dengan sejumlah pembatasan, di antaranya:
Dilaksanakan di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki
Tidak menggunakan pengeras suara
Tidak menyalakan petasan atau bunyi-bunyian
Menggunakan penerangan secukupnya
Waktu pelaksanaan dibatasi pukul 18.00 hingga 21.00 WITA
Selain itu, pengamanan dan ketertiban kegiatan takbiran menjadi tanggung jawab pengurus masjid atau mushola dengan tetap berkoordinasi bersama aparat keamanan setempat.
Prajuru Desa Adat, pecalang, Linmas, serta aparat desa/kelurahan juga dilibatkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan Nyepi maupun takbiran secara sinergis.
Salat Idulfitri Dimundurkan
Sementara itu, pelaksanaan Idul Fitri di Bali akan mengalami penyesuaian waktu. Jika biasanya dimulai pukul 06.00 WITA, tahun ini salat Id dijadwalkan pukul 06.30 WITA.
Muhammadiyah Bali juga telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah daerah untuk menggunakan lapangan di depan kantor Gubernur Bali sebagai lokasi pelaksanaan salat Idulfitri.
Persiapan akan dilakukan satu hari sebelum Nyepi, dengan harapan umat Islam dapat hadir setelah batas waktu pelaksanaan Nyepi berakhir.
Momentum Perkuat Toleransi
Husnul Fahmi menegaskan bahwa bertepatannya malam takbiran dan Nyepi harus menjadi momentum untuk memperkuat nilai toleransi yang telah lama terjalin di Bali.
βKami menghimbau kepada warga Muhammadiyah khususnya dan umat Islam secara umum agar menjaga kerukunan antarumat beragama. Ini adalah bentuk toleransi yang sudah terjalin sejak lama dan harus terus dipertahankan serta ditingkatkan,β tegasnya.
Perpaduan dua momen keagamaan besar ini diharapkan semakin memperkokoh harmoni sosial di Bali, yang dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat toleransi antarumat beragama yang tinggi di Indonesia.
Advertisement