Pesantren Diusulkan Jadi Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO
Pondok pesantren akan diusulkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Hal tersebut terungkap saat Untuk itu Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan komitmennya untuk mendorong pesantren warisan dunia dengan mengusulkan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Menurutnya tradisi belajar ilmu agama di pesantren sebagai ekspresi kultural yang hidup dan harus negara jaga sebagai bagian dari identitas bangsa. alam keterangan resminya, Fadli menyatakan bahwa pesantren memiliki nilai historis dan sosial yang kuat. "Pesantren itu harus menjadi warisan budaya takbenda Indonesia, karena itu termasuk good practices," ujarnya.
Menurutnya, peluang untuk mengusulkan pesantren sebagai warisan budaya dunia melalui UNESCO terbuka luas. "Kita juga bisa mendorong pesantren menjadi warisan budaya dunia UNESCO lewat pengusulan, karena pesantren itu adalah ekspresi kultural dan peradaban yang memiliki ciri khas,β jelasnya.
Fadli menilai bahwa pengusulan pesantren sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dapat menjadi tonggak baru bagi pelestarian sistem pendidikan tradisional. Pesantren telah mendapat pengakuan sebagai lembaga yang membentuk karakter bangsa. Selain itu, Fadli optimistis bahwa pengakuan resmi akan memperkuat identitas budaya Indonesia sekaligus membuka jalan bagi pengakuan di tingkat global.
Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk melibatkan akademisi, peneliti, serta pengelola pesantren untuk merumuskan langkah strategis dalam proses pengusulan dan dokumentasi budaya tersebut. Dengan demikian, pesantren diharapkan tidak hanya diakui sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi bagi generasi mendatang.
Penguatan riset, dokumentasi sejarah, dan pembangunan museum tematik menjadi beberapa langkah awal yang disiapkan untuk mendorong proses pelestarian tersebut. Pemerintah berharap pesantren dapat menjadi simbol kekayaan intelektual dan kultural Indonesia yang diakui pada tingkat nasional maupun internasional
Kemudian Fadli menegaskan bahwa pengusulan tersebut memerlukan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Untuk itu, lanjutnya, setiap daerah memiliki kekayaan kearifan lokal yang perlu penelitian secara mendalam untuk memperkuat argumentasi pengusulan tersebut.
Maka dari itu Fadli sangat mendukung rencana aktivasi museum bertema pesantren dan pendidikan Islam. Dirinya menilai museum yang mengangkat sejarah pesantren harus mengedepankan elemen riset serta kurasi naratif. Selain itu juga desain ruang yang merepresentasikan nilai historis.
Fadli kemudian mencontohkan Museum Rahmah El Yunusiyah. Museum yang menempati rumah asli tokoh pendiri Diniyah Puteri, yakni Rahmah El Yunusiyah menurutnya sangat menarik. "Walaupun sederhana, semua itu bisa dijadikan museum yang menarik,β ungkapnya saat bertemu dengan Rektor Universitas Darussalam Gontor, Prof. Hamid Zarkasyi, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Rabu, 8 April.
Ia juga menyoroti rencana pengembangan Museum Gontor sebagai model yang dapat diikuti pesantren lain. Menurut Fadli, konsep museum berbasis pesantren dapat berkembang menjadi open museum dengan memanfaatkan bangunan atau lanskap yang telah ada. "Jadi memanfaatkan bangunan atau bentang alam yang sudah ada, seperti candi, gua, hingga sawah," katanya. Menurutnya, pelestarian tradisi pesantren melalui museum akan memperkuat posisi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang dinamis dan adaptif dalam menghadapi perubahan sosial.
Sekedar informasi pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional berasrama di Indonesia. Lembaga pendidikan tertua ini fokus pada pengajaran agama, karakter, dan studi kitab klasik (tafaqquh fi al-din). Dipimpin oleh kiai, pesantren mendidik santri mandiri melalui pola hidup asrama, masjid, dan kajian diniyah. Pesantren mencakup tipe Salaf (tradisional) hingga Modern.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement