Merajut Cinta dan Kedamaian Lewat Peringatan Hari Rumi Sedunia di Surabaya
Suasana spiritual dan penuh kekhidmatan terasa kental di kawasan Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya, Rabu 30 September 2026 malam. Alunan musik bernuansa Islami dan lantunan selawat mengiringi gerakan berputar para penari tari sufi yang menyedot perhatian warga setempat hingga para pengguna jalan yang melintas di sekitar area Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.
Kegiatan yang diselenggarakan tepat pada tanggal 30 September ini dihelat khusus untuk memperingati Hari Rumi Sedunia. Momentum tahunan ini dimanfaatkan oleh para seniman, budayawan, dan pecinta ajaran tasawuf untuk mengenang sosok penyair legendaris serta ulama mistikus Islam tersohor asal Persia, Jalaluddin Rumi.
Mengusung tema besar “Merajut Cinta, Damai dan Kemanusiaan” serta tagline “Cinta Melampaui Batas”, acara ini diinisiasi oleh komunitas Tari Sufi Nusantara Rumah Cinta Surabaya. Gelaran seni spiritual ini dipusatkan di Kompleks THR Surabaya, Jalan Kusuma Bangsa No. 116, mulai pukul 19.30 WIB.
Pelaksanaan kegiatan ini mendapat dukungan luas dari lintas komunitas dan lembaga kebudayaan di Jawa Timur. Di antaranya adalah Rukun Kampung Surabaya, FSP Parekraf, Dewan Kebudayaan, Kalanara, Sanggar Seni Omah Ndhuwur, hingga Sanggar Bledos Budaya. Kolaborasi berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa seni dan kebudayaan mampu menjadi ruang inklusif untuk menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan tanpa sekat latar belakang.
Penggerak komunitas Tari Sufi Nusantara Surabaya, Muhammad Dodik Sugiyanto—atau yang akrab disapa Dodik—menjelaskan bahwa sosok Rumi senantiasa mengajarkan nilai-nilai keterbukaan dan cinta kasih universal. "Kegiatan kali ini kita memperingati Hari Rumi Sedunia, bahwa kita harus selalu mengingat kelahiran Jalaluddin Rumi. Tanggal 30 September itu kelahirannya Jalaluddin Rumi," ujar Dodik di sela-sela acara.
Jalaluddin Rumi sendiri dikenal dunia melalui karya-karya puisinya yang banyak mengeksplorasi tema cinta ilahi, kerinduan jiwa, perjalanan batin, serta hubungan harmonis antara manusia dan Sang Pencipta. Dalam Tari Sufi Nusantara, nilai-nilai filsafat spiritual Rumi tersebut diterjemahkan secara puitis melalui gerak tari berputar (whirling dervish).
Pesan universal tersebut sejalan dengan ungkapan Rumi yang disematkan sebagai perenungan utama dalam acara ini: “Hati adalah rumah bagi Tuhan, pulangkanlah ia dengan cinta.” Dodik menegaskan bahwa tarian ini bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan bentuk zikir dan seruan perdamaian. "Untuk semangatnya itu biar kita selalu mencintai... cinta damai. Karena Jalaluddin Rumi kan mengajarkan seperti itu. Rumi itu enggak suka ributan. Kita harus cinta damai dan agamanya agama cinta. Kita cinta semuanya," tuturnya.
Gerakan tari sufi yang berkembang di Surabaya ini berakar dari jaringan Tari Sufi Nusantara berpusat di Semarang di bawah naungan Abah Budi Harjono. Saat ini Dodik dan para anggotanya tak pernah ragu untuk terus bergerilya. Sejak 2023, mereka konsisten membawa seni zikir berputar ini menyusuri masjid, mushola, hingga berbagai ruang publik kota. "Awal dari tahun 2023 hingga saat ini saya tetap bergerak di masjid-masjid. Di manapun, pokoknya asal kita boleh menari, kita menari," tutur Dodik mengenang konsistensinya menyebarkan pesan kedamaian ini.
Lebih jauh, Dodik membeberkan filosofi mendalam di balik busana dan gerakan para penari sufi yang penuh simbolik. Setiap elemen kostum menukil ingatan manusia akan hakikat kehidupan dan kematian. "Gerakannya itu sebetulnya bukan tari, tapi zikir. Tangan kanan di atas menjemput hidayah, yang kiri ke bawah menyalurkan hidayah," terang Dodik.
Ia menambahkan, "Kopyah tinggi ini ibarat patok kuburan. Baju putih ini kain kafan, dan sabuk hitam adalah simbol batas nafsu dunia dan akhirat."
Rangkaian pagelaran malam itu diawali dengan pembacaan biografi singkat perjalanan hidup Rumi, mulai dari kelahirannya di Balkh, pertemuannya yang mengubah jalan hidupnya dengan guru spiritualnya Shams ad-Din Tabrizi, hingga masa menetapnya di Konya, Anatolia. Pembacaan narasi sejarah ini memberi pemahaman historis bagi para penonton yang hadir.
Suasana kian syahdu saat gelaran dilanjutkan dengan pembacaan puisi-puisi maestro karya Rumi yang dibawakan secara teatrikal dengan iringan instrumen musik petik. Karya puitis bertajuk "Kembali Kepada Tuhan" dibawakan penuh penghayatan, menggugah perenungan batin para pengunjung.
"Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan," demikian petikan bait puisi Rumi yang bergema di tengah malam, mengajak setiap insan untuk terus berprasangka baik dan kembali kepada Sang Pencipta.
Di tengah laju kehidupan perkotaan yang semakin cepat dan bising, pergelaran seni sufi ini hadir menjadi ruang jeda spiritual bagi warga Surabaya. Acara ini memberi kesempatan bagi penonton untuk sejenak menengok ke dalam diri, seraya mengingat kembali bahwa cinta dan nilai kemanusiaan adalah fondasi utama dalam merawat kehidupan bermasyarakat.
Melalui peringatan ini, Rumah Cinta Surabaya ingin menegaskan bahwa seni kebudayaan tidak boleh berhenti sekadar sebagai tontonan panggung. Seni diharapkan terus menjadi medium hidup untuk merawat persaudaraan, menyemai optimisme, serta menghidupkan kesadaran bahwa setiap makhluk memiliki ruang untuk dihargai dan dicintai.
Advertisement