Oleh-Oleh Kunjungan dari Tiongkok: Masjid Al-Akbar Surabaya Rencanakan Museum Digital dan Manual
Ketua Badan Pelaksana Pengelola (BPP) Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), K.H. M. Sudjak, mengungkapkan, agenda muhibah ke Tiongkok pada Rabu hingga Selasa, 23β29 September 2026, memberikan banyak wawasan berharga.
Kunjungan yang memenuhi undangan resmi Konsulat Jenderal (Konjen) China di Surabaya ini mengusung misi βreligion and cultural exchangeβ (pertukaran keagamaan dan budaya). Dalam delegasi tersebut, Sudjak didampingi oleh Kabid Riayah BPP MAS, H.M. Qoderi, serta Staf Administrasi BPP MAS, M. Tantowi.
Dari serangkaian agenda peninjauan cagar budaya dan situs religi di sana, pengurus BPP MAS memetik pelajaran penting mengenai pentingnya merawat rekam jejak sejarah melalui pengelolaan museum yang modern dan terstruktur.
βSejarah itu penting untuk generasi yang akan datang agar tahu bahwa leluhurnya berjuang sesuai zamannya yang sangat tradisional dan manual yang harus menyatu dengan perjuangan saat ini yang serba teknologi dan digital,β ujar Sudjak saat dihubungi media di Surabaya pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Memaknai esensi historis tersebut, BPP MAS berencana memelopori ruang museum terpadu di area kompleks Masjid Al-Akbar Surabaya. Langkah ini diambil untuk menjembatani peninggalan fisik generasi terdahulu dengan pola belajar generasi muda yang berbasis digital, sehingga nilai-nilai sejarah dan keislaman dapat terus dipelajari secara interaktif.
βTentunya, terpadunya museum dengan model manual berupa benda dengan model digital berupa dokumen digital itu akan membuat generasi mendatang tidak tercerabut dari akar sejarah generasi masa lalu, sehingga Masjid Al-Akbar akan terpelihara dari generasi ke generasi,β tuturnya.
Inspirasi mengenai pemeliharaan sejarah ini didapatkan rombongan sejak hari pertama muhibah pada Rabu 23 September 2026 saat menyambangi Masjid Huaisheng di Guangzhou. Bangunan suci yang didirikan pada masa Dinasti Tang tersebut diperkirakan telah berusia lebih dari 1.300 tahun dan diakui sebagai salah satu rumah ibadah umat Islam tertua di dunia.
Keesokan harinya, Kamis 24 September 2026, delegasi MAS melanjutkan perjalanan ke Masjid Xianxian (Masjid Para Leluhur) di Distrik Yuexiu, Guangzhou. Kompleks ini merupakan cagar budaya sekaligus situs religi terbesar di wilayah setempat.
βKompleks masjid ini lebih luas daripada Masjid Huaisheng dan berisi makam Saβad bin Abi Waqqas (paman dan sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW yang membawa misi dakwah awal Islam ke Tiongkok), meski ada yang meyakini makam Abi Waqqas ada di Baqiβ Madinah, mungkin makam di China itu masih dzurriyah/keturunan Abi Waqqas,β paparnya.
Selain situs keagamaan, rombongan juga mengeksplorasi warisan sejarah dan peradaban Tiongkok dengan mengunjungi Masjid Fuzhou, Museum Budaya Pelayaran Tiongkok (sejarah maritime), Museum Peringatan Lin Zexu, Cagar Budaya Sanfang Qixiang (Tiga Alur dan Tujuh Gang), serta Taman Yuexiuβtaman publik tertua dan terluas di Guangzhou.
Rangkaian kegiatan resmi diisi pula dengan dialog antarlembaga bersama pimpinan Asosiasi Islam Fuzhou di Masjid Kota Fujian, pertemuan dengan pimpinan Kantor Urusan Luar Negeri Provinsi (Pemprov Fujian), hingga menghadiri resepsi peringatan hari kemerdekaan RRT ke-77 di Provinsi Fujian pada Senin 28 September 2026.
βDi Fuzhou, kami sempat menghadiri pertemuan dengan pimpinan Asosiasi Islam di Fuzhou yang bertempat di Masjid Kota Fujian, lalu bertemu dengan pimpinan Kantor Urusan Luar Negeri Provinsi (Pemprov Fujian),β tambah Sudjak.
Di samping tata kelola museum, pelajaran mendasar lain yang dipetik oleh Tim MAS adalah kesadaran kolektif antara pemerintah dan masyarakat Tiongkok dalam menjaga kebersihan lingkungan serta merawat tradisi lokal.
βPemerintah dan masyarakat sangat peduli dengan kebersihan dan keindahan, sehingga mereka tidak membuang sampah makanan di sembarang tempat,β jelasnya.
Penataan kebiasaan masyarakat setempat seperti budaya minum teh (baik teh hijau maupun teh hitam) yang dipadukan dengan pariwisata perkebunan gunung teh, hingga pengelolaan pariwisata alam berbasis konservasi, turut mendapat apresiasi tinggi dari pengurus MAS.
βUntuk pemeliharaan lingkungan ada wisata perahu bambu di Sungai Jiuqu, Nanping, yang airnya bersih, tebingnya besar, ikannya kelihatan dan dilarang ambil,β pungkasnya.
Advertisement