Kisah KH Abdul Rahman Ambo Dalle, Tokoh Besar yang Menggerakkan Pendidikan Islam
Penulis: Nurul Huda
Dalam sebuah acara di di Pondok Pesantren Al-Mubarak DDI Tobarakka, Kabupaten Wajo, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut nama KH. Abdul Rahman Ambo Dalle tokoh penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Menurut Menteri Agama KH Nasaruddin Umar ada tiga pesan penting yang juga menjadi fondasi perjuangannya yaitu pendidikan, perluasan akses pendidikan, dan penguatan moderasi beragama. Selain itu Menag menyebut AG. Ambo Dalle merupakan sosok ulama besar yang konsisten menyebarkan ajaran Islam yang toleran dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas. Untuk itu keteladanan yang perlu terus dirawat oleh generasi hari ini dan masa depan.
Dalam dakwah warisan dakwah AG. Ambo Dalle yang terkena; lembut, menyejukkan, serta berakar kuat pada kearifan lokal. Inilah nilai-nilai tersebut relevan untuk menjaga harmoni dan persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk. “Moderasi beragama itu bukan wacana, tapi pedoman hidup. Ini jalan tengah agar kita tetap rukun, saling menghormati, dan tidak mudah terprovokasi,” jelas Menteri Agama
Mengenal AG Ambo Dalle adalah mengenal sosok yang selalu lekat dengan perjuangan pendidikan Islam. Pada 1938, beliau telah mendirikan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI). Lembaga revolusioner dalam pendidikan Islam ini berdiri di Mangkoso, Soppeng setelah mendapat izin langsung dari gurunya. Madrasah itu memiliki jenjang tahdiriyah hingga tsanawiyah. Dengan dukungan Raja Mangkoso kala itu madrasah tersebut kemudian berkembang pesat. Santri berdatangan dari berbagai penjuru dam menjadi harapan baru bagi umat. Dari MAI inilah kemudian lahir organisasi Darud Da'wah wal Irsyad (DDI) yang menjadi cikal bakal organisasi jaringan pesantren modern. DDI saat ini telah menyebar di Sulawesi Selatan.
Dunia Pendidikan
Gurutta Ambo Dalle merupakan simbol anak zaman. Dia hidup dalam empat zaman, mulai dari zaman feodal, zaman Belanda, zaman Jepang hingga zaman kemerdekaan yang berhasil mencerdaskan murid-muridnya dan masyarakat luas pada umumnya melalui jalur pendidikan, dakwah dengan kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial yang dimilikinya. AG Ambo Dalle lahir tahun 1900 Desa Ujung, Wajo, Sulawesi Selatan. Keluarganya merupakan garis keturunan bangsawan Bugis. Mereka kental dengan nilai keagamaan dan adat istiadat. Ayahnya, Andi Ngati Daeng Patobo, mengajarkan tanggung jawab sejak dini. Sedangkan ibunya Andi Candara Dewi, seorang perempuan bangsawan menanamkan cinta pada Al-Qur'an di hati putranya.
Sejak kecil, Abdurrahman Ambo Dalle menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. Pendidikannya dimulai dari Volk School (sekolah rakyat kolonial). Selain itu juga belajar ilmu agama kepada KH. Muhammad As'ad Al-Bugisi. Gurunya dikenal sebagai Gurutta Puang Aji Sade. Bakatnya teruji ketika gurunya menguji murid secara lisan yang kemudian membuatnya diangkat menjadi asisten pengajar. Semangat belajarnya membawanya melanglang jauh ke negeri norang. Tahun 1935, ia menunaikan ibadah haji dan membuka pintu kemudian belajar di Mekkah. Di Tanah Suci ini belai mendalami fiqih, tasawuf, dan pemikiran Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Pendidikan formal dan informal membentuknya ulama pembaharu yang peka dinamika zaman.
Karyanya tidak berhenti hanya pada pendidikan. Ia menulis karya tasawuf mendalam. Risalahnya mengurai masalah akhlak dan spiritualitas. Karyanya menginspirasi tesis akademik. Selain itu juga aktif di politik Orde Baru namun tetap setia pada misi dakwah. Bahkan di akhir hayatnya, ia memimpin pesantren. Pengabdian Ambo Dalle melintasi empat era. Ia melewati era feodal, Belanda, Jepang, hingga kemerdekaan. Beliau wafat pada tahun 2003. Ia meninggalkan ribuan santri dan puluhan cabang DDI. Warisan ini mencerdaskan generasi Bugis-Makassar. Penghargaan tertinggi mencerminkan jasanya.
Ia menerima Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden B.J. Habibie tahun 1999. Penghargaan ini diberikan atas jasa pendidikan nasional. Ia juga mendapat gelar Tokoh Pendidik Bidang Agama Se-Indonesia Timur tahun 1986. Sosoknya selalu tampil merakyat dan familiar. Ia mengenakan jubah, jas, songkok, dan surban. Ia berinteraksi dengan petani, preman, dan pejabat.