Syekh Junaid, Ulama Masyhur Betawi Guru Para ulama
Oleh: Nurul Huda
Pada akhir abad 19 sangat banyak orang-orang Indonesia masyhur sebagai ulama di tanah suci Makkah. Mereka mempunyai ribuan murid yang datang dari berbagai negara. Salah satunya berasal dari Betawi. Syekh Junaid Al Batawi menjadi legenda bagi mereka yang menuntut ilmu di jantung Islam dunia tersebut. Ulama yang satu ini populer dengan sebutan “Syaikhul Masyaikh" atau guru dari para guru dalam dunia Islam.
Tentang tanggal lahirnya tidak ada data yang pasti. Namun Syekh Junaid lahir di Pekojan, Jakarta Barat. Menurut silsilah nasab KH Ahmadi Muhammad yang cucu Guru Manshur, Jembatan Lima, Jakarta menyebut Syekh Imam Damiri memiliki tiga anak yaitu Junaid, Abdul Hamid ayahanda Guru Manshur dan Hamim.
Julukan Syaikhul Masyayih bukan tanpa alasan karena diantara muridnya adalah nama-nama besar dalam keilmuan Islam. Menunut Ridwan Saidi, Syaikh Junaid mempunyai banyak murid yang kemudian menjadi ulama besar dunia Islam. Salah satunya adalah Syekh Nawawi Al-Bantani Al Jawi. Dalam silsilahnya Syekh Junaid al-Betawi masih keturunan darah biru. Nasabnya bersambung kepada Raden Fatah pendiri kerajaan Demak.
Menurut perkiraan beliau sudah bermukim di Makkah sejak tahun 1834, tanpa diketahui secara pasti kapan waktu hijrahnya. Jika data ini benar, berarti Syekh Junaid berhijrah ke Makkah dalam usia yang cukup matang, sekitar 30 tahun.Salah satu pengaruh Syekh Nawawi adalah karyanya Tafsir Al-Munir dan 37 kitab lainnya yang masih menjadi bahan ajar berbagai pesantren di Indonesia dan di luar negeri. Selain itu ada nama Syaikh Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangikabauwi. Nama yang terakhir ini adala imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram. Syekh Khatib juga masyhur sebagai Mufti Mazhab Syafi' pada akhir abad ke-19 dari awal abad ke-20 serta pengarang banyak kitab.
Kiprahnya Tercatat Oleh Orientalis Belanda
Kiprah Syaikh Junaid Al-Betawi saat menjadi ulama di mekah sedikit banyak terungkap dari catatan perjalanan Snouck Hurgronje. Orientalis terkemuka asal Belanda yang berhasil menyusup ke kota Makkah. Dalam catatannya yang berjudul Mecca in the Latter Part of 19th Century , Snouck menulis Syaikh Junaid telah bermukim di Makkah selama 60 (enam puluh) tahun, tepatnya sejak tahun 1834. Syekh Junaid membawa istri dan keempat putra-putrinya.
Konon Syekh Junaid sempat menolak untuk bertemu dengan Snouck. Dalam catatannya pula, ketika bertemu Syekh Junaid telah berusia tua. Menurutnya Syekh Junaid sangat dihormati oleh ulama Makkah. Banyak ulama masih meminta memimpin dzikir dan membaca doa penutup ketika ada pertemuan ulama. Sumber data pertama menyebut Syekh Junaid menikah dengan seorang wanita asal Mesir. Pernikahan keduanya dikaruniai dua orang putra yaitu Sa’id dan As’ad dan dua putri. Seorang putrinya menikah dengan Syekh Mujtaba, ualam asal Bukit Duri, Kampung Melayu, Jakarta.
Hak Istimewa Kerjaan
Ketika terjadi pergantian kekuasaan dari Syarif Ali ke Ibnu Saud pada tahun 1925, Syarif Ali meminta agar keluarga Syekh Junaid tetap dihormati setingkat dengan keluarga kerajaan. Dan penguasa baru ketika itu, Ibnu Saud menerima persyaratan tersebut. Tidak salah kalau kemudian hingga sekarang keluarga Syekh Junaid mendapatkan perlindungan dan hak istimewa dari Kerajaan Arab Saudi.
Banyak muridnya yang berasal dari Betawi yang menjadi ulama terkemuka seperti Syaikh Mujitaba bin Ahmad AlBetawi) dari Kampung Mester dan Guru Mirshod, Ayah dari Guru Marzuki Cipinang Muara Syekh Junaid menyebutkan bahwa beliau meninggal sekitar tahun 1840. Kuburannya ada di komplek pemakaman Ma’la. Alwi Shahab, menyebut bahwa dalam setiap acara khaul Syaikh Nawawi, selalu dibacakan Fatihah untuk arwah Syaikh Junaid. Untuk menghargai ulama ini maka Jalan Lingkar Luar Barat di Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat berganti menjadi namanya.
Advertisement