Kiai Majid Tamim, Ulama dan Penulis Produktif dari Madura
Penulis: Nurul Huda
Kiai Majid Tamim adalah salah satu ulama Indonesia yang produktif menulis dan menerjemahkan kitab. Beliau menulis bukan hanya karena keinginan sendiri tetapi juga untuk memenuhi permintaan banyak orang. Sejumlah kitab berbahasa Arab telah diterjemahkan ke dalam bahasa Madura.
Sampai saat ini, karya-karya itu digunakan hampir di seluruh pesantren dan madrasah di Madura. Bahkan, Bruinessen dalam bukunya Kitab Kuning: Books and Arabic Script Used in Pesantren Milieu memasukkan nama Majid Tamim sebagai tokoh penting dalam proses penerjemahan kitab-kitab klasik Arab ke dalam bahasa Madura.
Kiai Majid Tamim terlahir di Barurambat Kota, Pamekasan, Madura pada tanggal 22 Juni 1919. Namun dalam riwayat lain menyebut tahun 1918. Nama lengkapnya adalah Raden Achmad Madjid Tamim bin KHR. Muhammad Tamim. Terlahir dari pasangan KHR. Moh Tamim dan R. Ayu Tayyibah yang dirunut ternyata sampai kepada Sunan Giri. Ayahanda sangat memperhatikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya hingga tidak heran sejak kecil tumbuh menjadi pribadi yang cerdas serta dikenal pandai dalam pelbagai ilmu keagamaan.
Tercatat Kiai Majid pernah menjadi murid langsung Kiai Hasyim Asy’ari saat menjadi santri pesantren Tebuireng Jombang sekitar tahun 1930. Setelah tamat mulai memperlihatkan produktifitasnya dalam berkarya. Kegiatan sehari harinya kemudian sibuk dengan menulis. Akan tetapi dakwahnya juga berjalan. Walaupun menetap di Jember, namun Kiai Madjid memiliki rutinitas datang ke Madura (Pamekasan) untuk berdakwah, baik itu dengan cara menggelar pengajian ataupun melalui tulisan.
Karya-karyanya
Semasa hidupnya Kiai Majid tidak hanya aktif menerjemahkan dan menulis kitab Kuning. Sejumlah kitab berbahasa Arab telah diterjemahkan ke dalam bahasa Madura. Sampai saat ini, karya-karya itu digunakan hampir di seluruh pesantren dan madrasah di Madura. Bahkan, Bruinessen dalam bukunya Kitab Kuning: Books and Arabic Script Used in Pesantren Milieu memasukkan nama Majid Tamim sebagai tokoh penting dalam proses penerjemahan kitab-kitab klasik Arab ke dalam bahasa Madura .
Kitab, sya’ir-sya’ir Madura, maupun tulisan-tulisan yang singkat merespon fenomena sosial yang terjadi pada saat itu. Beberapa sumber mengatakan bahwa karyanya tidak kurang dari 500 kitab, hanya saja yang berhasil diidentifikasi dalam tulisan ini, hanya sejumlah kecil tetapi dari pelbagai bidang ilmu. Hampir semua karyanya menggunakan bahasa Madura dan beraksara Arab Jawa dikenal dengan pegon.
Karya karyanya meliputi pelbagai bidang keilmuan seperti tafsir, hadits, fikih, tasawuf dan gramatikal bahasa. Beberapakitabnya merupakan karya mandiri (pribadi) dan sebagian lagi karya terjemahan. Semua karya tulisannya, selain karena inisiatif pribadi, juga untuk memenuhi permintaan para kolega, teman dekat atau lembaga-lembaga pesantren, madrasah dan masyarakat setempat. Seperti kitab Miftah al-‘Ilm wa al-Adab misalnya. Kitab Tafsir Alam Nasyrah al-Karimmenjadi karya terakhirnya pada tahun 1982.
Salim Nabhan
Karyanya antara lain Kitab Tafsir al-Mar’ah al-Shalihah Risalah al-Mahid al-Madura, Tarjamahan tafsir al-Jalalain bi al-Lughah al-Maduriyyah, Tarjamah Durus al-‘Aqaid al-Diniyyah . Selain itu ada kitab Tafsir Alam Nasyrah al-Karim, Tafsir Surah al-Ikhlas, al-Mar’ah as-Salihah, Risalah al-Mahid al-Madura, dan Tarjamah Tafsir al-Jalalain bi al-Lughah al-Maduriyyah. Tercatat karya lainnya seperti Tarjamah Durus al-‘Aqaid al-Diniyyah, Al-Jawahir al-Kalamiyyah fi Idhah ‘Aqidah al-Islamiyyah, Matan al-Jauharah fi ‘Ilm al-Tauhid karya Imam Ibrahim al-Bajuri.
Selain itu ada kitab Fath al-Qarib ‘ala matn al-Gayah wa at-Taqrib, Al-Mabadi’ al-Fiqhiyyah ‘ala Mazhab al-Imam asy-Syafi’i, Safinah an-Najah Madura fi Usul al-Din wa al-Fiqh dan Sullam at-Tawfiq Madura. Terakhir di bidang morfologi bahasa Arab, ulama produktif ini menulis kitab at-Tashrif. Maktabah Salim Nabhan Surabaya menjadi penerbit sebagian besar karya ulama yang tawadu ini. Beliau wafat tahun 2004 dengan meninggalkan karya yang sangat berharga bagi kaum muslimin.