Kiai Mahrus Aly Kisah Ketegasan, Kealiman, dan Jejak Perjuangan
Kiai Mahrus Aly , Lirboyo, adalah sosok ulama teladan hingga sekarang. Ketegasan, keberanian dan kedalaman ilmunya menjadi inspirasi hingga sekarang. Selain itu kisah-kisahnya menunjukkan betapa kuatnya pengaruh sang kiai dalam perjalanan tokoh Nahdlatul Ulama maupun dunia pesantren. Selain itu beliau adalah sosok pejuang kemerdekaan yang memimpin laskar Hizbullah menghadapi penjajah.
Salah satu muridnya, Prof.Dr. KH Siad Aqiel Siroj berkisah tentang Kiai Mahrus sebagai sosok yang mempunyai sikap tegas Kiai Mahrus. Kisahnya terjadi tahun 1971, menjelang Pemilu. Kala itu suasana politik yang sensitif. Kebetulan Pondok Lirboyo terpilih memperoleh hadiah pemasangan listrik gratis dari pemerintah. Upacara peresmian berlangsung meriah dengan tamu antara lain Pangdam Brawijaya Letjen Wahono serta para Dandim dan Danramil se-Jawa Timur.
Namun tengah acara resmi itu, Kiai Mahrus tampil menyampaikan sambutan. Dengan nada tenang, beliau berkata, “Terima kasih kepada Pak Harto atas hadiah listrik untuk Lirboyo. Nilainya mungkin mencapai ratusan juta, bahkan miliaran. Tapi jika ini ada tendensi politik, silakan cabut kembali sekarang.” ungkapnya tegas.
Ucapan lugas tersebut membuat banyak tamu terperangah. Namun begitulah Kiai Mahrus: bersahabat dengan pejabat, tetapi tidak gentar menegur jika diperlukan. Hal serupa juga terjadi ketika bertemu Jenderal Sudomo, kala itu Wakil Panglima ABRI. Kala itu NU belum menerima asas tunggal Pancasila. Saat beliau berdiri di podium dan berkata lantang: “Barang siapa mengatakan Pancasila lebih mulia daripada Islam, maka ia kafir dan murtad!”
Jejak Perjalanan Hidup
KH. Mahrus Aly lahir di Gedongan, Cirebon, tahun 1906, sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara. Masa kecilnya yang dikenal dengan nama Rusydi dihabiskan di lingkungan pesantren keluarga. Jiwa kepemimpinannya sudah tampak sejak usia belia. Perjalanan menuntut ilmunya berlanjut ke berbagai pesantren besar Kasingan Rembang, Lirboyo, Tebuireng, Watucongol, Langitan, hingga pesantren-pesantren di Lasem dan Tuban. Meski hanya sekitar tiga tahun bermukim di Lirboyo, kealimannya membuat KH. Abdul Karim mengambilnya sebagai menantu pada 1938.
Pada tahun 1944 M, KH. Abdul Karim mengutus KH. Mahrus Aly untuk membangun kediaman di sebelah timur Komplek Pondok. Setelah wafatnya KH. Abdul Karim, Kiai Mahrus memegang tampuk kepemimpinan Lirboyo bersama KH. Marzuqi Dahlan. Di bawah mereka berdua, Lirboyo berkembang pesat dan menjadi salah satu pesantren terbesar di Jawa Timur. Tahun 1966, beliau turut mendirikan Universitas Islam Tribakti (UIT), salah satu perguruan tinggi Islam tertua di Kediri
Pada masa kemerdekaan, sosok Kiai Mahrus mempunyai peran besar. Beliau adalah pemimpin militer yang disegani tatkala memimpin tentara Hizbullah dan menjadi tokoh sentral dalam mempertahankan kemerdekaan, terutama di Jawa Timur. Keterlibatannya langsung dalam operasi militer menjadi bukti. Salah satunya saat memimpin penyerbuan dan pelucutan senjata pasukan Jepang di Markas Kompi Dai Nippon Kediri. Puncak kontribusi militannya terjadi pada momentum Resolusi Jihad.
Di kepemimpinan beliau, sebanyak 97 santri pilihan Lirboyo dikirim ke medan tempur Surabaya. Mobilisasi massal santri itu membentuk Batalyon Gelatik yang telah berkontribusi besar dalam Pertempuran 10 November 1945. Batalyon itu menjadi cikal bakal berdirinya Kodam V/Brawijaya. Selain itu, beliau juga aktif dalam upaya penumpasan PKI di wilayah Kediri.
Sejak istrinya Nyai Hj. Zaenab, wafat pada 4 Maret 1985, kesehatan Kiai Mahrus melemah. Kesehatannya kian menurun hingga akhirnya wafat pada Ahad malam, 6 Ramadan 1405 H atau 26 Mei 1985, pada usia 78 tahun. Beliau meninggalkan warisan keteladanan, ilmu, dan keberanian yang terus hidup dalam jiwa para santri.
Penulis: Nurul Huda