Jejak Inspiratif Syekh Ihsan Dahlan Jampes
Dunia pesantren Indonesia memiliki deretan tokoh hebat yang karyanya mendunia. Salah satu adalah Syekh Ihsan Dahlan Jampes. Beliau merupakan ulama kharismatik yang lahir di Dusun Jampes, Kediri, pada tahun 1901 Masehi atau 1318 Hijriah. Selain menjadi kyai yang disegani, Syekh Ihsan adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karya-karyanya yang mendalam membuat banyak orang kagum, termasuk para akademisi di luar negeri.
Lahir dengan nama kecil Bakri, beliau tumbuh dalam asuhan keluarga religius yang taat. Ayahnya KH. Dahlan bin Saleh adalah ulama terpandang. Sementara ibunya adalah Nyai Artimah binti Saleh, sosok perempuan salehah asal Banjarmelati, Kediri. Lingkungan pesantren Jampes menjadi tempat pertama bagi Bakri dalam mengenal dasar-dasar agama Islam.
Bakri kecil mendapatkan pendidikan awal langsung dari kedua orang tuanya. Beliau belajar membaca Al-Qur'an dan mengkaji berbagai kitab dasar Islam di rumahnya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Bakri memutuskan untuk mengembara ke berbagai penjuru Jawa demi memperdalam ilmu agama. Tujuan pertama pengembaraannya adalah Pesantren Bendo Pare, Kediri, di bawah bimbingan pamannya, KH. Khozin. Rasa haus akan ilmu kemudian membawa Bakri menuju Jawa Tengah. Beliau tercatat pernah menimba ilmu kepada KH. Ahmad Dahlan di Semarang dan KH. Saleh Darat. Bakri juga mendatangi Pesantren Pondoh Magelang untuk belajar kepada KH. Maβsum yang terkenal akan kewaliannya.
Perjalanan intelektual Bakri berlanjut ke Pesantren Jamsaren Solo dan Pesantren Termas Pacitan. Di Pacitan, beliau belajar kepada KH. Dimyati, adik dari ulama besar Syekh Mahfudz Termas. Tercatat pula beliau juga nyantri di Nganjuk hingga ke Bangkalan, Madura, untuk berguru kepada maha guru KH. Muhammad Kholil.
Titik balik penting terjadi pada tahun 1926 saat beliau menunaikan ibadah haji. Sekembalinya dari tanah suci, nama Bakri resmi berganti menjadi Ihsan. Nama inilah yang kemudian melambung tinggi dalam jagat literasi Islam internasional. Pada tahun 1932, Syekh Ihsan menerima amanah sebagai pengasuh utama Pesantren Jampes. Di bawah kepemimpinannya, pesantren mengalami kemajuan yang sangat pesat. Ribuan santri dari berbagai pelosok negeri berbondong-bondong datang ke Jampes untuk menimba ilmu.
Selain menjadi kyai yang disegani, Syekh Ihsan adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karya-karyanya yang mendalam membuat banyak orang kagum, termasuk para akademisi di luar negeri. Bahkan, para mahasiswa di Universitas Al-Azhar Kairo menjuluki beliau dengan sebutan "Ghozali Shagir" atau Al-Ghazali Kecil.
Karya beliau yang paling fenomenal adalah kitab Sirajut Thalibin. Kitab ini merupakan ulasan (syarah) dari kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali. Hingga saat ini, kitab tersebut masih menjadi rujukan utama di berbagai universitas dan pesantren besar di seluruh dunia. Dalam kehidupan pribadi, Syekh Ihsan menikah dengan Hj. Zainab. Pasangan ini mendapatkan karunia delapan putra dan putri. Mereka adalah Husniyah, Hafsah, Muhammad, Abdul Malik, Rumaisa, Mahmudah, Anisah, dan Nusaiziyah. Sayangnya, putri pertama beliau, Husniyah, meninggal dunia saat masih kecil.
Umat Islam kehilangan salah satu putra terbaiknya pada Senin, 16 September 1952. Syekh Ihsan mengembuskan napas terakhirnya 25 Dzulhijjah 1371 Hijriah. Warisan intelektual Syekh Ihsan tetap hidup hingga sekarang. Hingga Syekh Ihsan terus menginspirasi generasi muda Islam untuk terus berkarya dan berdakwah melalui tulisan.
Selain kitab Sirajut Thalibin, karya Syekh Ihsan lainnya adalah Kitab Irsyadul Ikhwan li Bayani Ahkami Syurbil Qohwah wal Dhukhan. Dalam kitab ini membahas tentang hukum mengonsumsi rokok dan kopi. Kemudian Kitab Minhajul Imdad yang merupakan kitab yang berisi komentar atas kitab Irshadul Ibad karangan Syekh Zainuddin Al-Malibari . Tercatat pula ada kitab Kitab Tasrihul Ibarat yang menjadi penjelas Natij Al-Miqaat karangan K.H Ahmad Dahlan.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement