Kiai Ahmad Dahlan, Maestro Ilmu Falak Nusantara
Penulis: Nurul Huda
Salah satu ahli falak yang paling terkenal di Nusantara adalah Kiai Ahmad Dahlan. Beliau merupakan penulis kitab Tadzkiratu-l-Ikhwan fi Baโdli Tawarikhi wal Aโmali-l-Falakiyati. Ada yang menyebut kitab ini berisi perhitungan hisab awal bulan pertama yang ditulis oleh ulama Nusantara dan masih menggunakan angka Abajadun dengan memakai Zaij Ulugh Beik.
Biarpun populer dengan sebutan As Samarani atau Semarang yang menempel pada namanya, namun Kiai Dahlan merupakan ulama kelahiran Tremas, Pacitan, Jawa Timur , Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Abdullah bin KH. Abd Manan Dipomengggolo dan Nyai Aminah. Saudara dari Kiai Dahlan adalah ulama besar Nusantara yaitu Syekh Muhammad Mahfuzh, KH. Muhammad Dimyathi, KH. Muhammad Bakry dan al-Mursyid KH. Abd Razaq. Ulama-ulama ini merupakan lulusan Makkah.
Terlahir dalam keluarga pesantren, Kiai Ahmad melanglang buana menimba ilmu di berbagai pesantren, Makkah hingga Mesir. Ulam kelahiran Termas 1862 ini juga murid dari KH Soleh Darat Semarang, bahkan menjadi menantunya. Selain itu juga menimba ilmu kepada kakaknya Syekh Mahfuzh Termasi dan beberapa ulama seperti Syekh Bakri Syatha, Syekh Jamil Djambek, Syekh Thahir Djalaluddin.
KH. Ahmad Dahlan kecil, didik ilmu agama oleh ayahnya di lingkungan Pesantren Tremas, setelah itu beliau melanjutkan pendidikannya kepada KH. Saleh Darat di Semarang. Untuk memperdalam ilmu agamanya beliau kemudian melanjutkan pendidikannya ke Mekkah dan Mesir. Selama belajar di tanah suci ini, KH Ahmad Dahlan bersahabat dengan ahli falak Syaikh Muhammad Hasan Asyโari Bawean Madura. Sementara di Kairo, Mesir bertemu dengan dua ulama besar Nusantara lainnya yaitu Syekh Jamil Djambek dan Syekh Ahmad Thahir Jalaluddin. KH Dahlan juga khusus belajar kitab โal Mathlaโal-Saidโ karya dari Syekh Husein Zaid al Mashri.
Kitab-Kitabnya
Salah satu karya Ahmad Dahlan Tremas adalah Fathu al-Majid fi Bayani at-Taqlid. Kitab ini merupakan salah satu yang mengulas mengenai ilmu Ushul Fiqh dari Nusantara. Kitab ini bahasa arab dengan penjelasan yang singkat dan lugas. Walau harus menggunakan beberapa bidang ilmu untuk memahaminya, namun sebagian besar bahasanya mudah untuk dipahami.
Kiai Ahmad Dahlan dalam kita ini tentang pentingnya bertaklid atau menjalankan aktivitas keagamaan. Kitab ini juga mempermudah seseorang untuk memahami mengenai taqlid dan syarat taqlid. Hal ini penting supaya kaum muslimin tidak terjebak pada pemahaman taklid buta. Dalam kitab ini terlihat sangat berhati-hati dalam memahami taqlid itu sendiri. Hal ini dikarenakan tidak semua orang mampu untuk menarik kesimpulan dari apa yang beliau dapatkan dari sumbernya. Bahkan ulama yang memiliki gelar pun tidak serta merta dapat menarik sebuah kesimpulan dari sebuah sumber, bahkan beliau harus mendalami sumber tersebut dilihat dari kadarnya.
Hal ini penting dilakukan supaya kita tidak terjebak dalam suatu aktivitas keagamaan yang tidak memiliki landasan yang kuat. Maka dari itu dalam kitab ini menjelaskan mengenai sebuah kehati-hatian dalam bertaqlid. Selain itu Kitab ini menjelaskan mengenai syarat-syarat taqlid itu seperti apa. Inilah ciri khas dari mazhab Syafiโiyyah yang selalu berhati-hati jika akan menentukan hukum atau yang lainya. Memang harus dilihat begitu cermat dan harus sesuai dan itu merupakan usaha yang benar-benar maksimal.
Sedangkan kitab Tadzkiroh al Ikhwan yang selesai ditulis tahun 1901 adalah kitab falak dengan sistem Haqiqi Taqribi. Kitab ini terdiri dari 1 mukadimah, 4 pasal, dan 1 penutup.Pada bab pertama, membahas tentang penanggalan. Kemudian bab kedua, membahas tentang penanggalan matahari dan transitnya ke puncak buruj. Untuk bab ketiga pembahasannya seputar oposisi, konjungsi hakiki, dan lain-lain. Sedangkan bab keempat pembahasannya berkisar tentang gerhana bulan dan gerhana matahari. Untuk bagian akhir kitab tertera ada sejumlah tabel-tabel astronomis seperti tabel harian matahari, tabel bulan, tabel interpolasi, tabel lintang bulan dan lain sebagainya.
Adapun Kitab Bulugh al Wathar selesai ditulis pada 27 Dzulqoโdah 1320 H. Kitab ini adalah kitab Hisab Falak pertama yang memakai sistem tahqiqi yang ditulis oleh ulama Indonesia Selain itu, beliau juga menulis beberapa kitab lainnya seperti Natijah al-Miqat, Tazkirah al-Ikhwan, Nuzhah al-Afham, dan Fath al- Majid.
Bersama keluarganya, KH Ahmad Dahlan bertempat tinggal di sekitar Masjid Agung Kauman Semarang. Selain menjadi ulama, beliau juga seorang pedagang yang tergolong dan mempunyai banyak toko di Pasar Johar. Sepeninggal KH Sholeh Darat pada tahun 18 Desember 1903, Pondok Pesantren Darat diasuh oleh KH Ahmad Dahlan. Selama kurang lebih delapan tahun, KH Ahmad Dahlan menggantikan guru sekaligus mertuanya mendidik para santri. KH Ahmad Dahlan wafat pada tahun 19 11. Adapun makamnya terletak be4rdekatan dengan Makam KH Sholeh Darat.
Advertisement