Khutbah Jumat: Melawan Malas, Antara Nasihat Ulama, Muhasabah, dan Kekuatan Al-Qur’an
Dalam tradisi keislaman, malas - al-kasal atau futur—bukan sekadar kelemahan mental. Namun malas adalah penyakit hati yang dapat menggerogoti semangat, merusak produktivitas, dan menjauhkan seseorang dari keberkahan.
Bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri pernah memanjatkan doa khusus agar dilindungi dari sifat tercela tersebut. Islam menempatkan waktu sebagai amanah, sehingga menyia-nyiakannya sama dengan menolak nikmat yang telah diberikan Allah.
Jauh sebelum istilah “prokrastinasi” menjadi pembahasan modern, para ulama klasik sudah menyoroti bahaya menunda-nunda pekerjaan. “Waspadalah terhadap sikap menunda-nunda. Hari ini adalah milikmu, bukan esok hari. Jika esok datang, maka itu adalah hari itu; dan jika tidak datang, jangan sesali apa yang tidak kau lakukan hari ini.” Begitu ulama Hasan Al Basri berpesan.
Dari petuah itu perlu menggarisbawahi bahwa waktu yang terbuang oleh kemalasan hanya akan menumpuk kewajiban dan menghilangkan peluang. Dalam riwayat lain, Umar ibn al-Khattab pernah menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari di Bashrah: “Jangan menunda pekerjaan hari ini hingga esok, karena ia akan menumpuk dan merenggut kesempatanmu untuk menyelesaikannya.”
Dua pesan ini menunjukkan bahwa sejak dahulu, para tokoh Islam telah memahami bahwa kemalasan bukan hanya persoalan pribadi, tetapi dapat berdampak sosial dan spiritual. Menurut Raghib al-Ashfahani, malas adalah perasaan berat melakukan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dirasakan berat. Sifat ini dapat muncul dalam urusan dunia maupun ibadah. Bahkan seseorang yang rajin sekalipun bisa mengalaminya setelah semangatnya melemah seiring waktu.
Secara garis besar, ulama membagi malas menjadi dua. Pertama adalah malas akal. Makna dari malas jenis ini adalah tidak menggunakan pikiran untuk merenung, bersyukur, atau memperbaiki diri. Banyak kemunduran terjadi karena kurangnya orang-orang yang mau menggerakkan kekuatan berpikirnya.
Kedua adalah malas badan yaitu enggan menggerakkan tubuh untuk berkarya, beribadah, atau menjalankan tugas. Dampaknya bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada lingkungan dan kualitas kehidupan sosial. Ketika kemalasan membuat seseorang meninggalkan kewajiban atau terjerumus ke hal yang dilarang, di sanalah titik bahayanya.
Dalam sebuah episode Damai Indonesiaku, seorang jamaah menyampaikan kegelisahannya tentang rasa malas dan meminta cara efektif untuk mengatasinya. Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh Kiai Cholil Nafis yang menyebut malas adalah penyakit yang paling berbahaya dalam meraih cita-cita. “Penyakit yang paling memudaratkan dalam mencapai tujuan adalah malas,” tegasnya.
Kiai Cholil kemudian memberikan tips untuk mengusir rasa malas itu. Langkah pertama untuk mengusir malas adalah melakukan muhasabah yaitu dengan menghitung dan menilai diri sendiri. Beliau menyarankan muhasabah dilakukan menjelang Subuh atau sebelum tidur, waktu-waktu ketika hati lebih tenang.
“Tanyakan: apakah hari ini lebih baik dari kemarin? Nabi saja yang sudah diampuni dosanya masih beristigfar 70 kali sehari.” Dalam muhasabah ini, lanjutnya akan memaksa seseorang menatap dirinya: apa yang sudah dilakukan, apa yang belum, dan apa yang harus diperbaiki. Kesadaran inilah yang melecut gerak.
Kedua dengan membaca Al-Qur’an . Al Qur’an adalah kitab suci ini bukan hanya petunjuk, tetapi juga obat bagi hati yang letih dan malas. “Kalau kita ingin berbicara kepada Allah, salatlah. Jika ingin Allah berbicara kepada kita, bacalah Al-Qur’an,” jelasnya.
Untuk itu membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap hari Dengan muhasabah dan kedekatan dengan Al-Qur’an, seseorang akan memiliki tujuan hidup yang lebih jelas. Iman yang kuat akan mendorong pergerakan tubuh.
Dalam Islam, waktu bukan sekadar durasi hidup, tetapi amanah. Kemalasan yang dibiarkan tumbuh akan menggerogoti potensi, merusak kesempatan, dan menjauhkan seseorang dari keberkahan dunia dan akhirat.
Penulis: Nurul Huda