KH. Imron Hamzah Ulama Pejuang dan Mubaligh Kharismatik
Salah satu kampung yang tak pernah benar-benar sepi dari denyut santri adalah kampung Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo. Masyarakat kampung tersebut hingga hari ini masih menyebut nama Kiai Imron Hamzah dengan nada penuh hormat. Meski telah wafat lebih dari dua dekade lalu, sosoknya seakan tetap berjalan di lorong-lorong pesantren, hadir dalam kenangan murid-muridnya. Kiai Imron adalah salah satu singa podium yang selalu tegas, dan menyimpan pesona spiritual luar biasa.
Mereka memanggilnya dengan berbagai panggilan Kiai Imron atau Yai Imron. Namun satu nama yang melekat kuat hingga sekarang adalah julukannya yaitu “Sang Empu Idu Geni.” Panggolan populer itu bukan karena sensasi, akan tetapi lahir dari kesan mendalam masyarakat terhadap kharisma. Merunut sejarahnya KH. Imron Hamzah lahir pada 17 Agustus 1938 Ngelom, Taman, Sidoarjo. Tanggal tersebut seolah alam sudah memberi isyarat bahwa kelahiran ini tidak biasa. Beliau merupakan putra dari pasangan sangan Kiai Chamzah Ismail dan Nyai Muchsinah.
Dari lingkungan santri ini, perjalanan Imron Hamzah menapaki jalan hidupnya. Seperti tradisi ulama Jawa pada masa itu, dari pesantren ke pesantren menjadi tempatnya menuntut ilmu. Pesantren Tebuireng Jombang menjadi salah satu pusat pendidikan yang menggembleng kecerdasannya. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan intelektual ke Buntet Cirebon hingga Pesantren Rejoso. Puncaknya adalah ketika beliau berguru kepada sosok ‘alim yaitu KH. Maksum Lasem. Dari Lasem inilah, menurut banyak cerita, Kiai Imron menempa bukan hanya ilmu, melainkan keberanian dan keteguhan hati. Kelak, modal inilah yang membuatnya menjadi salah satu tokoh kunci NU dalam penumpasan gerakan PKI di Lasem.
Kecintaannya pada Nahdlatul Ulama juga tumbuh sejak masa muda. Pada umur belasan, ia sudah aktif di GP Ansor (1952), lalu di IPNU Jombang (1954). Aktivisme dalam organisasi ini kemudian membentuk kesadarannya tentang pentingnya menjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. kecerdasan, keberanian, kedalaman ilmu dan kepiawaiannya dalam berorasi menjadikan karier organisasinya terus menanjak. Pada 1967 mendapat kepercayaan menjadi Katib Syuriah PWNU Jawa Timur, posisi strategis beliau emban hingga 1982. Dua dekade kemudian, pada masa krusial transisi politik Indonesia, ia kembali duduk dalam lingkaran tertinggi NU sebagai Rois Syuriah PBNU periode 1999–2004.
Empu Idu Geni
Pondok Pesantren Al-Ishmah Iliyah di Ngelom, Sepanjang adalah salah satu peninggalan beliau. Kiai Imron terkenal sebagai orang yang sederhana, dekat dengan santri, namun memiliki wibawa. Santri-santri masih mengenang bagaimana beliau bisa mengubah suasana pengajian menjadi teduh hanya dengan satu kalimat yang lembut namun dalam.
Selain menjadi ulama pesantren, KH. Imron Hamzah terjun ke dunia politik. Beliau pernah bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan dari sana beliau dipercaya menjadi anggota DPRD Jawa Timur serta MPR-RI. Bagi kiai Imron politik bukan ruang untuk mencari pengaruh, melainkan sarana memperjuangkan kepentingan umat. Banyak rekannya di parlemen mengenang keberanian beliau dalam mempertahankan prinsip, termasuk ketika membawa nilai-nilai pesantren ke ruang-ruang sidang yang keras.
Tidak sedikit kisah yang hidup di tengah masyarakat tentang beliau. Ada cerita bahwa beliau pernah berdakwah di hadapan bangsa jin. Kiai Imran Hamzah (pernah Rais Syuriah PWNU Jawa Timur), barangkali satu-satunya mubalig yang pernah berceramah di kalangan para jin. Kisahnya berawal dari seorang kehilangan tas di atas bus. Kebetulan, di daerah itu ada orang “pintar” yang bisa mencari barang hilang. Lalu orang itu datang ke sana, menanyakan ihwal tasnya.
“Wah, tasnya dibawa kabur sama bongso Jin,” kata si orang pintar. Kemudian orang tersebut berkata, “Tapi tenang saja. Ini ada pimpinan bangsa jin yang bisa menemukan kembali tas sampeyan. Hanya saja, ada syaratnya.”
“Apa syaratnya?” tanyanya.
“Bangsa jin itu minta kalau nanti tasnya dikembalikan, mereka minta diadakan pengajian. Kita diminta untuk mendatangkan mubaligh. Mereka menunjuk mubalighnya Kiai Imran Hamzah Sepanjang Surabaya.”
Begitulah. Ternyata tasnya benar-benar ditemukan. Maka, Kiai Imran pun dimintai waktu untuk bisa hadir memberikan pengajian. Singkat cerita, Kiai Imran bersedia dan meluangkan waktunya untuk pengajian. Pada waktunya, Kiai Imran pun datang. Nah, di sana baru Pak Imran diberitahu bahwa nanti pengajiannya tidak seperti pengajian biasa. Karena nanti tidak tampak ada yang hadir. Karena hadirinnya seluruhnya adalah para jin.
Maka, Kiai Imran datang ke tempat yang sudah ditentukan. Ternyata, memang enggak ada siapa-siapa. Tidak kelihatan ada seorang pun. Tapi, kata si paranormal tadi, tempat itu sudah penuh. Maka, dimintanya Pak Imran segera maju. Kisah ini ada dalam buku Tawa Show di Pesantren terbitan LKIS Yogyakarta.
Selain itu banyak yang berkisah tentang ketajaman batin beliau yang membuat banyak orang segan. Maka lahirlah julukan Empu Idu Geni lahir yang muasalnya dari kekaguman masyarakat terhadap keberaniannya, ketegasannya, dan aura kewalian. KH. Imron Hamzah wafat pada tahun 2000 dan dimakamkan di kompleks Masjid Bahaudin, Ngelom.
Penulis: Nurul Huda