Jangan Asal Intermittent Fasting! Ini 7 Kesalahan yang Bikin Diet Gagal
Intermittent fasting atau puasa intermiten semakin populer sebagai metode diet untuk menurunkan berat badan. Banyak orang memilih pola makan ini karena terbukti efektif mengurangi lemak tubuh sekaligus membantu menjaga kesehatan metabolisme. Namun, Anda hanya dapat memperoleh manfaat tersebut jika menerapkannya dengan benar.
Kesalahan saat menjalankan intermittent fasting masih sering terjadi. Banyak orang hanya berfokus pada waktu berpuasa, tetapi mengabaikan kualitas makanan. Selain itu juga mengabaikan kebutuhan nutrisi, hingga pola istirahat. Akibatnya, tujuan menurunkan berat badan justru sulit tercapai bahkan tubuh berisiko mengalami gangguan kesehatan.
Dalam tulisannya di laman keslan.kemkes.go.id, Tim Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten menjelaskan beberapa hal tentang intermittent fasting ini. Dalam merupakan metode diet ini adalah metode diet yang membatasi asupan kalori pada waktu tertentu. Pola makan ini dapat dilakukan selama beberapa jam setiap hari, bergantian hari, atau beberapa hari dalam sepekan.
Dari banyak penelitian metode ini ternyata mampu membantu mengurangi obesitas sentral. Selain itu juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki metabolisme tubuh, serta membantu mengurangi stres oksidatif. Meski demikian, keberhasilan diet tetap bergantung pada cara penerapannya.
Intermittent Fasting Bukan Sekadar Menahan Lapar
Intermittent fasting bekerja dengan mengatur waktu makan, bukan membebaskan seseorang mengonsumsi makanan apa saja. Tubuh tetap membutuhkan asupan gizi yang seimbang agar seluruh organ dapat bekerja secara optimal. Pola makan ini juga memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Tekanan darah, kadar gula darah, kadar lemak, denyut jantung, hingga distribusi lemak tubuh dapat berubah selama seseorang menjalankan puasa intermiten. Karena itu, setiap pelaku diet perlu memahami prinsip dasar intermittent fasting. Tanpa pemahaman yang tepat, manfaat diet bisa berkurang bahkan memicu masalah kesehatan baru.
Selain itu jangan mengabaikan kebutuhan cairan. Kesalahan pertama yang sering terjadi ialah kurang minum air putih. Banyak orang terlalu fokus menahan lapar sehingga melupakan kebutuhan cairan harian. Tubuh yang kekurangan cairan lebih mudah mengalami dehidrasi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan lemas, sulit berkonsentrasi, sakit kepala, hingga mengganggu fungsi organ jika berlangsung terus-menerus. Selama menjalankan puasa intermiten, air putih menjadi pilihan terbaik. Minuman tersebut membantu menjaga keseimbangan cairan tanpa menambah kalori yang dapat mengganggu proses puasa.
Kemudian hindari balas dendam saat jendela makan. Sebagian orang menganggap waktu makan sebagai kesempatan mengonsumsi apa saja. Anggapan tersebut justru menjadi penyebab utama kegagalan diet. Makanan tinggi gula, lemak trans, makanan cepat saji, serta gorengan dapat menghambat manfaat intermittent fasting. Kebiasaan tersebut juga meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, dan obesitas. Pilihlah makanan bergizi seimbang. Sayuran, buah, protein tanpa lemak, biji-bijian, dan karbohidrat kompleks akan membantu tubuh tetap sehat selama menjalani diet.
Dalam metode ini tidur berkualitas sama pentingnya dengan pola makan. Intermittent fasting tidak hanya mengatur waktu makan. Pola tidur juga menentukan keberhasilan program diet. Tidur terlalu larut atau kurang tidur dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. Kondisi itu membuat tubuh lebih sulit beradaptasi dengan perubahan pola makan. Istirahat yang cukup juga membantu menjaga keseimbangan hormon lapar dan kenyang. Dengan demikian, keinginan makan berlebihan dapat dikurangi.
Jangan Memangkas Kalori Secara Berlebihan
Sebagian orang mengurangi kalori secara ekstrem agar berat badan cepat turun. Cara tersebut justru meningkatkan risiko kekurangan nutrisi. Tubuh tetap memerlukan energi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Kekurangan kalori dapat menyebabkan pusing, lemas, dan menurunkan daya tahan tubuh.Perhitungan kebutuhan kalori tetap harus disesuaikan dengan usia, aktivitas, serta kondisi kesehatan masing-masing orang.
Selain itu Anda juga harus menyesuaikan diet dengan kondisi kesehatan. Tidak semua orang cocok menjalani intermittent fasting. Ibu hamil, ibu menyusui, serta penderita penyakit kronis memerlukan pertimbangan khusus sebelum memulai diet. Jika muncul keluhan kesehatan selama menjalankan puasa intermiten, sebaiknya hentikan sementara program tersebut. Konsultasi dengan dokter menjadi langkah paling aman sebelum melanjutkan diet.
Keberhasilan intermittent fasting tidak hanya ditentukan oleh lamanya berpuasa namun konsistensi menerapkan pola hidup sehat. Seseorang perlu mempertahankan pola makan bergizi, rutin beraktivitas fisik, dan menjaga kualitas tidur. Kebiasaan tersebut akan memberikan manfaat kesehatan dalam jangka panjang.
Tidak kalah penting adalah bagi pelaku kebiasaan pelaku yang justru makan dalam jumlah besar setelah waktu puasa selesai. Kebiasaan ini membuat asupan kalori harian meningkat drastis. Tubuh tidak membutuhkan makanan dalam jumlah berlebihan sekaligus. Makan secukupnya akan membantu menjaga proses metabolisme tetap stabil.
Anda juga harus menghindari minuman bersoda. Minuman jenis ini sering dianggap tidak mengenyangkan. Padahal, kandungan gula dan pemanis buatan dapat memengaruhi rasa lapar. Seseorang juga lebih mudah mengonsumsi makanan dalam jumlah besar setelah minum soda. Karena itu, air putih tetap menjadi pilihan terbaik selama menjalankan diet.
Selain itu memperbanyak protein dan serat.Protein membantu mempertahankan massa otot sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama. Sumber protein dapat berasal dari ikan, ayam, telur, kacang-kacangan, maupun biji-bijian. Serat dari buah, sayur, dan biji-bijian utuh juga membantu memperlambat proses pencernaan. Tubuh pun memiliki energi lebih stabil sepanjang hari.
Dan terakhir pelaku intermittent fasting seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Diet tidak perlu dilakukan secara berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Seseorang juga tidak perlu menyalahkan diri ketika sesekali melanggar jadwal makan. Evaluasi pola yang dijalankan dan sesuaikan kembali dengan rutinitas agar diet tetap berkelanjutan.
Penulis: Nurul Huda