Dampak Proyek JLS Bojonegoro, Harga Tanah di Ngumpakdalem Diprediksi Melonjak
Rencana pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) Bojonegoro mulai memunculkan dampak terhadap nilai tanah di sejumlah wilayah yang masuk jalur trase. Harga tanah di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, misalnya, diperkirakan akan mengalami kenaikan seiring rencana pembangunan jalan lingkar tersebut.
JLS Bojonegoro direncanakan melintasi sejumlah wilayah di bagian selatan kabupaten. Salah satu desa yang masuk jalur proyek adalah Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander.
Lurah Desa Ngumpakdalem, Burhan, mengatakan saat ini pihak desa masih dalam tahap pendataan terkait lahan yang berada di jalur rencana JLS.
Menurut dia, jalur JLS di Desa Ngumpakdalem akan melewati sejumlah dusun, yakni Dusun Dalem, Dusun Bogo dan Dusun Kedungrejo. Panjang jalur yang melewati wilayah desa tersebut diperkirakan lebih dari 1,5 kilometer.
βSemua tanah dan lahan milik warga dan tidak ada tanah Solo Valley,β kata Burhan.
Burhan menambahkan, pemerintah desa masih menunggu tahapan lanjutan terkait rencana pembangunan JLS Bojonegoro, termasuk proses yang berkaitan dengan lahan warga.
βKita masih menunggu,β imbuhnya.
Harga Tanah di Ngumpakdalem Diperkirakan Naik
Rencana pembangunan JLS Bojonegoro diperkirakan ikut mendorong kenaikan harga tanah di wilayah yang dilintasi trase jalan.
Di Dusun Dalem, Desa Ngumpakdalem, misalnya, harga tanah di lokasi yang berada di bagian dalam saat ini berada di kisaran Rp400.000 hingga Rp500.000 per meter persegi.
Namun, harga tanah di lokasi yang berada di pinggir jalan besar dapat mencapai sekitar dua kali lipat dibandingkan lahan di bagian dalam.
Kondisi tersebut membuat adanya rencana pembangunan jalan baru berpotensi meningkatkan nilai lahan, terutama tanah yang berada dekat akses jalan.
Warga Desa Ngumpakdalem, Priyo, 61 tahun, mengatakan harga tanah di wilayah tersebut memang sudah relatif tinggi.
Menurut dia, salah satu faktor yang membuat nilai tanah meningkat adalah perkembangan kawasan permukiman. Sejumlah lahan di Dusun Dalem saat ini mulai banyak dimanfaatkan untuk kawasan perumahan. βWah sudah mahal,β kata Priyo.
JLS Bojonegoro Ditargetkan Mulai Dibangun 2027
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menargetkan pembangunan JLS mulai memasuki tahap pelaksanaan pada 2027.
Jalan lingkar tersebut direncanakan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan perkotaan sekaligus membuka akses baru yang diharapkan dapat mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi.
Sebelumnya Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro Edi Susanto mengatakan pembangunan JLS telah masuk program prioritas dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2027.
Studi kelayakan atau feasibility study dan desain pengembangan (development design/DD) jalan lingkar tersebut juga telah diselesaikan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Bojonegoro.
Desain pengembangan diperlukan untuk memperoleh gambaran detail mengenai konstruksi, spesifikasi material serta estimasi biaya pembangunan sebelum masuk ke tahapan dokumen konstruksi.
βKami menargetkan di 2027 sudah ada kegiatan,β kata Edi saat memaparkan proyek JLS Bojonegoro, beberapa waktu lalu.
Rencana pembangunan JLS sebenarnya bukan program baru. Proyek tersebut sebelumnya telah masuk dalam RPJMD Bojonegoro 2018-2023, tetapi belum terealisasi.
Rencana pembangunan jalan lingkar kemudian kembali dimasukkan dalam RPJMD Bojonegoro 2025-2029.
JLS Bojonegoro Dirancang Sepanjang Sekitar 37 Kilometer
Jalur JLS Bojonegoro direncanakan membentang sekitar 37 kilometer, dengan rute dari wilayah Ngujo, Kecamatan Kalitidu, hingga Proliman, Kecamatan Kapas.
Jalur tersebut menggunakan koridor Jalan Rajekwesi dan melewati sejumlah desa.
Di antaranya Desa Ngujo di Kecamatan Kalitidu, Desa Ngumpakdalem di Kecamatan Dander, serta Desa Bangilan, Tapelan, Tanjungharjo dan Kedaton atau kawasan Proliman di Kecamatan Kapas.
Rencana trase yang lebih luas mencakup empat kecamatan, yakni Balen, Sukosewu, Kapas dan Dander, dengan sekitar 16 desa diperkirakan masuk dalam jalur trase JLS.
Rencana tersebut juga mencakup pembangunan jalan layang atau flyover di sejumlah titik untuk mendukung konektivitas jalan dengan jalur kereta api.
Salah satu rencana lokasi flyover berada di sisi barat, yakni Desa Ngablak. Sementara sisi timur direncanakan berada di wilayah Desa Kabunan dan sebagian Desa Sobontoro, Kecamatan Balen.
Tahapan Pembangunan JLS Bojonegoro
Pembangunan JLS Bojonegoro masih melalui sejumlah tahapan sebelum masuk konstruksi fisik.
Rencana tahapan proyek antara lain:
2025: Studi kelayakan (feasibility study) selesai.
2026: Penyusunan Detailed Engineering Design (DED), dokumen Amdal, Andalalin, serta Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah (DPPT), termasuk sosialisasi kepada desa terdampak.
2027: Ditargetkan pelaksanaan pengadaan dan pembebasan lahan.
2028: Ditargetkan pembangunan fisik atau konstruksi dimulai.
Dengan tahapan tersebut, lahan warga yang berada di jalur trase akan menjadi bagian penting dalam proses pengadaan tanah sebelum pembangunan fisik dimulai.
JLS untuk Kurangi Kepadatan Kendaraan di Kota Bojonegoro
Pembangunan JLS juga diarahkan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan perkotaan Bojonegoro.
Kajian Dinas Perhubungan Bojonegoro sebelumnya menunjukkan rasio arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan perkotaan telah mencapai lebih dari 0,9. Kecepatan kendaraan rata-rata juga berada di kisaran 20 kilometer per jam.
Kepadatan tersebut salah satunya dipengaruhi kendaraan besar dari arah Surabaya maupun Ngawi yang masih melintasi kawasan perkotaan Bojonegoro.
Sejumlah ruas yang terdampak arus kendaraan antara lain Jalan Ahmad Yani, Jalan Gadjah Mada, Jalan Untung Suropati dan Jalan Rajekwesi.
JLS diharapkan dapat menjadi jalur alternatif bagi kendaraan, khususnya kendaraan besar, sehingga arus lalu lintas tidak seluruhnya masuk ke pusat kota.
Rencana jalan lingkar selatan tersebut pada awalnya dirancang berupa dua jalur dengan masing-masing lebar sekitar 8 meter, dilengkapi trotoar di sisi kanan dan kiri jalan.
Advertisement