129 Sekolah di Sidoarjo Direvitalisasi, Ada 1.500 Smart Board
Sebanyak 129 satuan pendidikan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mendapat program revitalisasi sekolah dari pemerintah pusat. Bantuan tersebut menyasar jenjang PAUD, SD, hingga SMP dan menjadi salah satu upaya mempercepat peningkatan kualitas sarana pendidikan di daerah.
Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), menilai program revitalisasi tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan fasilitas pendidikan di Sidoarjo semakin layak dan mampu menunjang proses belajar mengajar.
Hal itu disampaikan BHS saat meninjau pelaksanaan revitalisasi di SMP Negeri 4 Sidoarjo, Jumat l, 4 September 2026.
“Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam merealisasikan perhatian terhadap pendidikan. Saya ingin melihat di Sidoarjo mendapat berapa. Ternyata ada 129 satuan pendidikan yang mendapatkan revitalisasi,” kata BHS.
Dari total 129 satuan pendidikan penerima program, sebanyak 32 merupakan jenjang PAUD, 81 SD, dan 16 SMP.
BHS menyebut jumlah penerima pada jenjang SMP cukup signifikan. Dari 16 SMP yang mendapatkan program revitalisasi, jumlah tersebut disebut hampir mencapai separuh dari keseluruhan SMP negeri yang ada di Kabupaten Sidoarjo.
Salah satu sekolah penerima adalah SMP Negeri 4 Sidoarjo. Revitalisasi di sekolah tersebut meliputi perbaikan bangunan serta pembangunan dua ruang kelas baru.
Tambahan dua ruang kelas itu diproyeksikan meningkatkan kapasitas pembelajaran dan dapat menampung lebih dari 50 siswa.
Menurut BHS, perhatian pemerintah pusat terhadap pendidikan tidak berhenti pada pembangunan dan perbaikan fisik sekolah. Dukungan teknologi pembelajaran juga menjadi bagian penting yang perlu dimanfaatkan secara maksimal.
Ia menyebut Sidoarjo mendapatkan sekitar 1.500 perangkat smart board untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi. Setiap perangkat diperkirakan memiliki nilai sekitar Rp70 juta.
“Bayangkan, satu smart board sekitar Rp70 juta. Ini penting sekali untuk direalisasikan di Sidoarjo,” ujarnya.
BHS menilai, keberadaan fasilitas pendidikan yang memadai dan dukungan teknologi harus diikuti dengan pemanfaatan serta pemeliharaan yang baik. Menurutnya, pembangunan sarana pendidikan pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Terlebih, Sidoarjo merupakan salah satu daerah dengan aktivitas industri yang cukup besar. BHS mencatat terdapat sekitar 900 industri besar serta 15.000 industri menengah dan kecil yang membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri.
“Sidoarjo memiliki sekitar 900 industri besar dan 15.000 industri menengah kecil. Ini membutuhkan anak-anak yang setelah mendapatkan pendidikan siap pakai dan memiliki kemampuan yang unggul,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo Netti Lastiningsih menyambut baik program revitalisasi sekolah yang digulirkan pemerintah pusat.
Menurut Netti, dukungan tersebut sangat membantu pemerintah daerah karena kemampuan APBD masih terbatas untuk menangani seluruh kebutuhan perbaikan sekolah, terutama kerusakan berat dan pembangunan ruang kelas baru.
“Kami dari Dinas Pendidikan sangat men-support dan mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah melakukan kegiatan revitalisasi seperti ini. Ini sangat membantu karena APBD belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan kerusakan maupun rehabilitasi berat, termasuk ruang kelas baru,” ujar Netti.
Netti juga meminta seluruh satuan pendidikan di Sidoarjo, mulai PAUD, SD hingga SMP, memperbarui data pokok pendidikan (Dapodik), khususnya mengenai kondisi sarana dan prasarana.
Menurutnya, validitas data menjadi faktor penting dalam menentukan sekolah yang akan mendapatkan program revitalisasi pada tahap berikutnya.
“Data utamanya adalah Dapodik. Karena itu sekolah harus melakukan update, terutama mengenai kondisi sarana dan prasarana yang ada di sekolah,” katanya.
Ia menjelaskan, data yang diperbarui secara berkala akan membantu pemerintah pusat memperoleh gambaran mengenai kondisi riil sekolah. Dengan demikian, penentuan penerima bantuan revitalisasi dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Netti berharap program revitalisasi sekolah terus berlanjut sehingga lebih banyak satuan pendidikan di Kabupaten Sidoarjo, khususnya yang belum memperoleh bantuan, dapat menjadi penerima pada tahap berikutnya.
“Harapannya, penerima revitalisasi di Kabupaten Sidoarjo semakin lebih banyak, terutama sekolah yang belum masuk agar segera mendapatkan program,” pungkasnya.