Sukatani Tarik Lagu 'Bayar Bayar Bayar', Pakar Budaya: Ada Intervensi
Keputusan band punk Sukatani untuk menarik lagu "Bayar Bayar Bayar" dan meminta maaf kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengundang perbincangan publik. Pakar Budaya Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Puji Karyanto menyayangkan keputusan itu.
Menurut Puji, tindakan penarikan itu patut diduga terjadi karena adanya intervensi dan tekanan pihak tertentu. Bahkan, publik semakin bertanya soal kebebasan berekspresi dunia seni tanah air.
“Take down lagu dan pernyataan maaf justru menjelaskan hal yang sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa Sukatani melakukannya karena pihak yang jadi sasaran kritik menekan mereka," paparnya.
Puji juga menerangkan, ekspresi seni seharusnya menyenangkan dan bermanfaat. Termasuk karya seni lagu milik Sukatani yang seharusnya dihargai karena menyampaikan kritik yang penting.
Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Unair tersebut juga menjelaskan bahwa dalam kesenian ada konsep dulce et utlile. Yakni, ekspresi seni yang bagus bukan hanya sekedar menyenangkan, tetapi juga memiliki kegunaan.
"Karena melalui karya musikalitas, ada lirik-lirik kritis untuk meluruskan kebengkokan yang terjadi di sekitar kita," paparnya.
Lebih lanjut, Puji juga mengaitkan kejadian ini dengan fenomena yang lebih besar terkait kebebasan para pelaku seni di Indonesia. Misalnya pembatalan pameran lukisan Yos Suprapto di Galeri Nasional beberapa waktu silam.
"Ini mengkonfirmasi bahwa kebebasan berekspresi dalam dunia seni kita sedang tidak baik-baik saja, sebagaimana pameran lukisan yang sebelumnya dibatalkan," pungkasnya.