Sosok Kiai Musta’in Romly, Visioner dalam Dakwah dan Pendidikan Umat
Dalam khazanah pendidikan Islam Indonesia, nama Dr. KH Musta’in Romly adalah sosok yang sulit dilewatkan. Beliau adalah salah satu ulama yang mampu menjembatani dua dunia yang kerap dipertentangkan.
Dua dunia itu adalah tradisi pesantren yang berakar kuat pada khazanah keilmuan klasik Islam dan tuntutan modernisasi pendidikan yang meniscayakan keterbukaan terhadap perkembangan zaman. Buktinya adalah melalui kiprah panjangnya di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang, serta pendirian Universitas Darul Ulum (Undar).
Inilah yang membuat KH Musta’in Romly membuktikan bahwa pesantren tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat menjadi pelopor perubahan. Cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid bahkan menggambarkannya sebagai kiai yang visioner dan progresif, yang memiliki keluasan pandangan terhadap dunia modern.
KH Musta’in Romly lahir di Rejoso, Jombang, pada 31 Agustus 1931. Sejak kecil beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren yang kuat. Ayahandanya, KH Romly Tamim merupakan pengasuh Pesantren Darul Ulum sekaligus Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang berpengaruh. Sedari usia dini Musta’in menempuh pendidikan agama yang ketat. Selain itu juga disiplin spiritual, serta tradisi intelektual pesantren yang kokoh.
Pada tahun 1949, KH Musta’in melanjutkan pendidikan ke Akademi Dakwah Al-Mubalighin di Semarang. Kemudian melanjutkan jenjangnya di Solo hingga 1954. Ketika masa pendidikan kemampuan kepemimpinan dan daya pikirnya mulai terlihat menonjol. Salah satunya adalah menggagas berdirinya Persatuan Mahasiswa Jombang. Sepulangnya ke kampung halaman, Musta’in langsung aktif dalam Nahdlatul Ulama dan mendapatkan kepercayaan menjadi pengurus IPNU Pusat pada periode 1954–1956.
Tahun 1958 adalah fase penting dalam hidup KH Musta’in Romly. Setelah wafatnya KH Romly Tamim, beliau ditunjuk untuk menggantikan ayahnya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum sekaligus Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Usianya saat itu baru menginjak 27 tahun. Walau usianya yang terbilang sangat muda namun dari sinilah kepemimpinannya mulai menunjukkan arah dan karakter yang khas yaitu berani, visioner, dan berpikir jauh ke depan.
Di bawah kepemimpinannya, Pesantren Darul Ulum mengalami transformasi signifikan. Pesantren tidak lagi hanya menjadi pusat pengajian kitab kuning, tetapi berkembang sebagai lembaga pendidikan terpadu. Sistem pembelajaran klasik tetap bertahan namun Kiai Musta’in melengkapinya dengan pendidikan formal mulai dari tingkat menengah hingga atas. Beliau yakin bahwa pesantren harus mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai pusat keilmuan Islam.
Gagasan besar KH Musta’in Romly mencapai puncaknya dengan berdirinya Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang pada 18 September 1965. Universitas ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan pesantren di Indonesia. Hal unu karena Undar merupakan salah satu perguruan tinggi pertama yang lahir dari lingkungan pesantren. Undar didirikan dengan semangat integrasi ilmu agama dan ilmu umum, sebuah konsep yang kala itu masih terbilang berani dan tidak lazim. Motto yang diusung, “Berotak London, Berhati Masjidil Haram,” mencerminkan cita-cita besar KH Musta’in: melahirkan generasi Muslim yang unggul secara intelektual sekaligus kokoh secara spiritual.
Visi global KH Musta’in Romly tidak berhenti pada pendirian universitas. Ia aktif melakukan perjalanan ke berbagai negara di Timur Tengah, Eropa, dan Asia sebagai bagian dari studi perbandingan pendidikan. Dari perjalanan-perjalanan tersebut, lahir berbagai kerja sama internasional, antara lain dengan Iraq University dan Kuwait University, baik dalam bentuk pertukaran tenaga pengajar maupun beasiswa. Atas dedikasinya di dunia pendidikan, pada tahun 1977 ia dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari Macau University.
Selain sebagai pendidik dan ulama, KH Musta’in Romly juga dikenal sebagai tokoh yang berani dalam mengambil sikap politik. Pada masa Orde Baru, ia memilih jalan yang berbeda dengan mayoritas ulama Nahdliyin dengan bergabung ke Golkar. Sikap ini menuai kontroversi dan penolakan, bahkan dari kalangan dekatnya sendiri. Namun bagi KH Musta’in, politik bukanlah agama. Partai hanyalah alat perjuangan untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Ia berkeyakinan bahwa kader NU harus hadir di berbagai lini kekuasaan agar nilai-nilai keislaman dapat mewarnai kebijakan negara. Sikap inilah yang kelak sejalan dengan semangat Khittah NU 1984, yang menegaskan posisi NU sebagai organisasi sosial-keagamaan, bukan partai politik.
Di samping kiprah politiknya, KH Musta’in Romly tetap istiqamah sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Ia juga mendirikan Jam’iyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah Indonesia (JATMI) dan menjadi Rois ‘Am hingga akhir hayatnya. Aktivitasnya yang padat dijalani dengan manajemen waktu yang ketat. Dengan semboyan 3S yaitu Santai, Serius, Sukses. Beliau membagi waktu antara urusan kenegaraan, pesantren, universitas, jamaah thariqah, dan keluarga. KH Musta’in Romly wafat pada 21 Januari 1985, dalam keadaan berdzikir setelah salat Isya.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar Pesantren Darul Ulum, tetapi juga bagi dunia pendidikan Islam dan bangsa Indonesia. Ribuan pelayat hadir, termasuk para pejabat negara, tokoh ulama, dan akademisi. KH Musta’in Romly meninggalkan teladan tentang keberanian berpikir, keikhlasan berjuang, dan kemampuan membaca masa depan. Sosoknya membuktikan bahwa pesantren bisa modern tanpa kehilangan ruh, dan Islam dapat bergerak maju tanpa tercerabut dari akar tradisinya.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement