RSUD Dr. Soetomo Buat Terobosan Baru Psychosurgery Pertama di Indonesia
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya menciptakan terobosan baru melakukan psychosurgery atau bedah saraf dengan tindakan stereotactic capsulotomy pertama di Indonesia yang dilakukan saat tindakan di Ruang Operasi Graha – STOC RSUD Dr. Soetomo, Rabu 22 April 2026.
Stereotactic Capsulotomy sendiri merupakan prosedur bedah saraf yang dilakukan secara presisi dengan menargetkan area tertentu pada otak yang berperan dalam regulasi emosi dan perilaku.
Melalui teknik ini, diharapkan terjadi perbaikan pada gejala utama pasien, khususnya perilaku agresif serta halusinasi yang selama ini sulit dikendalikan dengan terapi konvensional.
Direktur Utama (Dirut) RSUD Dr. Soetomo, Prof Cita Prakoeswa mengatakan, tidakan ini merupakan kerja sama dengan tim dari West China Hospital, Sichuan University di Chengdu. Kerjasama ini dapa memperkuat kapasitas sumber daya manusia, transfer teknologi, dan akan membuka peluang peningkatan mutu layanan kesehatan bertaraf Internasional di Jatim.
Ia mengatakan, pelaksanaan tindakan psychosurgery ini merupakan wujud komitmen RSUD Dr. Soetomo dalam menghadirkan layanan kesehatan yang inovatif dan berbasis multidisiplin.
“Ini adalah langkah maju dalam pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia. Kami berupaya memberikan pilihan terapi terbaik bagi pasien. Khususnya yang tidak merespons pengobatan konvensional, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan etika medis,” kata Cita.
Tindakan operasi ini sendiri dilaksanakan secara multidisiplin terhadap dua pasien asal Malang yang didiagnosis mengalami skizofrenia paranoid resisten terapi. Dalam tindakan ini melibatkan tim dari berbagai bidang, yakni bedah saraf, psikiatri, anestesi, serta psikologi klinis.
Dalam kasus ini, tim medis menyampaikan bahwa kedua pasien sebelumnya telah menjalani berbagai terapi standar, namun belum menunjukkan perbaikan signifikan, terutama terkait gejala agresivitas dan halusinasi yang dominan. Kondisi tersebut menjadi dasar pertimbangan dilakukannya tindakan Stereotactic Capsulotomy sebagai langkah lanjutan.
Dokter Penanggung Jawab Pasien, dr. Azimatul Karimah, SpKJ (K), menjelaskan bahwa tindakan ini menjadi salah satu opsi terapi lanjutan bagi pasien dengan kondisi resisten. Pasien dengan skizofrenia paranoid resisten terapi seringkali mengalami hambatan dalam pengendalian gejala, meskipun telah mendapatkan pengobatan optimal.
“Melalui tindakan Stereotactic Capsulotomy ini, kami berharap dapat membantu mengurangi gejala dominan seperti agresivitas dan halusinasi, sehingga kualitas hidup pasien dapat meningkat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pemilihan tindakan ini telah melalui proses asesmen ketat dan melibatkan berbagai disiplin ilmu. “Pendekatan multidisiplin sangat penting untuk memastikan bahwa tindakan yang diberikan benar-benar sesuai indikasi dan dilakukan dengan standar keamanan yang tinggi,” ujarnya.
Untuk itu, keberhasilan pelaksanaan tindakan ini menjadi langkah awal dalam pengembangan layanan kesehatan jiwa berbasis teknologi dan pendekatan multidisiplin di Indonesia.
Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif terapi bagi pasien dengan kondisi serupa yang tidak merespons pengobatan standar.