Rahasia Cabo Verde Lolos Piala Dunia: Pelajaran Berharga bagi Timnas Indonesia
Pasti banyak yang baru tahu ada negara bernama Cabo Verde. Ini setelah Tim Nasional sepak bolanya mampu menembus 32 besar di Piala Dunia. Bahkan lebih dulu lolos babak berikutnya ketimbang negara yang pernah menjajahnya Portugal.
Cabo Verde –dulu dikenal dengan Cape Verde– merupakan negara kepulauan di Samudra Antlantik. Berada di lepas pantai barat Afrika. Berhadapan dengan Senegal. Penduduknya hanya 500 ribu jiwa. Sepertujuh dari penduduk kota Surabaya.
Negeri ini baru merdeka tahun 1975. Berhasil membangun demokrasi dengan multipartai yang stabil pada tahun 1990. Ini yang menjadi keunggulan Capo Verde dibanding dengan negara-negara Afrika lain yang banyak dilanda konflik paska kemerdekaannya.
Jauh dibanding dengan negeri kita. Cabo Verde tak punya sumberdaya alam. Ini negara dengan 10 pulau vulkanik yang kecil. Hanya 10 persen wilayah yang bisa ditanami. Penghasilan utamanya dari jasa, pariwisata, transportasi laut, dan investasi asing.
Devisa bersumber dari diaspora yang tinggal di Amerika Serikat dan Eropa. Warganya banyak tinggal di Portugal, Prancis, Belanda, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa lainnya. Mereka ini tak hanya mengirimkan uang ke negerinya. Tapi juga membawa pengalaman profesional, pendidikan, dan talenta olahraga ke negerinya.
Bagaimana negara kecil dengan penduduk seuprit bisa mempunyai Timnas Sepakbola yang hebat? Apakah diaspora ini yang membuat Capo Verde berhasil mengirimkan Timnas yang tangguh di Piala Dunia 2026? Apa pelajaran yang bisa kota ambil dari pengalaman Capo Verde ini?
Tampaknya, keberhasilan sepak bola sebuah negara bukan ditentukan oleh besar kecilnya wilayah atau jumlah penduduk. Jika ukuran negara menjadi penentu, semestinya India dan China menjadi raksasa sepak bola dunia.
Faktanya tidak demikian. India dengan lebih dari 1,4 miliar penduduk belum pernah tampil di Piala Dunia. China yang memiliki populasi hampir sama juga belum mampu menjadi kekuatan sepak bola yang konsisten.
Banyak negara kecil justru mampu mencetak sejarah. Uruguay yang berpenduduk sekitar 3,5 juta jiwa dua kali menjadi juara dunia. Kroasia dengan empat juta penduduk menjadi finalis Piala Dunia 2018. Islandia dengan 400 ribu jiwa pernah lolos ke Piala Dunia.
Kini Cabo Verde menambah daftar negara kecil yang membuktikan bahwa ukuran bukanlah segalanya. Semua itu membuktikan bahwa sepakbola modern lebih ditentuka oleh kualitas sistem daripada besarnya populasi.
Ada tiga faktor yang bisa jadi tempat pembelajaran dari keberhasilan Cabo Verde. Pertama, diaspora. Inilah modal terbesar Cabo Verde. Jumlah warga keturunan Cabo Verde yang tinggal di luar negeri diperkirakan jauh lebih banyak dibandingkan penduduk yang tinggal di negaranya sendiri.
Anak-anak keturunan Cabo Verde tumbuh di Portugal, Belanda, Prancis, Belgia, dan berbagai negara Eropa yang memiliki sistem pembinaan sepak bola kelas dunia. Mereka masuk akademi profesional sejak kecil, mendapatkan pelatih terbaik, terbiasa dengan kompetisi berkualitas, dan sebagian berhasil menembus klub-klub elite Eropa.
Ada sederet nama pemain Timnas Cabo Verde yang main di berbagai klub di Eropa. Sebut saja Logan Costa yang berkarir di Liga Perancis dan Spanyol, Ryan Mendes di Perancis dan Nottingham Forrest, Jovane Cabral sayap kanan produk akademi Sporting CP Portugal, dan masih banyak lagi.
Para diaspora tersebut tetap memiliki hak membela negara leluhur mereka. Federasi sepak bola Cabo Verde mampu membangun komunikasi yang baik dengan diaspora tersebut. Mereka dijadikan bagian bangsa Cabo Verde yang memiliki tanggung jawab bersama membangun negaranya.
Model seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Maroko, Aljazair, Senegal, Ghana, Nigeria hingga Mali juga mengembangkan strategi yang sama. Bahkan banyak negara Eropa memanfaatkan pemain keturunan dari berbagai belahan dunia.
Kedua, stabilitas demokrasi dan tata kelola negara. Prestasi olahraga tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari institusi yang sehat. Sejak memasuki era demokrasi pada 1990, Cabo Verde relatif berhasil menjaga stabilitas politik.
Pergantian pemerintahan berlangsung damai. Lembaga-lembaga negara bekerja secara konsisten. Korupsi relatif rendah. Iklim investasi juga lebih kondusif. Semua itu memungkinkan organisasi olahraga bekerja dengan visi jangka panjang.
Federasi sepak bola tak harus terus-menerus menyesuaikan diri dengan perubahan politik. Program pembinaan dapat dijalankan secara berkesinambungan. Sponsor percaya menanamkan investasi. Klub-klub memiliki kepastian untuk mengembangkan akademi.
Ketiga, pembinaan usia dini yang konsisten. Inilah faktor yang paling menentukan. Pemain hebat tidak lahir dalam semalam. Mereka dibentuk melalui proses panjang sejak usia enam atau tujuh tahun.
Di negara-negara maju, pembinaan dimulai dari sekolah sepak bola, akademi klub, kompetisi kelompok umur, dan pelatih berlisensi. Juga ilmu gizi, sport science, hingga analisis performa. Semua berjalan berjenjang dan saling terhubung.
Setiap pemain berkembang melalui jalur yang jelas menuju sepak bola profesional. Karena itu, prestasi tim nasional sebenarnya adalah hasil investasi belasan tahun sebelumnya.
Di sinilah bangsa kita memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar. Jika melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, sebenarnya arah kebijakan sepak bola Indonesia sudah berada di jalur yang benar.
Perbaikan tata kelola PSSI mulai terlihat. Kompetisi perlahan dibenahi. Hubungan dengan FIFA semakin baik. Infrastruktur latihan mulai berkembang. Tim nasional kelompok umur juga menunjukkan peningkatan prestasi.
Yang paling menonjol tentu adalah keberhasilan Indonesia memanfaatkan pemain diaspora. Program naturalisasi yang berbasis garis keturunan Indonesia sesungguhnya memiliki logika yang sama dengan Cabo Verde.
Indonesia memiliki jutaan diaspora dan keturunan Indonesia yang tersebar di Belanda maupun berbagai negara lain. Sebagian tumbuh dalam lingkungan sepak bola Eropa yang jauh lebih kompetitif daripada Indonesia.
Mengajak mereka memperkuat tim nasional bukan berarti mengabaikan pemain lokal. Sebaliknya, mereka menghadirkan standar profesional yang lebih tinggi, dan membawa pengalaman bertanding di liga-liga terbaik dunia.
Dalam ilmu pembangunan, strategi seperti ini dikenal sebagai brain gain. Yakni, memanfaatkan sumber daya manusia diaspora untuk mempercepat kemajuan negara asal. Jika di ekonomi ada transfer teknologi, di sepak bola terjadi transfer budaya profesional.
Karena itu, langkah Indonesia memanfaatkan diaspora tak perlu diperdebatkan lagi. Pengalaman Cabo Verde justru membuktikan bahwa strategi tersebut memang tepat. Namun, diaspora tidak boleh menjadi satu-satunya sandaran.
Indonesia tidak mungkin selamanya mengandalkan pemain yang lahir dan dibesarkan di luar negeri. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki modal yang jauh lebih besar dibanding Cabo Verde, yakni populasi lebih dari 280 juta jiwa.
Dengan jumlah penduduk sebesar itu, Indonesia sesungguhnya memiliki cadangan bakat yang luar biasa. Persoalannya bukan kekurangan pemain, melainkan belum optimalnya sistem menemukan, membina, dan mengembangkan pemain sejak usia dini.
Di sinilah agenda reformasi berikutnya harus difokuskan. Apa itu? Kompetisi usia muda harus berlangsung sepanjang tahun. Setiap klub profesional wajib memiliki akademi yang benar-benar hidup.
Pelatih usia dini harus terus ditingkatkan kualitasnya. Pencarian bakat harus menjangkau seluruh daerah. Ilmu olahraga modern, mulai dari nutrisi, psikologi, analisis data hingga sport science, perlu menjadi bagian dari pembinaan.
Jika Indonesia mampu menggabungkan tiga kekuatan – diaspora, tata kelola, dan pembinaan usia dini– sekaligus, maka peluang menjadi kekuatan sepak bola Asia makin terbuka. Bahkan berlaga di panggung dunia.
Yang juga penting, kita perlu percaya penuh dengan pelatih yang telah dipilih. Bukan percaya kepada pelatih dadakan yang lahir setiap laga timnas berlangsung. Para komentator berlagak pelatih yang merasa strategi merekalah yang paling benar.