Potensi Budaya dan Juanda, Sidoarjo Bisa Jadi Gerbang Wisata Jatim
Kabupaten Sidoarjo didorong untuk mengubah posisi strategisnya dari sekadar daerah penyangga Surabaya menjadi salah satu pintu masuk utama pariwisata Jawa Timur. Keberadaan Bandara Internasional Juanda, jaringan kereta api, serta akses jalan yang terhubung dengan berbagai daerah dinilai menjadi modal besar untuk mengembangkan sektor wisata.
Tidak hanya mengandalkan konektivitas, Sidoarjo juga memiliki beragam potensi wisata berbasis budaya, seni tradisional, kuliner, sejarah, hingga produk kriya yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), mengatakan potensi tersebut perlu dikemas secara lebih kreatif agar mampu menarik wisatawan dari dalam maupun luar daerah.
Menurutnya, kekayaan budaya Sidoarjo seperti tari tradisional, ludruk, wayang kulit, wayang orang, ketoprak, campursari, serta kuliner khas merupakan aset daerah yang memiliki nilai jual pariwisata.
“Potensi Sidoarjo untuk pariwisata luar biasa besar. Budayanya begitu besar dan ini bisa dikemas sedemikian rupa semaksimal mungkin untuk kepentingan promosi pariwisata,” kata BHS dalam Bimbingan Teknis Promosi dan Branding Wonderful Indonesia di Sidoarjo.
BHS menilai pengembangan pariwisata Sidoarjo perlu melihat posisi geografis daerah tersebut. Bandara Internasional Juanda yang berada di wilayah Sidoarjo menjadi salah satu akses penting bagi wisatawan yang datang ke Jawa Timur.
Selain jalur udara, konektivitas melalui kereta api dan jalur darat juga membuka peluang bagi Sidoarjo untuk mengarahkan wisatawan agar tidak hanya melintas, tetapi singgah dan menikmati berbagai potensi yang dimiliki daerah.
“Diharapkan Sidoarjo ini bisa menjadi pusat budaya atau pariwisata yang ada di Jawa Timur,” ujarnya, Sabtu 8 Agustus 2026.
Produk Wisata Sidoarjo Sudah Ada
Analis SDMA Ahli Muda Kementerian Pariwisata RI, Nur Dewati, mengatakan,pemerintah pusat siap memberikan dukungan terhadap pengembangan pariwisata di Sidoarjo melalui fasilitasi sesuai kebutuhan daerah.
Ia menilai Sidoarjo sebenarnya telah memiliki dua modal penting untuk membangun sektor pariwisata, yakni konektivitas dan produk wisata.
“Modal utama sudah dimiliki oleh Sidoarjo. Produk-produk sudah dimiliki, tinggal bagaimana cara mengembangkannya,” kata Nur Dewati.
Menurut Nur Dewati, pekerjaan berikutnya adalah memastikan berbagai potensi tersebut dikembangkan menjadi produk wisata yang menarik, mudah dikenali, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Pengembangan pariwisata juga tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Kolaborasi heksahelix yang melibatkan legislatif, pemerintah daerah, media, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat diperlukan untuk membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
Sementara itu, Kabid Pariwisata Disporapar Sidoarjo, Ruli Rochmawati, menilai pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian penting dalam memperkenalkan potensi wisata Sidoarjo.
Menurutnya, destinasi wisata, kuliner, hingga produk kriya lokal perlu dikemas dengan pendekatan storytelling agar memiliki cerita yang kuat dan lebih mudah menarik perhatian masyarakat.
Promosi melalui berbagai platform digital juga dinilai dapat membantu memperluas jangkauan pemasaran produk pariwisata Sidoarjo. Dengan strategi tersebut, potensi lokal diharapkan tidak hanya dikenal masyarakat sekitar, tetapi mampu menjangkau wisatawan dari berbagai daerah.
“Harapannya, dengan pemanfaatan digitalisasi tersebut, peningkatan pertumbuhan perekonomian di Kabupaten Sidoarjo bisa menjadi lebih baik,” kata Ruli.