Populasi Sapi Jember Turun 30 Persen, Pemkab Gencar Lakukan Inseminasi Buatan dan Transfer Embrio
Populasi sapi di Kabupaten Jember turun sebesar 30 persen pasca terserang penyakit gigi dan mulut (PMK). Karena itu, Pemkab Jember melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan melakukan Inseminasi Buatan (IB) dan Transfer Embrio (TE).
Pemberian IB dan TE, salah satunya dilakukan di Kecamatan Ambulu, dalam rangkaian program Bungadesaku, pada Senin, 28 Juli 2025.
Bupati Jember, Muhammad Fawait, mengatakan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto pemerintah diminta menjaga ketahanan pangan, termasuk hewan ternak sapi. Apalagi di Jember nanti akan ada 250 dapur sehat program makan bergizi gratis (MBG).
Jangan sampai saat dapur MBG telah siap beroperasi justru terjadi kelangkaan daging dan harga mahal, di Jember.
Agar stok daging selalu aman, Gus Fawait meminta Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan melakukan klaster dan membentuk desa tematik. Nanti akan ada pemetaan desa dengan potensi hewan ternak tertentu, seperti desa tematik domba dan tematik sapi. Selain itu, Gus Fawait juga meminta dilakukan pendataan ulang terkait populasi sapi di Jember.
“Terkait swasembada daging di Jember kita akan mengecek ulang populasi sapi di Jember. Setelah populasi dapat diketahui, bisa dibuatkan kebijakan yang sesuai,” katanya.
Lebih jauh, Gus Fawait, mengatakan, dalam menjaga swasembada daging tidak perlu mengesampingkan pertanian. Sebab, mayoritas petani di Jember juga beternak hewan di rumah mereka.
“Semua potensi di Jember sudah ada, tinggal kita bersinergi dengan pemerintah pusat,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jember Widodo Julianto menyatakan populasi sapi di Jember sempat tembus 500 ribu ekor. Namun, populasi tersebut mengalami penurunan 30 persen pasca PMK.
Karena itu untuk mengembalikan populasi, pihaknya melakukan IB dan TE. Selain itu, pihaknya juga masih intens melakukan vaksinasi. Sebab, sapi yang pernah terjangkit PMK memiliki tingkat keberhasilan rendah saat dilakukan IB dan TE.
Kendati demikian, Widodo mengatakan proses pemberian vaksin belum selesai dengan cepat. Selain karena keterbatasan SDM, percepatan vaksinasi hewan juga terkendala mindset peternak.
Widodo mencatat vaksinasi hewan saat ini mencapai 50 persen. Sedangkan alokasi vaksin yang ada saat ini 15 ribu dosis. Jumlah tersebut akan ditambah oleh Pemprov Jatim.
“Vaksinasi merupakan program dari pusat dan provinsi. Ada beberapa kendala, salah satunya mindset peternak. Peternak masih khawatir pasca vaksin hewan peliharaan sakit. Ada peternak yang trauma, makanya kita sosialisasi terus agar semua divaksin,” pungkasnya.