Politisi Ini Jadikan Durian Pilihan Pekerjaan Keren Anak Muda
Oleh: Arif Afandi
Beginilah kalau seorang politisi berubah haluan menjadi petani. Tetap saja kosa kata dan pendekatan politik melekat dalam segala aktifitasnya. Juga istilah yang diproduksinya.
Itu terjadi pada Anna Luthfie. Mantan politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini sekarang menjadi petani durian. Jadilah nama Republik Durian di kebun pertamanya. Lokasinya ada di Ngaglik, Srengat, Blitar.
Saya sudah sejak lama ingin berkunjung ke tempat tersebut. Tapi baru bulan ini keturutan. Kebetulan saya punya kenangan dengan rumah orang tua Anna Lutfie yang kini ia jadikan markas gerakan Republik Durian
Loh? Ya. Ayah Anna Lutfie adalah guru saya waktu sekolah di PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Blitar. Pak Mughni, namanya. Seorang guru Nahwu-Sharaf (tata bahasa Arab) yang zuhud.
Saat masih menjadi muridnya di sekolah setingkat SMP itu, saya berkunjung ke rumahnya. Naik sepeda ontel. Sekitar 15 kilometer dari sekolah. Pak Mughni pulang pergi ke sekolah tempat ia mengajar juga menggunakan sepeda onta. Dia dikenal sebagai salah satu guru yang sangat sederhana dan sabar.
Kebun Republik Durian persis berada di belakang rumahnya. Yang lebih luas berada di jalan belakang rumahnya lagi. Kebun yang sudah berderet-deret tertanam pohon durian. Juga showroom durian yang menjadi jujugan para penggemarnya.
Saat ini ia menanam durian premium: blackthorn dan musangking. Yang harganya Rp 350 ribu per kilogram. Sudah ada 100-an pohon durian. Setiap tahun sudah memanen. Susah banyak pelahap durian premium dari luar Blitar menjadi pelanggannya.
Masing-masung durian ditanam dengan jarak 10 meter. Ditata berjajar. Memang pohonnya belum terlalu tinggi. Namun, kebun tersebut sudah mengasyikkan untuk menikmati durian sambil bercengkerama di gazebo maupun kursi yang ada di kebunnya.
Saat saya memasuki kebun itu, ada lima orang anak muda sedang menikmati durian. Dari percakapan dan nomer plat mobilnya, mereka berasal dari Surabaya. Usai makan durian di kebun itu, mereka pulang dengan masing-masing menenteng satu durian jenis blackthorn atau musangking.
“Kapan hari ada satu keluarga dari Palopo Sulawesi. Ia terbang ke Surabaya terus ke Blitar hanya ingin makan durian di sini. Juga ada rombongan keluarga dari Jogja,” katanya penij semangat.
Karena itu, Anna Lutfie mengkategorikan penggemar durian ini sebagai loyalis sejati. Kalau sudah kepingin, di manapun didatangi. “Tingkat loyalitasnya diatas loyalitas orang PDI Perjuangan ke partainya,” katanya sambil tertawa.
Ia terinspirasi menjadi petani durian dari seniormya di PAN, Hilal Hamdi. Mantan menteri di era Presiden Gus Dur itu kini sudah berkebun durian premium seluas 60 hektar. Dari awalnya hanya memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumahnya.
Ia bertambah semangat bergulat di Republik Durian setelah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indra Parawansa berkunjung ke kebunnya. Bahkan, sempat mengendorse melalui akun Tiktoknya jelang Pemilihan Gubernur Jatim, beberapa waktu lalu.
Setelah diendorse Ketua Umum Muslimat NU ini, banyak orang luar kota, bahkan luar Jawa berdatangan. ‘’Sampai sekarang, setiap ada tamu penting, Bu Khofifah minta dikirim durian Blackthorn dan Musangking dari sini,’’ tambah Lutfie.
Ia tak sekadar berkebun. Tapi ingin menjadikan menanam durian premium sebagai gerakan. Sebagai agenda perang terhadap kemiskinan. Juga perang terhadap pengangguran.
Juga agenda untuk memaksimalkan lahan tidur milik negara maupun ormas keagamaan. Selain itu, bisa menjadi pilihan pekerjaan baru yang superkeren bagi generasi muda.
Bahkan, ia tak berhenti dalam konsep. Anaknya yang baru saja lulus sarjana di Unair, kini memilih menekuni dunia pertanian durian dengan senang hati. Sehari-hari, putra tunggalnya bernama Rais Akbar Bagaskara, berada di kebun Republik Durian yang telah dikembangkan ayahnya.
‘’Ke depan makin banyak yang mengajak kerjasama untuk mengembangkan integrated farming ini. Karena itu, anak saya yang mulai mengurus kebun ini. Sedangkan saya pasti akan disibukkan dengan mengurus kerjasama dengan orang atau lembaga lain,’’ tambah Anna Lutfie yakin.
Berbeda dengan bertani secara konvensional, menanam durian premium ini bisa menjanjikan penghasilan yang besar. Karena satu pohon bisa menghasilkan puluhan juta rupiah setiap kali musim panen. Pasarnya juga sangat luas. Tidak hanya pasar domestik, tapi juga pasar ekspor.
Anna Lutfie memang tidak menjadikan bertanam durian sebagai agenda tunggal. Ia mengemasnya dalam konsep Integrated Farming –One Zone Ten Product Berbasis Desa dengan Tehnologi Tepat dan Digital. Di kebunnya yang sekarang, selain durian juga ada ternak ikan dan domba. Kotoran dan air ternaknya menjadi sumber pupuk.
Ia selalu tampak semangat dalam menceritakan gagasan barunya ini. Beberapa kali tampak sambil menangis ketika menceritakan perjuangannya untuk menjadi petani di desa dan bagiamana perlunya membuat gerakan untuk mengangkat derajat mereka. ‘’Sungguh, pemerintah harus hadir secara serius,’’ tegasnya.
Pertanian dan perkebunan seharusnya tidak sekadar menjadi program teknokratis dan birokratis pemerintah. Saatnya untuk menjadi gerakan. Tidak harus melalui pembukaan lahan baru jutaan hektar. Tapi cukup dengan memanfaatkan lahan pekarangan masyarakat. Hanya perlu pengorganisian dan pengklasteran.
Dibutuhkan makin banyak orang yang punya kepedulian. Yang bisa membina dan meyakinkan mereka untuk bertani dengan cara non-konvensional. Sekaligus menjadi offtaker alias penampung hasil perkebunan dan pertanian yang bernilai ekonomi tinggi. Kalau pun perlu ada cawe-cawe pemerintah, barangkali bisa menjadi penyedia bibit untuk warga di desa.
Kenapa harus menjadi gerakan? Biar kita tidak seperti tikus mati di lumbung beras. Biar tak menjadi bangsa yang dulunya eksportir menjadi importir. Juga biar tak dikenal sebagai negara yang berkali-kali gagal ketika ingin berswasembada pangan.
Tentu tak hanya menjadikan bertanam durian sebagai gerakan. Komoditi bernilai ekonomi lainnya bisa menjadi bagian dari konsep integrated farming berbasis desa dan menjadi gerakan lainnya. Sebagai terobosan lain mengatasi kemiskinan di desa dan alternatif membuka lapangan kerja baru.
Mosok gak isok Rek!