Pedagang Serundeng Pasar Pegirian Lupa Mudik, Kewalahan Layani Pesanan
Menjelang lebaran pedagang serundeng di Pasar Pegirian Surabaya, benar-benar panen. Pembelinya sudah antre sejak pukul 05.00 pagi. Mereka datang dari Lamongan, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto selain dari Surabaya.
"Saking banyaknya pesanan serundeng untuk lebaran, saya terpsksa menunda mudik," kata salah seorang pedagang serundeng di Pasar Pegirian yang biasa dipanggil Nur Aini.
Serundeng sering digunakan sebagai taburan pelengkap masakan seperti, bebek goreng, opor ayam, nasi kuning, lontong Cap Gomeh dan masih banyak lagi. Cara penggunakaannya cukup ditaburkan pada masakan yang akan di sajikan.
Proses pembuatan serundeng menggunakan sangrai kelapa parut bersama dengan rempah-rempah seperti bawang putih, bawang merah, kunyit, ketumbar, dan cabai, sehingga memiliki cita rasa gurih, dan aroma yang khas.
Pedagang serundeng yang satu ini cukup terkenal sampai tukang parkir pun tahu lokasi lapak Buk Nur ini. Orangnya suka bercanda dan selalu ramah dengan pelanggan.
Untuk membuat serundeng pada hari biasa memerlukan sekitar 1.500 butir kelapa. Menjelang lebaran sekarang menghabiskan sekitar 3.500 butir kelapa
"Alhamdulillah, yang pesan ramai, sampai kewalahan. Terpaksa harus gas pol," kata Nur Aini dengan gaya berjoget dalam melayani pelanggan.
Ia dibantu oleh putrinya, Ulfiyah, yang merangkap sebagai juru tulis atau pembukuan.
Kata Nur, pelanggannya selain dari kalangan rumah tangga, juga rumah makan/restoran, pengusaha katering hotel. Setiap pembelian bisa 5 sampai 10 kilogram. Per kilogram harganya Rp70 ribu.
"Pembelian dalam jumlah besar biasanya pelanggan memesan dulu melalui telepon, sehingga langsung disiapkan," katanya.
Nur Aini membanggakan kalau serundeng olahannya, selalu ikut ibadah haji dan umroh. *Sebelum berangkat jemaah ada yang belanja serundeng untuk bekal di tanah suci," katanya.
Lapak tempat Nur Aini jualan serundeng sekaligus menjadi dapur atau tempat memasak. Sehingga pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan serundeng dari masih berupa parutan kelapa sampai menjadi serundeng yang gurih.
Untuk melayani pelanggannya Nur Aini memasak serundeng menggunakan empat wajan berukuran besar, berdiameter sekitar 90 sentimeter.
Bahan dasar berupa parutan kelapa dipasok oleh pedagang lain, sehingga tinggal dibumbui. "Kalau 2000 butir kelapa diparut sendiri, kapan selesainya," jelas Aini dengan logat Madura yang medok.
Waktu yang diperlukan untuk memasak serundeng sekitar 3 sampai 5 jam, tergantung takaran parutan kelapa yang akan dimasak.
Di Pasar Pegirian awalnya ada beberapa pembuat serundeng, tapi hanya serundeng Bu Nur yang bertahan lebih dari 20 tahun.
" Di pasar Pegirian ini tinggal saya yang jualan serundeng. Belum ada rencana membuka cabang di tempat lain. Di sini saja sudah kewalahan," jelas Nur Aini.
Salah seorang pelanggan, Mariska Safitri mengakui serundeng buatan Nur Aini ini memang enak. Tak heran jika pembelinya sampai antre.
"Saya membeli 3kg untuk pelengkap masakan untuk menjamu tamu yang akan berlebaran ke rumahnya," katanya. Lebaran kali ini ia membuat menu opor ayam dan lontong.
Serundeng telah menjadi bagian integral dari masakan Indonesia dan varian-varian dari hidangan ini dapat ditemukan di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Setiap daerah mungkin memiliki variasi rasa dan bumbu yang berbeda, sesuai dengan preferensi lokal. Meskipun serundeng telah ada dalam masakan Indonesia selama berabad-abad, popularitasnya juga telah menyebar ke luar negeri, terutama di antara pencinta kuliner yang mencari pengalaman rasa yang unik.
Serundeng telah ada dalam masakan Indonesia selama berabad-abad. Hidangan ini memiliki akar dalam tradisi kuliner Indonesia yang kaya dan beragam.