Pencairan Anggaran Telat, Operasional SPPG Sumberejo Jember dihentikan Sementara
Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur terpaksa dihentikan sementara. Alasannya, akibat keterlambatan pencairan anggaran.
Kondisi ini berdampak langsung pada distribusi makanan bergizi serta aktivitas puluhan karyawan yang selama ini bergantung pada program tersebut.
Kepala SPPG Sumberejo, Dimas Widi Adi Nugroho, mengungkapkan, kendala utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan anggaran di akhir tahun.
Menurutnya, situasi tersebut tidak hanya terjadi di Ambulu, tetapi juga dialami sejumlah SPPG di daerah lain.
“Memang sekarang banyak kendala, mungkin karena menjelang tutup tahun. Anggaran sudah menipis, jadi pencairannya direncanakan di tahun depan,” katanya, Rabu, 17 Desember 2025.
Ia menjelaskan, informasi sementara yang diterima menyebutkan pencairan anggaran diperkirakan berlangsung pada awal tahun 2026 mendatang. Namun, kepastian waktu masih belum bisa dipastikan.
“Informasinya awal tahun. Tapi untuk pencairan kan bisa cepat, bisa lambat. Kalau dananya sudah cair, ya kita langsung laksanakan. Kalau belum, ya menunggu,” paparnya.
Dimas menegaskan, keterlambatan pencairan anggaran seperti ini belum pernah dialami SPPG Sumberejo sejak mulai beroperasi. Namun, pada akhir tahun ini, keterlambatan terjadi hampir merata.
“Kalau di kami sebelumnya belum pernah. Tapi sekarang ini banyak dapur lain juga mengalami keterlambatan. Bukan hanya di sini, di Mumbulsari, Gumukmas, bahkan di Lumajang juga ada,” jelasnya.
Lebih jauh Dimas menjelaskan SPPG Sumberejo diketahui mulai beroperasi sejak 10 November 2025. Selama lebih dari satu bulan berjalan, dapur tersebut memproduksi dan mendistribusikan ribuan porsi makanan bergizi setiap hari.
“Mulai jalan tanggal 10 November. Jadi sekitar satu bulan lebih tujuh hari. Setiap hari porsinya sekitar 2.455,” terangnya.
Namun, akibat tidak adanya dana operasional untuk pengadaan bahan baku seperti sayur dan daging, aktivitas produksi terpaksa dihentikan sementara mulai kemarin.
“Untuk bahan baku kan harus beli dulu, sedangkan beli itu harus ada dana. Kalau seperti ini, ya operasional libur sementara,” katanya.
Dimas berharap pencairan anggaran bisa segera dilakukan agar operasional SPPG kembali berjalan dan para pekerja dapat kembali beraktivitas.
“Kasihan juga kalau tidak jalan, pekerja kan jadi tidak ada kegiatan. Kami terus follow up supaya bisa cepat jalan lagi,” tegasnya.
Meski informasi pencairan masih simpang siur, ia menekankan harapan agar proses tersebut dapat dipercepat.
“Yang jelas ingin cepat, biar sama-sama jalan,” harapnya.
Puluhan Karyawan dirumahkan Sementara
Penghentian sementara ini juga berdampak pada tenaga kerja. Total terdapat sekitar 50 orang yang terlibat dalam operasional SPBG Sumberejo, termasuk kepala satuan, staf akuntansi, dan ahli gizi.
“Karyawan di sini ada 47 orang, kalau ditambah kepala SPBG, akuntansi, dan ahli gizi total sekitar 50 orang,” ungkapnya.
Selama operasional berhenti, para karyawan terpaksa dirumahkan sementara karena tidak ada aktivitas produksi.
“Kalau seperti ini ya libur dulu, karena bahan baku yang mau diolah juga tidak ada,” ujarnya.
Terkait libur sekolah dan momen Natal dan Tahun Baru (Nataru), Dimas menyebut distribusi sebenarnya masih memungkinkan dengan skema tertentu, seperti menu kering. Namun, pelaksanaannya tetap menunggu arahan lebih lanjut.
“Kalau libur sekolah, distribusi bisa saja dilakukan dengan menu kering. Tapi itu masih menunggu perintah dan kesepakatan dengan sekolah serta wali murid,” jelasnya.
Sementara itu, untuk bahan baku yang tersisa, pihak SPBG berupaya agar tidak terbuang sia-sia.
“Masih ada sisa bahan, terutama sayur. Kalau sisa sedikit biasanya dibagikan ke relawan supaya tidak terbuang,” pungkasnya.