Negara Diminta Naik Kelas dalam Rantai Pasok Industri Global
Setiap negara perlu memperkuat posisinya dalam rantai pasok industri global dengan menguasai tahapan produksi bernilai tambah tinggi. Negara tidak seharusnya menjauh dari jaringan produksi dunia, tetapi harus berupaya menjadi simpul penting yang sulit digantikan.
Peneliti Lab45, Haryadi, mengatakan rantai pasok industri global merupakan arsitektur pembagian kerja dunia dalam sektor industri. Sebuah produk akhir tidak lagi dibuat secara utuh di satu negara, melainkan melalui sejumlah tahapan yang tersebar di berbagai wilayah.
Tahapan tersebut meliputi riset dan pengembangan, desain, ekstraksi bahan baku, manufaktur komponen, perakitan, distribusi, pengelolaan data, pembiayaan, hingga pemasaran.
βPembagian tahapan produksi lintas negara itu dilakukan untuk mengoptimalkan efisiensi biaya, kecepatan produksi, dan pemanfaatan keahlian yang spesifik,β kata Haryadi dalam keterangannya, Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurut dia, tujuan ideal sebuah negara bukanlah menjadi mandiri dengan melepaskan diri dari rantai pasok industri global. Sebaliknya, negara harus membangun kemampuan agar sulit digantikan sekaligus terus naik menuju segmen produksi bernilai tambah lebih tinggi.
Bergeser dari Efisiensi ke Ketahanan
Haryadi menjelaskan, perkembangan rantai pasok industri global dapat dilihat melalui beberapa fase. Pada era 1980-an hingga 1990-an, dunia memasuki dekade offshoring dan perdagangan bebas.
Adopsi peti kemas, penurunan tarif perdagangan melalui GATT dan WTO, serta berkembangnya internet generasi pertama mendorong perusahaan multinasional memindahkan fasilitas manufakturnya ke negara-negara berbiaya produksi lebih murah, terutama di Asia.
Memasuki era 2000-an hingga 2010-an, rantai pasok global mengalami periode hiper-globalisasi. Konsep global supply chain (GSC) dan global value chain (GVC) berkembang melalui penghitungan produksi dan distribusi yang semakin presisi.
Sistem produksi ketika itu banyak mengadopsi model just-in-time untuk menekan biaya penyimpanan dan meminimalkan inventaris. Model tersebut sangat bergantung pada stabilitas geopolitik dan murahnya biaya transportasi laut.
Namun, sejak 2020, paradigma rantai pasok global mulai berubah. Pandemi Covid-19, ketegangan perdagangan Amerika Serikat dan China, konflik geopolitik, serta krisis logistik global memperlihatkan kerentanan sistem yang semata-mata berorientasi pada efisiensi.
βParadigmanya bergeser dari efisiensi murni atau just-in-time menuju ketahanan dan keamanan pasokan melalui pendekatan just-in-case,β ujarnya.
Tiga Karakter Baru Rantai Pasok Global
Haryadi mengidentifikasi tiga karakter utama rantai pasok industri global saat ini. Pertama, perusahaan multinasional tidak lagi mengandalkan satu pusat produksi global.
Lokasi produksi mulai didekatkan ke pasar konsumen melalui strategi nearshoring. Sebagian perusahaan juga memindahkan pasokan dan fasilitas produksinya ke negara-negara yang memiliki hubungan politik lebih dekat melalui strategi friendshoring. Langkah tersebut ditempuh untuk mengurangi risiko konflik, sanksi, dan ketegangan geopolitik.
Kedua, integrasi teknologi digital semakin menjadi kebutuhan utama. Teknologi internet of things (IoT), kecerdasan buatan prediktif, dan blockchain digunakan untuk melacak aliran bahan baku, memprediksi hambatan logistik, serta mengaudit kepatuhan terhadap standar lingkungan.
Ketiga, tekanan regulasi emisi memaksa perusahaan menghitung scope 3 emissions, yakni emisi tidak langsung yang timbul di sepanjang rantai nilai perusahaan.
βKeberlanjutan ekologis sekarang telah menjadi kualifikasi formal. Bukan lagi sekadar pelengkap citra korporasi,β katanya.
Jangan Hanya Menjual Bahan Mentah
Berdasarkan perubahan tersebut, Haryadi menilai posisi ideal industri nasional adalah berada pada tahapan bernilai tambah tinggi dalam konsep smile curve. Negara juga dapat membangun posisi sebagai simpul vital atau titik hambatan strategis yang sulit digantikan dalam rantai pasok global.
Suatu negara tidak boleh terus-menerus terjebak sebagai pemasok bahan mentah bernilai rendah atau sekadar menjadi tempat perakitan dengan biaya tenaga kerja murah.
Posisi yang lebih kuat dapat dicapai apabila industri nasional mampu menguasai komponen inti berteknologi tinggi, pengolahan bernilai tambah, kekayaan intelektual, dan desain teknis produk.
Untuk mencapai posisi tersebut, Haryadi menawarkan tiga strategi. Pertama, pemerintah perlu memperkuat insentif bagi kegiatan riset dan pengembangan serta memastikan terjadinya transfer teknologi dari investor asing.
Kebijakan itu diperlukan agar pemasok lokal dapat naik kelas dari penyedia bahan mentah atau komponen sederhana menjadi produsen komponen utama bernilai tinggi.
Kedua, pemerintah perlu menurunkan biaya logistik domestik melalui peningkatan efisiensi pelabuhan, konektivitas antarmoda transportasi, serta digitalisasi sistem kepabeanan. Efisiensi tersebut akan menentukan daya saing produk nasional dari sisi biaya maupun waktu pengiriman.
Ketiga, standar kualitas produk, keselamatan kerja, dan sertifikasi hijau di dalam negeri harus diselaraskan dengan standar internasional. Dengan demikian, industri lokal dapat memenuhi persyaratan untuk masuk ke dalam jaringan pemasok perusahaan multinasional.
Ancaman Marginalisasi Ekonomi
Haryadi mengingatkan bahwa keterputusan dari rantai pasok industri global dapat menimbulkan marginalisasi ekonomi. Kondisi itu terjadi ketika suatu negara terisolasi atau kehilangan keterkaitan dengan jaringan nilai global.
Akibatnya, produk industri nasional kehilangan akses ke pasar internasional. Transfer teknologi berhenti, sedangkan modal global enggan masuk.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan daya saing, ketertinggalan teknologi, hilangnya lapangan kerja berkualitas, dan stagnasi ekonomi karena negara hanya mengandalkan pasar domestik.
βNegara pada akhirnya kehilangan kemampuan menentukan posisi ekonominya sendiri karena tidak lagi menjadi bagian penting dari sistem produksi industri global,β tegasnya.
Menurut Haryadi, kemajuan suatu negara tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki. Kemajuan lebih banyak ditentukan oleh tingkat kompleksitas pengetahuan yang tertanam dalam struktur produksi industrinya.
Karena itu, strategi industri tidak cukup dilakukan dengan memilih sektor unggulan secara arbitrer. Negara harus membangun kemampuan teknologi, sumber daya manusia, infrastruktur, dan kelembagaan yang memungkinkan industri nasional bergerak menuju produk semakin kompleks.
βPesan pentingnya, jangan keluar dari rantai pasok industri global. Naiklah di dalamnya,β pungkas Haryadi.
Advertisement