Menteri Arema; Tangan Kanan Presiden Prabowo di Bidang Kesehatan
Ini berkah Ramadhan. Cornea Donation Center (CDC) RS Mata Undaan tiba-tiba mendapat kunjungan Wakil Menteri Kesehatan RI dr Benyamin Paulus Octavianus.
Dokter Benny –demikian ia biasa dipanggil– datang bersama Tim Verifikasi Bank Mata yang dipimpin Dokter Yanti Herman. Ia Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes RI.
Saya baru kenal dengan dokter ahli paru kelahiran Malang ini beberapa waktu lalu. Tepatnya diperkenalkan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia Pratikno. Dalam acara di Undip Semarang.
Namun, saat bertemu kembali, rasanya seperti telah lama mengenalnya. Orangnya humble. Banyak cerita. Menyenangkan. Tampak sekali perhatiannya kepada reformasi pelayanan kesehatan di Indonesia.
“Saya sudah tahu sejak lama RS Mata Undaan ini. Ketika saya sekolah di SMA Petra Manyar Surabaya sering lewat sini. Sejak dulu, RS ini sudah sangat terkenal,” katanya memuji.
Pria kelahiran 13 September 1963 ini memang sempat tinggal di Surabaya. Berarti, selain menjadi Aremania, ia juga pernah menjadi bonek. Aremania dan bonek adalah sebutan untuk suporter fanatik klub Arema dan Persebaya.
Paling tidak, ia berhak menyebut dirinya setengah Aremania dan setengah Bonek. “Tapi waktu di Surabaya saya lebih sering menonton Niac Mitra,” katanya. Yang ia maksud adalah klub bola persyarikatan saat itu.
Setelah lulus SMA, Dokter Benny hijrah ke Jakarta. Mengambil pendidikan lanjutan di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI). Lalu mengambil program spesialis Paru di Universitas Brawijaya Malang.
Saat menjalani pendidikan spesialis paru di Universitas Brawijaya, ia mengaku lebih banyak bekerja di RS Saiful Anwar Malang sebagai PPDS (Program Pendiidikan Dokter Spesialis).
“Karena itu, sebetulnya tidak perlu dipersoalkan apakah dokter spesialis itu dari RS atau dari Perguruan Tinggi. Sejak dulu antara university base dan hospital base sudah berjalan,” tambahnya.
Dokter Benny adalah putra Pendeta Petrus Octavianus. Pendiri Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) Batu, Malang. Yayasan ini memiliki banyak sekolah dan rumah sakit yang menyebar di seluruh Indonesia.
Karenanya, ia memiliki pengalaman yang cukup. Baik sebagai dokter, sebagai pemilik rumah sakit, maupun sebagai pekerja sosial. Pengalamannya itulah yang dijadikan dasar mereformasi ekosistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
Melalui ayahnya itu, ia mengenal keluarga Presiden Prabowo. Karena itu, ketika Presiden RI ke 8 itu mendirikan Partai Gerinda, Dokter Benny diminta untuk mengurus organisasi sayap kesehatan partai itu. Menjadi Ketua Badan Kesehatan Indonesia Raya (KESIRA).
Ia dikenal sebagai salah satu kepercayaan Presiden Prabowo di bidang kesehatan. Sebelum diangkat menjadi wakil menteri, pria berdarah NTT ini pernah menjadi Asisten Khusus Menteri Pertahanan Bidang Kesehatan saat Prabowo menjadi Menhan RI.
Begitu mantan Danjen Kopassus dilantik menjadi orang pertama RI, ia pun diangkat menjadi anggota Kabinet membantu Menkes Budi Gunadi Sadikin. Selain Dokter Benny, juga menjadi Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono.
Masuknya Dokter Benny yang kader Partai Gerindra, menjadi penyeimbang politik di dalam kementerian. Sebelumnya, Kementerian Kesehatan sangat kuat dengan teknokrat dan profesional di bawah Budi Gunadi Sadikin.
Ini artinya, presiden menempatkan figur yang punya loyalitas politik langsung. Ada mata dan telinga politik presiden di kementerian yang anggarannya sangat besar ini.
Sektor kesehatan menjadi bagian dari arsitektur kekuasaan politik. Bukan sekadar sektor teknokratis. Dokter Benny menjadi penghubung antara jaringan medis dengan politik. Sehingga presiden punya orang untuk memastikan programnya berjalan.
Seperti sampeyan tahu, Kementerian Kesehatan merupakan kementerian dengan anggaran besar dan program populis. Karena itu, perlu mendapat pengawalan khusus secara politik dari lingkaran presiden.
Kementerian ini harus mengawal berbagai program penting. Misalnya Program Makan Bergizi Gratis, penguatan layanan kesehatan primer, hilirisasi industri farmasi dan alat kesehatan. Juga reformasi sistem BPJS kesehatan.
Yang menarik, ia sedang mendesain pemerataan pelayanan kesehatan primer. Seperti akan merombak sistem pemilahan dokter spesialis dan dokter umum. Yang selama ini terkesan punya derajat berbeda.
Ke depan tidak akan ada pemilahan antara dokter spesialis dan umum. Ia akan mendorong dokter umum menjadi dokter spesialis keluarga. Sehingga tak akan ada lagi kasta dalam dunia kedokteran.
Bagi CDC RS Mata Undaan, kunjungan Dokter Benny ini sangat berarti. Menjadi penyemangat rumah sakit heritage terbesar di Indonesia bagian Timur ini. Sekaligus mendorong peran CDC RSMU yang berdiri di tahun 2020 ini lebih bermakna.
CDC RSMU merupakan unit sosial RS Mata Undaan yang berdiri sejak 2020. Diresmikan Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin melalui daring saat pandemi Covid melanda bangsa kita.
Bank Mata ini bergerak untuk mendorong semakin banyak calon donor kornea mata di Surabaya dan sekitarnya. Bagian dari upaya mengatasi prevalensi kebutaan akibat kornea.
Yang pasti, kunjungan Wamenkes Dokter Benny seperti mengingatkan kita bahwa urusan kesehatan tidak selalu lahir dari rapat panjang. Apalagi slide PowerPoint, atau pidato teknokratis yang tebal istilah.
Kadang ia lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: empati. Di tempat seperti CDC RS Mata Undaan inilah negara belajar melihat kembali tujuan aslinya. Membuat orang yang hampir kehilangan cahaya bisa kembali memandang dunia.
Bagi orang yang penglihatannya kembali pulih, negara bukan lagi konsep konstitusi. Negara adalah cahaya yang kembali masuk ke mata warganya yang semula tak bisa melihat.
Siapa sangka, percakapan tentang cahaya itu justru datang dari seorang Menteri Arema yang setengah Aremania, setengah Bonek. Kombinasi yang di sepak bola mungkin rawan ricuh. Tapi di dunia kesehatan justru bisa jadi obat penawar.
Suatu saat, ketika semakin banyak orang bisa melihat karena kornea yang didonorkan sesamanya, orang akan mengingat: pernah ada seorang wakil menteri yang mampir ke bank mata di Undaan pada siang di bulan Ramadhan.
Ia datang bukan membawa gol di Stadion Kanjuruhan atau Gelora 10 November. Tapi membawa sesuatu yang lebih penting, peluang bagi banyak orang untuk kembali melihat dunia dengan terang.
Kadang, revolusi kecil memang tidak datang dari tribun stadion. Tapi dari sepasang mata yang kembali menyala.