Mengenal Lebih Dekat IFI Surabaya, Jembatan Kebudayaan Prancis di Jawa Timur
Institut français d'Indonésie (IFI) Surabaya menggelar agenda tahunan Open House edisi 2026 di Jalan Ratna, Surabaya, Sabtu, 12 September 2026. Mengangkat tema utama musik yang diusung serentak oleh seluruh jaringan IFI di Indonesia, perhelatan ini menjadi ruang terbuka bagi masyarakat luas untuk mengenal kebudayaan, bahasa, serta peluang pendidikan tinggi di Prancis tanpa dipungut biaya.
Acara yang diinisiasi oleh jaringan kebudayaan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia ini diselenggarakan untuk mematahkan stigma serta rasa sungkan masyarakat umum dalam mengakses fasilitas diplomatik dan ruang kebudayaan asing. Seluruh kalangan, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat dewasa diajak merasakan langsung pengalaman berinteraksi dengan tradisi dan modernitas Prancis.
Penanggung Jawab Bidang Kebudayaan dan Komunikasi IFI Surabaya, Pramenda Krishna, menyampaikan bahwa kegiatan ini digelar sebagai bentuk komitmen dalam membuka akses seluas-luasnya bagi publik. IFI ingin menunjukkan, pusat kebudayaan tersebut ramah dan dapat diakses oleh siapa saja.
"Sebenarnya kita satu tahun sekali itu membuka IFI untuk masyarakat seluas-luasnya, seluas mungkin, ya untuk mengenalkan IFI dan kebudayaan Prancis. Kadang orang takut datang masuk, padahal ini gratis, seperti perpustakaan kami," kata Pramenda Krishna saat ditemui di sela-sela acara.
Lebih lanjut, wanita yang akrab disapa Krishna ini menegaskan, kehadiran IFI Surabaya tidak sekadar menjadi tempat pelatihan bahasa, melainkan juga bertindak sebagai jembatan diplomatik dan kebudayaan di tingkat lokal. Kehadiran lembaga ini diharapkan mampu mempererat hubungan antarnegara melalui jalur pendidikan dan kesenian.
"Sebenarnya tempat ini adalah semacam perwakilan kecilnya Prancis lah di Surabaya. Kalau orang Surabaya ingin tahu Prancis, pengen kerja sama sama Prancis, itu bisa kami jadi jembatan juga," kata Krishna menambahkan.
Sejak pagi hari, antusiasme pengunjung sudah terlihat melalui beragam program edukatif dan interaktif. Salah satu sorotan utama pada sesi pagi adalah seni pertunjukan tradisional Prancis yang dikemas dengan sentuhan lokal melalui kolaborasi bersama seniman Surabaya.
"Kita nampilin boneka tali marionette yang itu juga kalau orang Prancis populer juga. Tapi ini yang dari Indonesia, ternyata orang Surabaya juga ada. Jadi kita tampilkan pas di open house ini, seniman dari Surabaya menampilkan boneka marionette tadi pagi," jelas Krishna.
Tidak hanya seni pertunjukan, aspek literasi dan edukasi bahasa juga dikemas secara menyenangkan. Pengunjung berkesempatan mengikuti kelas uji coba (trial class) bahasa Prancis, kelas pelafalan lagu, hingga menikmati hiburan pemutaran film, board game, serta gim video khas Prancis.
Bagi pengunjung yang tertarik melanjutkan studi ke Eropa, IFI Surabaya menghadirkan sesi konsultasi khusus bersama Campus France. Sesi ini memaparkan informasi komprehensif mengenai sistem pendidikan tinggi (higher education) di Prancis beserta berbagai skema beasiswa yang dapat diakses oleh pelajar Indonesia.
Sesuai dengan tema besar tahun ini, kejutan sore hari diisi dengan ajang unjuk bakat siswa melalui lomba karaoke lagu-lagu Prancis. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media pembelajaran pelafalan bahasa yang interaktif dan menyenangkan bagi para peserta.
Nuansa khas Prancis kian terasa kuat dengan hadirnya area Taste of France serta bazar kebudayaan. Pengunjung dapat menikmati aneka hidangan kuliner khas seperti croissant dan crepe hasil kolaborasi dengan mitra lokal dengan harga terjangkau, sembari berburu buku-buku berbahasa Prancis dan merchandise resmi.
Perhelatan ini juga dihadiri oleh rombongan pelajar dari luar kota, salah satunya dari Pondok Pesantren Darul 'Ulum dan Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (Unipdu) Jombang. Kehadiran mereka menjadi bukti eratnya kemitraan strategis yang telah terjalin antara IFI Surabaya dan lembaga pendidikan berbasis pesantren.
Mengenai penentuan waktu acara, Christine menjelaskan bahwa pemilihan awal bulan September telah disesuaikan dengan kalender akademis. Waktu tersebut dinilai paling ideal karena bertepatan dengan tahun ajaran baru mahasiswa dan siswa, serta terhindar dari jadwal ujian maupun libur panjang.