Mengenal KH Ali Manshur Shiddiq, Pencipta Shalawat Badar yang Menginspirasi Umat
Nama KH Ali Manshur Shiddiq melekat erat dengan Shalawat Badar, salah satu syair religius yang paling dikenal di Indonesia. Karya tersebut tidak hanya menjadi amalan masyarakat Muslim, tetapi juga menjadi bagian penting dari tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Hingga kini, Shalawat Badar hampir selalu dilantunkan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan acara resmi NU.
Di balik popularitasnya, sosok KH Ali Manshur menyimpan kisah panjang tentang perjuangan menuntut ilmu, pengabdian kepada bangsa, serta dedikasi terhadap organisasi NU. Ia dikenal sebagai ulama sederhana yang memilih mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, dakwah, dan pelayanan masyarakat. Informasi mengenai perjalanan hidup dan kiprahnya tercantum dalam berbagai catatan keluarga serta dokumentasi sejarah NU.
Lahir dari Keluarga Ulama Besar
KH Ali Manshur lahir di Jember pada Maret 1921. Beberapa sumber mencatat tanggal kelahirannya berbeda, yakni 13 Maret 1921 dan 23 Maret 1921. Ia berasal dari keluarga ulama terpandang. Dari garis ayah, nasabnya bersambung kepada KH Muhammad Shiddiq Jember. Sementara dari jalur ibu, ia merupakan keturunan KH Basyar, seorang ulama yang dikenal di Tuban. Sejak kecil, Ali Manshur tumbuh dalam lingkungan religius yang membentuk kecintaannya terhadap ilmu agama.
Kiai Ali lahir di Jember pada 23 Maret 1921. Nasabnya masih menyambung ke Kiai Shidiq Jember. Kalau dari jalur ibu asli orang Tuban."
Semangat belajar menjadi ciri khas KH Ali Manshur sejak usia muda. Ia berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain demi memperdalam ilmu agama. Beliau pernah menimba ilmu di Pesantren Tremas Pacitan, Pesantren Al Hidayah Lasem, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Tebuireng Jombang, hingga Pesantren Lirboyo Kediri. Di Lirboyo, bakatnya dalam ilmu sastra Arab dan syair semakin berkembang.
Selama menjadi santri, KH Ali juga menerima jasa mengantar orang ke pasar menggunakan sepeda. Penghasilan itu dipakai membeli kitab sebagai bekal belajar. Kecintaannya terhadap ilmu arudh atau ilmu syair membuatnya sering berdiskusi dengan para kiai. Kemampuan tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika menciptakan Shalawat Badar.
Mengabdi kepada Negara dan Nahdlatul Ulama
Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, KH Ali Manshur mengabdikan diri sebagai pegawai di lingkungan Kementerian Agama. Ia pernah menjabat Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) hingga dipercaya menjadi Kepala Kantor Kementerian Agama tingkat kabupaten.
Selain bertugas sebagai aparatur negara, ia aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Pada Pemilu 1955, KH Ali Manshur terpilih menjadi anggota Konstituante mewakili Partai NU dari daerah pemilihan Bali dan Nusa Tenggara. Dalam lembaga tersebut, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua II Fraksi NU sekaligus juru bicara fraksi. Peran itu menunjukkan kemampuan komunikasi dan pemahaman kebangsaan yang dimilikinya.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan, KH Ali Manshur juga ikut berjuang bersama Laskar Hizbullah. Ia terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Lahirnya Shalawat Badar di Banyuwangi
Tahun 1962 menjadi titik penting dalam perjalanan hidup KH Ali Manshur. Setelah pindah ke Banyuwangi dan dipercaya memimpin NU cabang setempat, ia mulai menyusun syair yang kemudian dikenal sebagai Shalawat Badar.
Menurut penuturan keluarga, sebelum menulis syair tersebut, KH Ali Manshur mengalami mimpi yang sangat berkesan. Ia bermimpi didatangi sosok berjubah putih yang diyakini sebagai arwah para pejuang Perang Badar. Pengalaman spiritual itu juga tercatat dalam tulisan Pegon yang dibuat sendiri oleh KH Ali Manshur. Catatan tersebut masih disimpan keluarganya hingga sekarang.
Shalawat Badar kemudian berkembang menjadi syair yang sangat populer. Lagu tersebut menjadi simbol semangat perjuangan umat Islam pada masa itu. Selama bertahun-tahun, tidak banyak masyarakat yang mengetahui siapa pencipta Shalawat Badar. Kondisi itu berubah setelah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur secara terbuka menyebut KH Ali Manshur sebagai pengarangnya.
Menurut KH Ahmad Syakir Ali, Gus Dur meminta keluarga membawa berbagai dokumen pendukung untuk memastikan sejarah tersebut tetap terjaga. Setelah itu, banyak peneliti, budayawan, dan warga Nahdliyin mulai menelusuri sejarah KH Ali Manshur. Makamnya di Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, kini menjadi tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.
Besarnya pengaruh Shalawat Badar membuat syair tersebut dikukuhkan sebagai Mars Nahdlatul Ulama dalam Muktamar NU ke-28 di Krapyak, Yogyakarta. Keputusan itu kemudian kembali ditegaskan oleh Gus Dur saat memimpin PBNU pada Muktamar NU ke-30 di Lirboyo, Kediri. Selain menjadi bagian penting tradisi NU, Shalawat Badar juga berkembang ke berbagai genre musik religi. Lagu tersebut dikenal luas hingga ke sejumlah negara Muslim.
Dedikasi KH Ali Manshur akhirnya memperoleh pengakuan negara. Pada 14 Agustus 2024, pemerintah menganugerahkan Bintang Budaya Parama Dharma kepada pencipta Shalawat Badar tersebut. Penghargaan diterima oleh dua putranya, KH Ahmad Syakir Ali dan Gus Saiful Islam Ali, sebagai perwakilan keluarga.
Warisan KH Ali Manshur tidak berhenti pada Shalawat Badar. Selain itu juga meninggalkan madrasah yang terus berkembang hingga jenjang aliyah, kitab akhlak, kumpulan syair, serta catatan harian yang menjadi sumber sejarah penting.
Melalui karya dan pengabdiannya, KH Ali Manshur membuktikan bahwa sebuah syair mampu melintasi zaman. Shalawat Badar bukan hanya lantunan pujian kepada Rasulullah SAW, tetapi juga simbol perjuangan, persatuan, dan kecintaan umat kepada agama serta bangsa.
Penulis: Nurul Huda, dari berbagai sumber