Mengapa Puasa Tasu’a Dianjurkan? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Puasa Tasu’a merupakan salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam pada bulan Muharram. Puasa ini dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, sehari sebelum puasa Asyura yang jatuh pada 10 Muharram.
Selain menjadi bagian dari ibadah sunnah yang dicontohkan Rasulullah SAW, puasa Tasu’a juga memiliki sejumlah keutamaan dan hikmah yang mendalam. Melalui amalan ini, seorang Muslim dapat menghidupkan sunnah Nabi, menyempurnakan ibadah puasa Asyura, sekaligus memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.
Keutamaan Puasa Tasu’a
Dikutip dari laman mui.or.id, pada dasarnya, puasa Tasu’a memiliki beberapa keutamaan yang menjadikannya sebagai salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan pada awal tahun Hijriah.
1. Bagian dari Puasa Muharram yang Paling Utama Setelah Ramadhan
Puasa Tasu’a termasuk dalam rangkaian puasa sunnah di bulan Muharram. Rasulullah SAW menyebut puasa Muharram sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan.
Keutamaan tersebut tidak terlepas dari kedudukan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT.
2. Memiliki Pahala Besar di Bulan Muharram
Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa amalan puasa di bulan Muharram memiliki pahala yang besar di sisi Allah SWT.
Karena puasa Tasu’a dilaksanakan pada salah satu hari utama di bulan Muharram, maka amalan ini termasuk ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang ingin memperbanyak amal saleh.
3. Menyempurnakan Puasa Asyura
Puasa Tasu’a juga berfungsi sebagai penyempurna puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.
Dengan berpuasa pada tanggal 9 Muharram, seorang Muslim tidak hanya memperoleh pahala puasa Muharram, tetapi juga menjalankan sunnah Rasulullah SAW yang menganjurkan umatnya untuk berpuasa sehari sebelum Asyura.
Hikmah Puasa Sunnah Tasu’a
Para ulama menjelaskan bahwa anjuran melaksanakan puasa Tasu’a bersama puasa Asyura mengandung sejumlah hikmah syariat yang sangat penting.
1. Membedaakan Diri dari Tradisi Kaum Yahudi
Salah satu hikmah utama puasa Tasu’a adalah sebagai bentuk penyelisihan terhadap tradisi kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura.
Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram agar memiliki identitas ibadah yang berbeda dan khas.
2. Menghindari Kekeliruan Penentuan Tanggal Asyura
Puasa Tasu’a juga menjadi bentuk kehati-hatian apabila terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Muharram.
Dengan berpuasa sehari sebelumnya, seorang Muslim tetap berpeluang mendapatkan keutamaan puasa Asyura meskipun terjadi perbedaan dalam penanggalan Hijriah.
Syekh Zakariya al-Anshari menjelaskan bahwa salah satu hikmah puasa Tasu’a adalah untuk mengantisipasi kemungkinan kesalahan dalam menentukan tanggal 10 Muharram.
3. Menyempurnakan Ibadah Puasa
Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menyebutkan bahwa puasa Tasu’a juga bertujuan agar puasa Asyura tidak dilakukan secara tunggal.
Hal ini serupa dengan larangan mengkhususkan puasa hanya pada hari Jumat tanpa disertai puasa sehari sebelum atau sesudahnya.
Dengan demikian, puasa Tasu’a menjadi pelengkap yang menyempurnakan ibadah puasa Asyura.
Menjaga Identitas Umat Islam dan Meningkatkan Ketakwaan
Penjelasan para ulama menunjukkan bahwa puasa Tasu’a tidak sekadar ibadah sunnah biasa. Di dalamnya terdapat hikmah besar, mulai dari menjaga identitas umat Islam, menyempurnakan ibadah, hingga menghindari kesalahan dalam penentuan kalender Hijriah.
Melalui amalan ini, umat Islam dapat menghidupkan sunnah Rasulullah SAW, mengawali tahun baru Hijriah dengan amal saleh, serta memperkuat semangat ketaatan kepada Allah SWT.
Karena itu, bulan Muharram hendaknya dijadikan momentum untuk memperbanyak amal kebaikan, terutama ibadah puasa sunnah sebagai bekal meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.