Mendikdasmen: 739 Juta Pemuda dan Orang Dewasa di Dunia Belum Kuasai Literasi Dasar
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengungkapkan masih terdapat 739 juta pemuda dan orang dewasa di dunia yang belum memiliki keterampilan literasi dasar.
Menurut Mu'ti, persoalan literasi masih menjadi tantangan besar dunia. Ia juga menyoroti data UNESCO yang menyebutkan empat dari 10 siswa di dunia belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca pada akhir jenjang sekolah dasar (SD).
Data tersebut, kata Mu'ti, menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam pemenuhan hak dasar masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.
"Ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang belum mendapatkan akses terhadap hak dasar mereka, hak untuk belajar, memahami, dan berkembang," ujar Mu'ti saat membuka rangkaian Peringatan Hari Aksara Internasional secara daring, Selasa 8 September 2026.
Makna Literasi Kini Lebih Luas
Mu'ti mengatakan, peringatan Hari Aksara Internasional pada masa kini tidak lagi hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis.
Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), teknologi digital, krisis lingkungan, serta perubahan sosial membuat masyarakat dituntut memiliki kemampuan literasi yang lebih luas.
Masyarakat tidak cukup hanya mampu membaca informasi, tetapi juga harus mampu memahami dan menyikapinya secara kritis.
Kemampuan tersebut mencakup kepekaan dalam memahami informasi, berpikir reflektif terhadap berbagai konten yang dikonsumsi, serta menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan.
"Literasi hari ini adalah tentang kemampuan membaca dunia, memahami realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi serta mengambil tindakan untuk menjadikan dunia lebih baik lagi," kata Mu'ti.
Hari Aksara Internasional Usung Tema 3S
Dalam peringatan Hari Aksara Internasional tahun ini, pemerintah mengangkat tema "Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera".
Mu'ti menjelaskan, konsep tersebut dirangkum dalam tiga makna utama, yakni Sesama, Semesta, dan Sejahtera atau 3S.
Literasi untuk Sesama
"Sesama" dimaknai sebagai upaya memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam memperoleh kesempatan belajar.
Hal tersebut diwujudkan melalui penguatan inklusi, literasi kritis, serta dialog antargenerasi.
Dengan demikian, literasi diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperluas akses pendidikan dan kesempatan belajar bagi seluruh lapisan masyarakat.
Literasi untuk Semesta
Sementara "Semesta" berkaitan dengan upaya menjadikan pengetahuan sebagai dasar untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Mu'ti menyebut literasi iklim, konservasi, dan aksi keberlanjutan sebagai bagian penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan.
Literasi tidak hanya berhenti pada pemahaman, tetapi juga harus mendorong tindakan nyata untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.
Literasi untuk Sejahtera
Adapun "Sejahtera" dimaknai sebagai upaya mendorong setiap orang memiliki berbagai kecakapan yang dibutuhkan dalam kehidupan.
Kecakapan tersebut meliputi literasi finansial, kewirausahaan, keterampilan digital, dan kecakapan hidup.
Berbagai kemampuan itu penting agar masyarakat mampu bekerja, berkarya, mengembangkan potensi, sekaligus meningkatkan kualitas kehidupannya.
"Tema 3S ini menjadi rumah gerakan yang ringkas, mudah diingat, dan kontekstual bagi satuan pendidikan, komunitas, dan seluruh masyarakat Indonesia," ujar Mu'ti.
Literasi Jadi Bekal Menghadapi Perubahan
Mu'ti menegaskan, tantangan literasi pada era digital semakin kompleks. Masyarakat dihadapkan pada arus informasi yang sangat cepat, perkembangan teknologi AI, perubahan sosial, hingga persoalan lingkungan.
Karena itu, kemampuan literasi perlu diarahkan agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu memahami, mengkritisi, dan memanfaatkan informasi secara bertanggung jawab.
Melalui momentum Hari Aksara Internasional, penguatan literasi diharapkan dapat terus dilakukan di lingkungan sekolah, komunitas, keluarga, maupun masyarakat luas.