Mendekati Idul Adha, Pedagang Sapi Banyuwangi Mulai Banjir Pesanan dari Ibukota
Menjelang Hari Raya Idul Idha, pedagang sapi asal Banyuwangi mulai panen pesanan dari sejumlah daerah. Pesanan paling tinggi berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya. Ratusan ekor sapi sudah dikirimkan ke Jakarta. Biasanya, untuk pada Idul Adha, wilayah Jakarta membutuhkan ribuan ekor sapi.
Salah satu pedagang, Agus Supriadi, 45 tahun, warga Lingkungan Tanjung, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, mengatakan, selain kebutuhan masyarakat lokal Banyuwangi, dia menyuplai kebutuhan sapi ke berbagai wilayah di Indonesia. Diantaranya, Jakarta, Palembang, Lampung, Batam, Jambi, Banjarmasin, Surabaya, Malang dan Solo.
"Paling besar permintaannya adalah Jakarta. Untuk Idul Adha bisa mencapai 5 ribu ekor, kalau pasar lokal Banyuwangi biasanya sekitar 800 ekor," terangnya.
Pada hari normal, kebutuhan sapi wilayah Jakarta hanya sekitar 500 ekor dalam sebulan. Jumlah ini adalah sapi kebutuhan pemotongan untuk konsumsi masyarakat harian.
Pengiriman sapi ke Jakarta dilakukan setiap hari dengan menggunakan truk. Satu truk bisa memuat 24 sampai 26 ekor sapi. Tergantung pada berat dari sapi yang diangkut.Β
"Pesanan pelanggan itu rata-rata sapi yang kisaran harga Rp18 juta sampai Rp21 juta," terangnya.
Dalam sepekan terakhir, sudah ratusan ekor sapi yang dikirim ke Jakarta. Saat ini pesanan masih datang dari pedagang yang akan dijual di bidak-bidak di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dia menyebut, pesanan ini akan terus mengalir sampai beberapa hari menjelang Hari Raya Kurban.
Agus menyebut, harga sapi hidup mencapai Rp65 ribu per kilogram. Harga ini baru naik beberapa hari terakhir. Kenaikan harga ini, menurutnya, dipicu meningkatnya kebutuhan menjelang Hari Raya Kurban. Selain itu, biaya angkut juga naik akibat naiknya harga BBM. Dia mencontohkan, ongkos kirim ke Jakarta naik dari Rp15 juta jadi Rp20 juta.
"Baru naik bersamaan dengan naiknya harga BBM beberapa hari lalu. Sebelumnya harganya Rp55 ribu per kilogram," jelasnya, Selasa, 21 April 2026.
Dia menyebut, tahun ini pasar sapi mulai membaik. Sebab tahun ini sudah tidak ada wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak sapi. Pada Idul Adha tahun 2025, kata Agus, dirinya mengalami kerugian cukup besar. Ratusan ekor sapi diretur. Karena setelah tiba di lokasi pengiriam banyak sapi terjangkit penyakit PMK.
"Alhamdulillah tahun ini sudah tidak ada lagi wabah," ujarnya.
Advertisement