Melawan Stigma Lahan Basah, Yulianto Sukses Budidaya 1,2 Hektar Kebun Kelengkeng di Sidoarjo
Lahan basah selama ini kerap dianggap kurang ideal untuk budidaya tanaman buah berkayu seperti kelengkeng.
Namun anggapan tersebut berhasil dipatahkan oleh Yulianto, warga Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, yang sukses mengembangkan kebun kelengkeng seluas 1,2 hektare di atas lahan yang rentan tergenang air.
Melalui ketekunan dan berbagai upaya adaptasi, Yulianto kini mampu memanen 4 hingga 5 ton kelengkeng dalam satu musim panen. Kebun yang mulai ditanam pada 2022 itu saat ini telah memasuki panen ketiga dan bersiap menghadapi panen keempat.
Pria berusia 37 tahun ini mengaku, tantangan terbesar dalam mengembangkan kebun kelengkeng bukan berasal dari pemasaran. Melainkan kondisi lahan yang tergolong basah. Karakter tanaman kelengkeng yang termasuk pohon keras membuatnya tidak menyukai genangan air dalam waktu lama.
"Tantangan terberat budidaya kelengkeng di sini memang lahan basah. Pohon kelengkeng tidak suka terlalu banyak air, sehingga membutuhkan perawatan ekstra dibanding ditanam di lahan kering," ujarnya, saat ditemui Ngopibareng.id di kebun, Kamis 4 Juni 2026.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Yulianto menerapkan sistem guludan atau timbunan tanah pada area tanam. Cara ini membuat akar tanaman berada di posisi lebih tinggi sehingga tidak mudah terendam saat terjadi genangan.
Selain itu, saluran drainase di area kebun juga terus diperbaiki agar air dapat segera mengalir ketika hujan deras atau banjir datang.
"Kalau terjadi banjir, yang paling penting adalah memastikan air cepat surut. Karena itu kami fokus memperbaiki drainase dan membuat sistem tanam yang sesuai dengan kondisi lahan," paparnya.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Di lahan seluas 1,2 hektar, Yulianto kini menanam sekitar 300 pohon kelengkeng varietas New Crystal atau Kateki yang dikenal memiliki kualitas buah unggul.
Setiap pohon mampu menghasilkan sekitar 30 hingga 50 kilogram buah dalam satu kali panen, tergantung usia dan ukuran tanaman. Dengan jumlah pohon yang ada saat ini, total produksi kebun dapat mencapai 4 hingga 5 ton per musim panen.
"Dari pembosteran sampai panen membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Produksi setiap pohon berbeda-beda, ada yang 30 kilogram, 40 kilogram, sampai 50 kilogram," jelasnya.
Keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Ide membangun kebun kelengkeng berawal dari pengalaman pribadinya sekitar 10 tahun lalu saat membeli kelengkeng impor dengan harga yang cukup mahal.
Saat itu ia bertanya-tanya mengapa Indonesia masih bergantung pada pasokan kelengkeng dari luar negeri, padahal memiliki sumber daya lahan dan iklim yang mendukung untuk budidaya buah tersebut.
Dari rasa penasaran itu, Yulianto mulai mempelajari teknik budidaya kelengkeng dari berbagai sumber, termasuk petani dan praktisi pertanian. Pengetahuan yang diperoleh kemudian diterapkan secara bertahap di lahannya sendiri di Tulangan.
Menurutnya, salah satu kesalahpahaman yang masih berkembang di masyarakat adalah anggapan bahwa semua jenis kelengkeng memiliki kualitas yang sama. Padahal, terdapat banyak varietas dengan karakteristik dan produktivitas berbeda.
"Yang kami tanam di sini varietas New Crystal atau Kateki yang sudah memiliki sertifikasi. Varietas ini memiliki kualitas buah yang bagus dan cocok untuk dikembangkan," ujarnya.
Selain menghadapi tantangan banjir, kebun kelengkeng milik Yulianto juga harus berhadapan dengan serangan hama. Terutama kelelawar yang kerap mengincar buah saat mendekati masa panen. Untuk mengatasinya, ia memasang jaring pelindung di sejumlah area kebun.
Dengan harga jual sekitar Rp50 ribu per kilogram, hasil panen 4 hingga 5 ton mampu menghasilkan omzet kotor sekitar Rp200 juta hingga Rp250 juta dalam satu musim. Dalam setahun, kebun tersebut dapat menghasilkan panen sekitar satu setengah hingga dua kali.
Meski memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan, Yulianto menegaskan bahwa kebunnya tidak semata-mata berorientasi bisnis. Ia ingin menjadikan lokasi tersebut sebagai sarana edukasi pertanian dan peternakan bagi masyarakat.
Di atas lahan seluas sekitar dua hektare, selain kebun kelengkeng juga terdapat kolam, peternakan, kandang kambing, serta fasilitas pendukung lainnya.
Ia bahkan membuka kesempatan bagi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang ingin belajar langsung mengenai budidaya pertanian.
"Visi kami adalah edukasi. Siapa saja yang ingin belajar tentang kebun, peternakan, atau pertanian secara umum, kami terbuka dan siap berbagi pengalaman," tuturnya.
Keberhasilan Yulianto membudidayakan kelengkeng di lahan basah menjadi bukti bahwa keterbatasan kondisi lahan bukan penghalang untuk menghasilkan komoditas bernilai tinggi.
Dengan inovasi dan pengelolaan yang tepat, lahan yang selama ini dianggap kurang produktif justru mampu menjadi sumber ekonomi baru yang menjanjikan.