Masjid Jamik Sumenep dan Warisan Peradaban Islam di Ujung Timur Pulau Garam
Salah satu ikon kota Sumenep yang hingga kini masih kokoh berdiri adalah masjid Jamik Sumenep. Masjid bersejarah yang menjadi simbol perkembangan Islam bersama dengan masjid berusia tua lain seperti Masjid Madegan di Sampang dan Masjid Laju di kawasan Keraton Sumenep. Bangunan masjid yang umurnya sudah ratusan tahun lalu itu menjadi saksi perjalanan dakwah Islam di wilayah Madura sejak masa kerajaan hingga kolonial.
Menengok dari sejarahnya Masjid Jamik Sumenep berdiri pada tahun 1200 Hijriah atau sekitar 1781 Masehi. Pembangunan rumah suci ini atas prakarsa penguasa Sumenep saat itu, Panembahan Sumolo. Pria yang masyhur juga dengan nama Pangeran Natakusuma I ini merupakan adipati ke-31 dalam garis pemerintahan Sumenep sejak masa Aria Wiraraja. Saat dirinya memerintah yaitu tahun 1762 hingga 1811, wilayah Sumenep masih berada dalam pengaruh kekuasaan kolonial VOC. Namun pemerintahannya tetap menjalankan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat dengan kuat.
Pembangunan masjid besar jami ini menjadi simbol penting bagi penguatan identitas Islam di wilayah tersebut. Hal tersebut termaktub dalam salah satu wasiat yang terukir pada bagian gerbang masjid. Wasiat Panembahan Sumolo menegaskan bahwa masjid ini adalah wakaf di jalan Allah dan tidak boleh diperjualbelikan ataupun diwariskan. “Masjid ini adalah wakaf di jalan Allah untuk menjalankan kebaikan serta memelihara ketaatan kepada perintah agama,” demikian isi pesan yang tertulis pada prasasti..
Masyarakat Sumenep juga serin menyebut Masjid Jamik dengan Masjid Anyar atau Masjid Baru. Hal ini karena sebelum Masjid Jamik Sumenep sudah ada beberapa masjid yang berdiri seoerti Masjid Laju yang didirikan sekitar tahun 1639 oleh Bupati Anggadipa. Selain itu juga ada Masjid Brungbung di wilayah Batang-batang yang dibangun oleh seorang ulama bernama Ki Bungin-bungin pada tahun 1626. Namun berbeda dengan masjid sebelumnya, Masjid Jamik Sumenep memiliki fungsi sebagai masjid kerajaan. Letaknya sangat strategis karena berada di dekat Keraton Sumenep dan tepat di sebelah barat alun-alun kota. Posisi ini menunjukkan hubungan erat antara kekuasaan kerajaan dengan kehidupan religius masyarakat.
Akulturasi Budaya dalam Arsitektur Masjid
Diantara keunikannya, Masjid Jamik Sumenep terletak pada arsitekturnya yaitu perpaduan unsur lokal, Timur tengah, Eropa dan Cina. Perancang desain bangunan bangunan masjid adalah seorang arsitek keturunan Tionghoa bernama Lauw Pia Ngo, cucu dari imigran Tiongkok asal Batavia. Dalam proses pembangunan, Panembahan Sumolo juga melibatkan para ulama dari Timur Tengah serta ahli bangunan dari Eropa. Kolaborasi ini menghasilkan bentuk arsitektur yang unik dan jarang ditemukan pada masjid lain di Indonesia.
Pada gerbang utama masjid ada ornamen bergaya Tiongkok dengan perpaduan warna kuning, putih, dan hijau. Sementara bagian dalam masjid memiliki 13 pilar besar bergaya Eropa yang menopang bangunan utama. Atapnya berbentuk tajug bertumpang tiga, sebuah ciri khas arsitektur Jawa dan Madura. Selain itu, berbagai ukiran kayu bermotif sulur-suluran menghiasi pintu masuk dan bagian dalam masjid. Ukiran tersebut biasanya berwarna emas dengan latar hijau, menambah kesan megah namun tetap sederhana.
Seiring berjalannya waktu, Masjid Jamik Sumenep mengalami beberapa penambahan tanpa mengubah bentuk aslinya secara signifikan. Salah satu bagian penting yang dibangun kemudian adalah pintu gerbang besar. Gerbang mengalami pemugaran pada tahun 1796 dengan ukuran panjang sekitar 21 meter dan tinggi mencapai 20 meter.
Kemudian pada tahun 1910 membangun menara masjid berbentuk segi enam dengan kubah bawang. Penambahan ini dilakukan oleh penguasa Sumenep saat itu. Selanjutnya adalah penambahah pagar besi yang mengelilingi masjid pada 1927 untuk menggantikan tembok lama. Namun beberapa renovasi yang dilakukan masih prinsip menjaga keaslian bangunan tetap dipertahankan karena status masjid sebagai wakaf yang dilindungi.
Kini Masjid Jamik Sumenep telah berusia lebih dari dua abad dan sering disebut sebagai salah satu dari sepuluh masjid tertua di Indonesia. Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi dan sejarah. Masjid Jamik Sumenep telah memperlihatkan bagaimana nilai agama, budaya, dan kekuasaan politik pada masa lalu dapat menyatu dalam sebuah karya arsitektur yang indah.
Penulis: Nurul Huda