Kopilaborasi Forwas: Pemuda Sidoarjo Manfaatkan AI untuk Angkat Potensi Desa
Gelombang disrupsi teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) tak hanya jadi ancaman, tetapi juga membuka peluang baru bagi pemuda desa di Sidoarjo. Hal ini mengemuka dalam forum “Kopilaborasi: Narasi Desa” yang digelar Forum Wartawan Sidoarjo (Forwas), Kamis, 23 April 2026 malam.
Suasana hangat dan penuh gagasan terasa di Teras Manazela, Desa Kelopo Sepuluh, Kecamatan Sukodono. Puluhan pemuda dari berbagai desa berkumpul, berbagi ide, sekaligus merancang strategi memajukan desa melalui kekuatan narasi dan teknologi digital.
Forum ini menjadi ruang kolaboratif antara pemuda, pemerintah, dan insan media dalam membahas cara mengangkat potensi lokal agar lebih dikenal luas.
Salah satu cerita yang mencuri perhatian datang dari Ilyas, pemuda Desa Jogosatru. Ia berhasil mengubah citra negatif desanya melalui konten visual di media sosial.
“Dulu desa saya dikenal sebagai ‘desa korak’. Tapi saya ingin mengubah itu lewat foto dan video. Kami punya Pasar Legi yang menjual makanan tradisional khas Sidoarjo yang mulai langka,” ujarnya.
Lewat dokumentasi sederhana, Pasar Legi kini mulai dikenal publik. Pasar tradisional yang buka setiap Jumat Legi dari subuh hingga siang itu perlahan menjadi daya tarik baru. “Sekarang banyak orang penasaran dan datang langsung,” tambahnya.
Diskusi semakin menarik ketika Sekretaris Komisi B DPRD Sidoarjo, Sullamul Hadi Nurmawan, menantang pemuda untuk berani berinovasi. “Selama tidak melanggar aturan, lakukan saja. Desa harus jadi bahan perbincangan,” tegasnya.
Ia mencontohkan keberhasilan pemuda di daerah lain yang memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran produk desa, bahkan mampu meraih omzet puluhan juta rupiah tanpa perantara.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sidoarjo, Eri Sudewo, menekankan pentingnya kesiapan menghadapi era AI.
“Dalam beberapa tahun ke depan, banyak pekerjaan akan tergantikan teknologi. Pemuda harus punya keterampilan agar tidak hanya jadi penonton,” ujarnya.
Ia juga memastikan pemerintah telah menyediakan infrastruktur pendukung, seperti akses internet gratis di hampir seluruh desa serta mendorong pembentukan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM).
Ketua Forwas Sidoarjo, H.M. Taufik, menambahkan bahwa langkah kecil dari pemuda bisa berdampak besar jika dilakukan secara konsisten. “Jangan takut memulai. Konten sederhana atau tulisan tentang desa bisa jadi pemantik perhatian publik,” katanya.
Ia juga mendorong adanya lomba kreatif, seperti penulisan cerpen dan video profil desa, untuk memperkuat narasi lokal.
Dari sisi lain, inovasi juga ditunjukkan Nita, pemuda asal Desa Suko. Ia memaparkan pengembangan sektor pertanian dan perikanan berbasis swadaya. “Kami mengelola kebun pisang, hidroponik, dan kolam lele-nila. Panen bisa setiap tiga bulan. Bahkan kami siapkan area rekreasi memancing untuk warga,” jelasnya.
Diskusi yang berlangsung lebih dari tiga jam itu menunjukkan satu hal: desa memiliki potensi besar, asalkan dikelola dengan kreativitas dan dukungan teknologi.
Kopilaborasi bukan sekadar forum diskusi, tetapi menjadi bukti bahwa ketika kreativitas pemuda bertemu dengan teknologi, desa mampu bangkit dan menciptakan identitas baru yang lebih positif di mata publik.