Kisah Aparatur Kominfo Bojonegoro, dari Radio hingga Transformasi Digital Pelayanan Publik
Ada satu simbol yang sering memantik rasa penasaran bagi siapa pun yang pertama kali masuk kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Tiga bulatan berbentuk setengah lingkaran pada lambangnya ternyata bukan sekadar desain visual. Simbol itu memiliki makna mendalam: tiga api yang terus menyala—komunikasi, konten, dan komputer.
Tiga nyala itu menjadi filosofi perjalanan panjang seorang aparatur muda di Dinas Kominfo Bojonegoro sejak 2016. Dari radio yang sempat disegel, layar tancap di desa-desa, pengembangan pemerintahan digital, hingga menjadi garda depan informasi publik saat pandemi Covid-19.
Babak Awal: Menghidupkan Kembali Radio Malowopati
Perjalanan dimulai pada 2016 saat dipercaya menjadi Kepala UPTD Radio Malowopati. Namun tugas pertama bukanlah sesuatu yang mudah. Saat itu, radio milik pemerintah daerah tersebut dalam kondisi tidak mengudara karena persoalan perizinan.
Studio gelap, siaran berhenti, dan radio dinilai belum memenuhi ketentuan regulasi. Tantangan pertama pun dimulai: membuka kembali “gembok” administrasi sekaligus memulihkan kepercayaan publik.
Selama empat bulan, perjalanan Bojonegoro–Surabaya–Jakarta menjadi rutinitas. Berbagai proses dilakukan mulai dari koordinasi dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDDPI), Postel, hingga KPID Jawa Timur.
Usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Izin penyiaran terbit, studio kembali menyala, dan Radio Malowopati kembali hadir untuk masyarakat.
Dari momentum itu lahir program “Ayo Masyarakat Bojonegoro Produktif (Ayo Mas Bro)”, sebuah inovasi siaran yang mendorong keterbukaan informasi dan partisipasi masyarakat. Program tersebut bahkan mendapat apresiasi tingkat provinsi dari Gubernur Jawa Timur saat itu.
Namun, perjalanan di radio hanya berlangsung tujuh bulan. Api pertama telah dinyalakan, dan perjalanan berlanjut ke bidang lain.
Diseminasi Informasi: Menyapa Warga hingga Pelosok Desa
Pada Juli 2016, tugas baru datang sebagai Kepala Bidang Diseminasi Informasi. Dari studio radio yang tenang, ritme pekerjaan berubah menjadi lebih dinamis dan dekat dengan masyarakat.
Mobil TOA menjadi alat utama untuk menyampaikan informasi pemerintah, berkeliling kota hingga desa-desa. Informasi kegiatan daerah disampaikan langsung kepada masyarakat, menjangkau mereka yang belum tersentuh teknologi digital.
Salah satu program yang paling membekas adalah layar tancap. Film-film hiburan seperti Warkop DKI dan Saur Sepuh diputar di desa-desa, diselingi pesan-pesan edukasi dan informasi pemerintah.
Momen sederhana justru menjadi kenangan paling berarti. Saat hujan turun tiba-tiba di tengah pemutaran film, tim harus menyelamatkan layar dan peralatan sambil berteduh di rumah warga.
Dari situ muncul kesadaran bahwa tugas diseminasi bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan kebersamaan di tengah masyarakat.
Tujuh bulan berselang, perjalanan kembali bergeser menuju dunia yang lebih teknis: transformasi digital pemerintahan.
E-Government: Merancang Masa Depan Digital Bojonegoro
Pada Desember 2016, langkah baru dimulai di Bidang Layanan E-Government. Di sinilah pembangunan sistem pemerintahan digital mulai dirancang.
Bidang ini bertanggung jawab mengelola Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), fondasi layanan digital pemerintahan daerah.
Saat itu, nilai SPBE Bojonegoro berada di angka 2,72, capaian yang menempatkan daerah ini sebagai salah satu yang terbaik di tingkat nasional.
Tidak hanya itu, Bojonegoro juga ditunjuk sebagai pilot project Open Government Indonesia (OGI). Berbagai rencana aksi nasional disusun untuk memperkuat keterbukaan pemerintahan dan partisipasi publik.
Puncaknya, pengalaman tersebut membawa perwakilan Kominfo Bojonegoro hadir dalam forum internasional Konferensi Open Government Partnership di Washington, Amerika Serikat.
Sebagai aparatur muda, berdiri di tengah forum global menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus mengingatkan bahwa capaian besar selalu lahir dari kerja tim yang solid.
PIAP dan Pandemi Covid-19: Menjadi Suara di Tengah Kepanikan
Tahun 2019 menjadi babak baru saat bergabung di Bidang Pengelolaan Informasi dan Aspirasi Publik (PIAP).
Namun belum lama menjalani tugas, pandemi Covid-19 datang dan mengubah ritme kerja secara drastis.
Media sosial pemerintah daerah menjadi salah satu sumber utama informasi masyarakat. Setiap hari, data pasien, perkembangan kasus, hingga kabar kesembuhan harus disampaikan secara cepat dan akurat.
Di tengah derasnya kritik dan kepanikan publik, tim tetap bekerja menjaga arus informasi tetap berjalan.
Kepercayaan masyarakat pun meningkat. Jumlah pengikut media sosial pemerintah bertambah, interaksi publik meningkat, dan layanan pengelolaan aspirasi semakin dipercaya.
Berbagai penghargaan berhasil diraih, mulai dari Anggakara Bhirawa, pengelolaan LAPOR terbaik nasional, hingga torehan sembilan penghargaan PPID Bojonegoro, sebuah rekor yang masih bertahan hingga kini.
Api Itu Tetap Menyala
Bagi perjalanan panjang ini, lambang Kominfo bukan sekadar identitas visual. Tiga api di dalamnya menjadi representasi perjalanan pengabdian:
Komunikasi, dari Radio Malowopati, mobil TOA, hingga layar tancap di desa.
Konten, dari informasi pandemi hingga pelayanan aspirasi publik.
Komputer, dari SPBE hingga forum keterbukaan pemerintahan dunia.
Perjalanan itu bukan tentang menjadi pahlawan, melainkan bagaimana seorang aparatur muda terus menjaga nyala kecil pengabdian, bersama tim yang sama-sama memilih untuk tetap menyala.
Penulis: Camat Sukosewu, Bojonegoro, Alit Saksama Purnayoga
Advertisement