Kartosoewirjo, Tokoh Asal Cepu yang Berperan dalam Lahirnya Sumpah Pemuda
Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, tonggak penting persatuan generasi muda Indonesia tahun 1928. Di balik sejarah besar itu, terdapat nama Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, atau lebih dikenal sebagai SM Kartosoewirjo, salah satu dari 13 tokoh penting yang berperan dalam perumusan naskah Sumpah Pemuda.
Pria kelahiran Kecamatan Cepu, Blora, Jawa Tengah, pada 7 Januari 1907 ini, dikenal sebagai sekretaris dalam Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda. Namun, sejarah juga mencatat sisi lain kehidupannya: Kartosuwirjo kemudian menjadi imam besar Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan pendiri Negara Islam Indonesia (NII).
Perjalanan Awal dan Kecerdasan Kartosuwirjo
Kartosoewirjo dikenal sebagai pemuda cerdas dan berwawasan luas. Di usia 8 tahun, ia bersekolah di Inlandsche School der Tweede Klasse (ISTK) sekolah bumiputera kelas dua di Rembang, Jawa Tengah. Di Rembang, dia mengikuti orang tuanya yang berdinas sebagai tenaga kesehatan.
Empat tahun kemudian, ia diterima di Europeesche Lagere School (ELS) Bojonegoro — sekolah bergengsi untuk kalangan Eropa. Hanya siswa berprestasi tinggi yang bisa diterima di sana.
Selama menempuh pendidikan di Bojonegoro, ia bertemu dengan Notodiharjo, seorang tokoh Islam modern di Kecamatan Padangan, Bojonegoro, yang berpandangan serupa dengan gerakan Muhammadiyah. Kecerdasan Kartosoewirjo remaja, terlihat ketika belajar mengaji dimana sudah berhasil menghafal 20 juz Al Quran dalam waktu singkat. “Kalau dari cerita-cerita, belajar mengaji di Mbah Noto, dan berhasil menghafal sejumlah juz,” ujar Mansyur, seorang pemuka agama di Padangan, Bojonegoro pada Ngopibareng.id.
Dari gurunya itu, Kartosoewirjo mulai mengenal pemikiran Islam modern yang kelak sangat mempengaruhi pandangan politik dan keagamaannya. Singkatnya, dari perkenalan inilah, Mbah Noto, panggilannya, kemudian merekomendasikan Kartosoewirjo untuk melanjutkan karier pendidikannya di Surabaya.
Setelah lulus dari ELS pada tahun 1923, Kartosoewirjo melanjutkan pendidikan ke Nederlands-Indische Artsenschool (NIAS), sekolah kedokteran di Hindia Belanda. Di masa studinya, ia mulai aktif dalam organisasi kepemudaan Jong Java dan sempat menjabat sebagai Ketua Cabang Surabaya.
Dalam Kongres Pemuda II tahun 1928, Kartosuwirjo turut menjadi sekretaris dan menyampaikan gagasan tentang pentingnya bahasa asing sebagai alat pergaulan internasional. Kontribusinya turut memperkuat diskusi menuju lahirnya ikrar Sumpah Pemuda, yang mempersatukan bangsa di bawah semangat “Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa: Indonesia”.
Kedekatan dengan H.O.S. Tjokroaminoto
Usai menempuh pendidikan, Kartosuwirjo bergabung dengan Syarikat Islam dan menjadi murid sekaligus sekretaris pribadi H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya. Cokroaminoto dikenal sebagai “Guru Bangsa” yang juga mendidik tokoh-tokoh besar seperti Soekarno dan Semaoen.
Dari Tjokroaminoto, Kartosoewirjo belajar banyak tentang politik, nasionalisme, dan perjuangan Islam. Pengaruh itu membuatnya tumbuh menjadi sosok berintegritas tinggi, dengan perpaduan semangat keislaman dan kesadaran politik yang kuat.
Akhir Hayat dan Warisan Sejarah
Meski berawal sebagai tokoh muda pergerakan, jalan hidup Kartosoewirjo kemudian berbelok. Ia memimpin gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang memperjuangkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pasca-kemerdekaan.
Namun, perjuangan bersenjata tersebut berakhir tragis. Kartosoewirjo ditangkap oleh TNI dan dieksekusi pada 5 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu.
Kartosoewirjo tetap menjadi figur yang menarik dalam sejarah Indonesia. Di satu sisi, ia adalah tokoh muda cerdas yang berperan dalam Sumpah Pemuda; di sisi lain, ia dikenang sebagai pemimpin gerakan ideologis yang berbeda arah dari cita-cita persatuan bangsa.
Warisan pemikirannya menggambarkan kompleksitas sejarah Indonesia — antara semangat kebangsaan, keislaman, dan perjuangan ideologis yang saling beririsan dalam perjalanan menuju kemerdekaan.