Hindari Kecemburuan Sosial, Pejabat UIN KHAS Jember Tak Pakai Mobil Dinas Mewah
Para pejabat Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember memilih tampil sederhana dengan tidak menggunakan mobil dinas mewah. Mereka hanya memakai kendaraan keluaran tahun 2006 sebagai sarana operasional.
Rektor UIN KHAS Jember, Hepni, aksi demonstrasi yang mewarnai Indonesia beberapa hari ini terjadi akibat kecemburuan sosial. Masyarakat merasa cemburu saat kondisi ekonomi tak menentu, para pejabat justru menikmati kenaikan tunjangan.
Hepni mengapresiasi mahasiswa yang turun ke jalan ikut menyuarakan penderitaan rakyat dengan cara yang elegan tanpa anarkis. Pada kesempatan yang sama, Hepni menyatakan tidak sejalan dengan aksi anarkis, apalagi sampai berujung penjarahan.
Kendati demikian, Hepmi berharap tidak ada upaya saling menyalahkan. Justru, semua pihak harus berkontemplasi atas kejadian yang terjadi di Indonesia hari ini.
“Dibalik bencana selelu ada rencana. Semua pihak harus berkontemplasi dan melakukan refleksi diri,” katanya, Selasa, 2 September 2025.
UINKHAS Jember juga berusaha melakukan refleksi diri. Salah satunya dengan menginstruksikan seluruh pejabat tidak memakai kendaraan dinas.
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk kepekaan terhadap kondisi masyarakat yang tengah mengalami kesulitan ekonomi. Menurutnya, sikap pejabat harus mampu mencerminkan empati agar tidak menimbulkan kesenjangan sosial.
“Mobil dinas tidak kami pakai. Para pejabat UIN KHAS Jember hanya menggunakan kendaraan tahun 2006. Di tengah masyarakat yang sedang kesulitan, tentu tidak pantas kalau pejabat tampil dengan fasilitas mewah,” ujar Hepni, Selasa, 02 September 2025.
Hepni menambahkan, keteladanan pejabat penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi.
“Kalau masyarakat sedang lapar, lalu melihat pejabat dengan penampilan yang sangat kontras, itu pasti susah diterima. Karena itu kami tunjukkan sikap sederhana agar masyarakat merasakan kepekaan yang sama,” imbuhnya.
Selain menekankan kesederhanaan, UIN KHAS Jember juga mendorong upaya spiritual dan kerja sama lintas agama melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Hepni menilai peran FKUB sangat strategis dalam menciptakan kedamaian dan kerukunan bangsa.
“Semua agama hari ini harus berkontribusi lewat caranya masing-masing untuk menyumbangkan hal terbesar bagi bangsa, yakni kedamaian dan kerukunan. Kalau semua bisa duduk bersama mendialogkan masalah, tentu jalan keluarnya akan lebih mudah,” jelasnya.
Lebih jauh Hepni juga berpesan agar aparat dan masyarakat mampu menahan diri dalam menghadapi situasi sulit. Menurutnya, respon yang elegan jauh lebih baik daripada membalas dengan tindakan serupa.
“Kita harus menunjukkan kelas kita. Kalau dipukul, tidak usah membalas memukul. Kalau kita ikut memukul, apa bedanya kita dengan mereka. Maka kita doakan saja keselamatan mereka,” pungkasnya.