Cuaca Ekstrem, Nelayan di Situbondo Terpaksa Jual Sarung dan Daster
Nelayan di Kampung Pesisir, Desa/Kecamatan Panarukan, Situbondo terpaksa beralih pekerjaan hingga menjual perhiasan, sarung, dan daster untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ini karena, nelayan tidak berani melaut akibat cuaca ekstrem gelombang tinggi dan hujan angin di Perairan Situbondo selama hampir sebulan.
"Cuaca ekstrem gelombang tinggi dan hujan angin terjadi di Perairan Situbondo sejak awal Januari hingga sekarang. Jadi, selama hampir sebulan nelayan di Panarukan tidak melaut," kata Ketua Himpunan Nelayan Kampung Pesisir Desa/Kecamatan Panarukan, Heri Prayitno, Jumat 30 Januari 2026.
Selama hampir sebulan tidak melaut, menurut Heri, para nelayan Kampumg Pesisir Panarukan beralih pekerjaan menjadi pencari kerang saat laut surut dan kuli bangunan. Bahkan, nelayan terpaksa menjual perhiasan hingga sarung dan daster dengan harga Rp70 ribu hingga Rp150 ribu.
"Semua itu dilakukan nelayan Kampung Pesisir Panarukan untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya selama tidak melaut," terang pria yang juga Ketua Tempat Pengolahan Ikan (TPI) Panarukan itu.
Heri menjelaskan, warga Kampung Pesisir Panarukan menjadi nelayan mencapai seribuan. Sedangkan, kapal nelayan ditambatkan di Pantai Panarukan mencapai puluhan unit.
" Sebanyak 32 kapal slerek dan hanya 17 kapal yang biasanya beroperasi dengan jumlah awak maksimal 25 orang. Sementara untuk jenis perahu jurung, tercatat hanya sekitar 10 unit. Semua kapal pencari ikan itu tidak beroperasi selama hampir sebulan karena cuaca ekstrem," jelasnya.