Gusdurian: Jaringan Perajut Bangsa di Tengah Kekisruhan Politik
Ribuan orang berbondong-bondong ke Asrama Haji Pondok Gede akhir pekan kemarin. Bukan untuk berangkat haji, tapi menghadiri Temu Nasional (Tunas) Gusdurian. Dari Sabang sampai Merauke. Dari berbagai latar belakang agama. Bahkan ada yang datang dari luar negeri.
Semua berkumpul dengan semangat sama: merawat warisan Gus Dur.
Peristiwa yang adem ini terjadi di tengah suasana panas di luar sana. Sebab, di hari sama terjadi unjuk rasa yang berakhir ricuh di mana-mana. Seorang pengemudi ojol tewas dilindas mobil taktis polisi. Tragedi yang kemudian memicu kerusuhan di sejumlah tempat di ibukota Jakarta. Sejumlah fasilitas umum menjadi korban amuk massa dan pembakaran.
Yang membuat masgul banyak orang, kericuhan itu merembet ke sejumlah daerah dalam waktu singkat. Di Surabaya, Jogjakarta, Makasar, dan beberapa daerah lainnya. Tak hanya itu. Sempat juga terjadi penjarahan rumah sejumlah anggota DPR RI di Jakarta. Situasi yang membuat gelisah warga dan membuat risau para elit kekuasaan.
Sehingga Temu Nasional (Tunas) Gusdurian yang berlangsung tiga hari itu menjadi semacam oase di tengah padang gersang politik. Ia mungkin belum menjadi jaringan yang punya kekuatan mengendalikan kekisruhan bangsa seperti ini. Tapi setidaknya menjadi harapan untuk menjadi generasi baru sebagai perajut kesatuan bangsa di masa depan.
Allisa Qotrunnada Wahid, penggagas dan pemimpin jaringan Gusdurian, tak bisa menyembunyikan kebahagiaan atas perkembangan forum ini. Dia mengisahkan awal mula perkembangan Jaringan Gusdurian 18 tahun lalu. Saat kali pertama diselenggarakan temu nasional yang pertama. Di balai sebuah lembaga di Jogjakarta.
‘’Saat itu, hanya 18 komunitas yang terlibat. Dihadiri 30 orang. Kini, temu nasional yang menjadi pertemuan refleksi tentang berbagai pemikiran Gus Dur ini dihadiri ribuan orang. Dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri,’’ katanya saat memberi sambutan di acara pembukaan.
Ia menceritakan ada peserta yang hadir dari Papua. Mereka hadir dengan biaya sendiri. Sampai bawa beras dan rice cooker. Untuk memasak selama perjalanan dengan kapal laut. Mereka bersemangat untuk bertemu dengan sesama perawat pemikiran Gus Dur.
Bagi banyak orang, KH Abdurrahman Wahid yang lebih dikenal sebagai panggilan Gus Dur ini dianggap sangat bermakna. Tidak hanya untuk warga NU yang pernah dipimpinnya. Tapi juga untuk berbagai golongan bangsa ini. Presiden RI ke-4 itu dianggap sebagai pengayom dan pelindung kelompok minoritas.
Tak pelak, setiap Gusdurian menggelar temu nasional, yang hadir bukan hanya santri NU. Tapi juga para tokoh dari berbagai agama dan keyakinan. Para aktifis yang memiliki kepedulian terhadap keberagaman. Mereka yang menjadikan inklusifitas sebagai modal keberlangsungan bangsa ini.
Ya. Memang sejak awal, Gusdurian tidak pernah eksklusif. Seperti Gus Dur, mereka membuka pintu selebar-lebarnya untuk siapa saja. Gus Dur dulu dikenal sebagai tokoh yang selalu membela minoritas, memperjuangkan mereka yang tersisih. Spirit itu jelas terasa dalam setiap kegiatan Gusdurian.
Acara pembukaan Tunas Gusdurian itu pun di buka dengan doa lintas agama dan keyakinan. Tidak hanya dipimpin oleh pendoa dari Islam. Dihadiri sejumlah tokoh. Mulai Ibu Nyai Hajjah Shinta Nuriah Abdurrahman Wahid sampai dengan Romo Frans Magnis Suseno. Mereka menyatu dan merasa diterima. Serasa satu rumah.
Melihat skala pertemuan ini, banyak orang sepakat: Gusdurian kini adalah salah satu jaringan perajut bangsa terbesar di Indonesia. Di saat politik sering memecah belah, Gusdurian justru merajut kembali. Di saat kepercayaan publik ke pemerintah dan DPR menurun, Gusdurian menguatkan ikatan antarwarga.
Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan teriakan. Tapi dengan kasih, dialog, dan kerja nyata. Dengan merawat berbagai pemikiran Gus Dur yang mengedepaankan spirit kebangsaan. Tanpa harus berteriak-teriak tentang pentingnya kesatuan dan persatuan bangsa. Mereka mewujudkan spirit kebangsaan itu tidak hanya dalam pemikiran. Tapi juga tindakan.
Mereka seperti tidak tergoda dengan kekuasaan. Tapi bisa menjadi penjaga moral agar kekuasaan terus berada dalam jalur sesuai dengan yang dibayangkan para pendiri bangsa Indonesia. Hal ini penting ketika tokoh-tokoh yang diharapkan menjadi pegas bagi kekisruhan bangsa ini semakin hilang dari radar bangsa.
Allisa Wahid menggambarkan para Gusdurian ini ibarat lidi-lidi yang berhimpun menjadi sapu lidi. Mereka semua bersatu untuk mendampingi akar rumput dan menjaga moral kebangsaan seperti yang pernah diperjuangkan Gus Dur semasa hidupnya. Yang diharapkan bisa menjaga bangsa ini tetap terjaga sampai kapan pun juga.
Gusdurian memang bukan kekuatan politik. Apalagi kekuatan ekonomi. Mereka berhimpun dengan spirit moral dan pemikiran. Dalam penuh kesederhanaan. Tidak dalam helimang kemewahan. Mereka datang dari berbagai daerah dengan biaya sendiri. Dengan modal semangat dan kebersamaan.
Gusdurian pada akhirnya berkembang menjadi identitas kultural dan ideologi. Ia berarti orang-orang yang mengidentifikasi diri sebagai pengikut, penerus, atau simpatisan nilai-nilai perjuangan Gus Dur. Nilai
pluralisme, demokrasi, keadilan sosial, pembelaan kaum lemah, penghormatan pada hak asasi manusia, serta humor dan kebijaksanaan khas Gus Dur.
Gusdurian jelas bukan hanya kumpulan para penggemar Gus Dur. Mereka adalah orang-orang yang berusaha menghidupi spirit Gus Dur dalam kehidupan sosial, politik, agama, dan budaya. Mereka adalah orang-orang yang beririsan dengan pemikiran dan kebijakan Gus Dur.
Dari kumpulan orang-orang itu, terbangun sebuah gerakan sosial dan komunitas. Jaringan yang menjadi wadah aktivisme sosial-politik, advokasi toleransi, pendidikan demokrasi, dan solidaritas kebangsaan.
Di tengah kekisruhan yang sedang menimpa bangsa Indonesia belakangan ini, Gusdurian menjadi harapan yang tersisa. Sebagai gerakan moral: Jaringan Perajut Bangsa. Masih perlu banyak gerakan seperti ini untuk menjaga negeri ini.