Gerebeg Minggir dan Transformasi Gus Muwafiq Menjadi Kiai Kemajemukan
Ada magnet baru di Minggir, Sleman, Jogjakarta. Namanya Pondok Pesantren Minggir. Pendiri dan pimpinannya Ahmad Muwafiq yang akrab dipanggil Gus Muwafiq. Kiai nyentrik berambut gondrong.
“Saya belum pernah memberi nama Pondok Minggir. Yang memberi nama masyarakat. Akhirnya semua ikut menyebutnya Pondok Minggir,” kata Gus Muwafiq, akhir pekan kemarin.
Saya ikut menyaksikan sejarah perkembangan pondok yang berdiri di atas lahan 10 hektare ini. Mulai dari proses pembebasan lahan sampai menjadi pondok yang setiap kegiatan dihadiri puluhan ribu jamaah.
Minggir adalah kecamatan atau kapanewon dalam struktur administrasi Daerah Istimewa Jogjakarta. Sebelah barat pusat kota. Jarak 30 menit dengan kendaraan bermotor. Secara administratif masuk Kabupaten Sleman.
Ponpes ini tadinya hamparan sawah. Mulai ditempati 17 Agustus 2023. Diawali dengan mendirikan tenda sebagai tempat tinggal sementara Gus Muwafiq dan keluarganya. Setelah selama 25 tahun ia tinggal di rumah kontrakan di Jombor.
Sejak tahun pertama pindah ke Minggir, Gus Muwafiq menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Meneruskan tradisi saat masih tinggal di Jombor. Hanya, kegiatan itu sekarang diberi nama Gerebeg Minggir.
“Saya juga tidak pernah memberi nama demikian. Warga yang memberi nama. Kebetulan saat itu di keraton pas tidak ada gerebeg maulid,” tambah kiai kelahiran Lamongan, Jawa Timur, ini.
Yang unik, Gus Muwafiq membangun pondok dengan mulai mendirikan joglo besar. Tempat untuk segala kegiatan. Mulai salat berjamaah, pengajian, pertemuan masyarakat, atau kegiatan keagamaan lainnya.
Rupanya ini menjadi mimpinya. Dia membangun pondok pesantren tak seperti pesantren tradisional pada umumnya. Ia membayangkan pondoknya menjadi simpul bertemunya berbagai kelompok masyarakat yang majemuk.
Lewat Gerebeg Minggir, ia mengadopsi tradisi maulidan di keraton. Disajikan hasil tanaman jemaah dan masyarakat yang menjadi santri kultural Gus Muwafiq. Mulai durian, wortel, kubis, buah-buahan, dan hasil bumi lainnya.
Hasil bumi itu bukan sekadar hiasan. Tapi simbol hubungan antara agama, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat. Simbol bahwa Islam ibarat tanaman. Subur jika dirawat.
Di negeri ini, Islam tumbuh dari tanah, sawah, pasar, kampung, dan kerja keras masyarakat sehari-hari. Tidak langsung datang dari langit. Menyatu dengan kebudayaan yang telah mengakar sejak lama.
Di titik itulah kita bisa membaca transformasi Gus Muwafiq. Ia tidak tiba-tiba muncul sebagai kiai. Yang mempunyai pondok dan jemaah besar. Jalan hidupnya berlangsung panjang.
Berangkat dari dunia pergerakan mahasiswa. Lalu berkeliling di antara pesantren. Bergaul dengan seniman dan aktivis. Mendampingi Gus Dur. Lantas menjadi penceramah dari satu panggung ke panggung lainnya.
Gus Muwafiq pernah aktif di PMII. Bagian gerakan mahasiswa 1998. Ia pernah di lingkaran dekat Gus Dur dan menjadi asistennya. Di situ ia bertemu dengan banyak kelompok, pemikiran, tradisi, dan lapisan masyarakat.
Sebagai orang gerakan, ia terbiasa melihat kehidupan dari bawah. Gerakan mengajarkan bahwa masyarakat tidak bisa dipahami hanya dari ruang rapat. Aspirasi rakyat tidak selalu hadir dalam bahasa akademik.
Ia terkadang muncul dalam guyonan warung kopi, kegelisahan petani, dan kemarahan anak muda. Juga kesenian rakyat serta ritual kebudayaan yang diwariskan turun-temurun.
Dari Gus Dur, ia tampaknya belajar bahwa menjadi kiai tidak cukup hanya menguasai kitab. Seorang kiai harus memahami manusia beserta seluruh kerumitan hidupnya.
Ia harus sanggup berbicara dengan santri maupun preman. Pejabat maupun petani. Aktivis maupun aparat. Juga kelompok mayoritas maupun minoritas.
Ceramah Gus Muwafiq tak berhenti membahas halal dan haram. Ia menghubungkan agama dengan sejarah Nusantara, kebudayaan lokal, nasionalisme, kehidupan rakyat kecil, serta tantangan kebangsaan.
Penampilannya pun tidak berubah. Rambut tetap gondrong. Kaos oblong dan sarung tetap menjadi cirinya. Ia tidak merasa perlu mengganti penampilan untuk mendapatkan legitimasi sebagai kiai.
Transformasi Gus Muwafiq bukanlah perubahan dari seorang aktivis menjadi orang lain. Watak gerakannya tidak hilang. Energi itu hanya berpindah bentuk.
Dulu ia bergerak melalui jaringan mahasiswa dan aktivitas politik kebangsaan. Lantas bergerak lewat panggung-panggung pengajian. Sekarang gerakan tersebut mulai dilembagakan melalui sebuah pesantren.
Kalau dulu ia mendatangi masyarakat, kini masyarakat yang datang kepadanya. Inilah perubahan penting dalam perjalanan Gus Muwafiq.
Dari tokoh gerakan menjadi pemimpin ekosistem sosial. Dari penceramah keliling menjadi kiai pemilik pusat gravitasi. Dari berpindah-pindah panggung menjadi pengasuh pesantren yang menyiapkan ruang hidup banyak orang.
Menariknya, pusat gravitasi itu tidak dibangun di tengah kota. Ia memilih Minggir. Namanya sendiri seakan mengandung pesan: berada di pinggir, tetapi tidak terpinggirkan.
Secara budaya, pinggiran justru sering menjadi tempat lahirnya energi baru. Kota mungkin punya gedung, modal, dan teknologi. Tapi desa menyimpan ikatan sosial, tradisi, ingatan kolektif, dan kedekatan manusia dengan alam.
Pondok Minggir ingin mengolah semua itu. Yang datang bukan santri untuk belajar kitab. Ada petani, pedagang, seniman, pejabat, anggota organisasi kemasyarakatan, aparat keamanan, aktivis, pengusaha, dan warga biasa.
Mereka datang dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda. Tetapi di sini, mereka bisa duduk di halaman yang sama. Menikmati makanan yang sama. Mendengarkan pengajian yang sama dan berdoa bersama.
Ini membuat pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama. Ia menjadi titik temu berbagai segmen masyarakat. Bukan tempat menyeragamkan semua orang. Tapi ruang untuk mengelola perbedaan.
Ini lebih berarti dalam masyarakat yang gampang terbelah. Saat politik identitas bikin orang cepat saling curiga. Saat media sosial mengurung manusia dalam ruang gema: hanya mau mendengar mereka yang sepaham dan membenci mereka yang berbeda.
Pondok Minggir menawarkan jalan sebaliknya. Ia mempertemukan manusia secara langsung. Mengelola kemajemukan menjadi energi baru.
Kemajemukan dipraktikkan melalui perjumpaan. Orang datang, duduk, makan, tertawa, berdoa, dan bekerja bersama. Sekat-sekat sosial mencair bukan melalui pidato besar. Tapi melalui pengalaman bersama.
Gerebeg Minggir adalah bentuk nyata cara kerja itu. Acara keagamaan dipertemukan dengan kebudayaan. Jamaah dipertemukan dengan masyarakat. Kiai dipertemukan dengan petani. Hasil bumi dipertemukan dengan rasa syukur.
Tak ada benturan antara Islam dan budaya. Keduanya justru saling menghidupi. Agama memberi nilai dan orientasi moral. Budaya memberikan bahasa agar nilai agama bisa diterima masyarakat.
Gus Muwafiq memahami betul bahwa Islam berkembang di Nusantara bukan melalui pemutusan tradisi. Tapi melalui proses dialog panjang dengan kebudayaan setempat.
Para wali dulu tidak datang dengan kemarahan terhadap kebiasaan masyarakat. Mereka mengolahnya, memberikan makna baru. Lalu menjadikannya jalan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan..
Tentu pembangunan Pondok Minggir belum selesai. Bangunan fisiknya akan terus berkembang. Lembaga pendidikan dan sistem pengelolaannya juga masih harus diperkuat.
Tantangan terbesar berikutnya justru bukan menghadirkan massa. Tapi mengubah besarnya jamaah menjadi kekuatan sosial yang produktif.
Pesantren ini kelak dapat menjadi pusat pendidikan. Juga pusat kebudayaan, pemberdayaan petani, pengembangan ekonomi rakyat, pelatihan anak muda, serta ruang dialog lintas kelompok.
Lahan yang luas memungkinkan Pondok Minggir menjadi laboratorium hubungan baru. Penghubung antara pesantren, pertanian, kebudayaan, dan kewirausahaan sosial.
Di sini transformasi Gus Muwafiq diuji. Tokoh gerakan bisa menggerakkan massa dengan pidato. Tapi pemimpin pesantren harus membangun institusi. Menyiapkan kader, mengelola sumber daya, dan memastikan gagasannya dapat hidup.
Karenanya Gerebeg Minggir bukan sekadar perayaan Maulid Nabi. Ia merupakan penanda kelahiran sebuah pusat sosial baru. Sebuah ikhtiar menjadikan pesantren sebagai rumah besar kemajemukan.
Dari tempat yang bernama Minggir itu, ia sedang menunjukkan bahwa sesuatu yang berada di pinggir dapat menjadi pusat. Pusat perjumpaan, pusat kebudayaan, dan pusat konsolidasi masyarakat yang beragam.
Mungkin memang demikian jalan hidup seorang kiai. Pada mulanya ia mencari banyak guru. Kemudian berkeliling menemui umat. Pada akhirnya, ia membangun rumah agar semua orang bisa datang dan bertemu.
Rumah itu bernama Pondok Minggir.