Film Zona Merah Segera Tayang, Screenplay Films Bidik Pasar Global
Rumah produksi Screenplay Films secara resmi mengumumkan adaptasi serial mayat hidup populer “Zona Merah” ke dalam format film layar lebar. Langkah tersebut menjadi tanda ambisi perusahaan tersebut menuju panggung internasional sebagai kekayaan intelektual (IP) global.
Pengembangan “Zona Merah” versi film akan menghadirkan skala cerita yang jauh lebih besar daripada serial delapan episodenya yang tayang dalam platform streaming. Kesuksesan serial “Zona Merah” sebelumnya menjadi alasan kuat bagi Screenplay Films untuk melanjutkan kisahnya ke layar lebar. Antusiasme penonton setia pun langsung muncul saat kabar produksi film ini resmi meluncur.
“Yang kami lakukan adalah kami akan bermain pada level yang lebih besar lagi, yaitu pusat kota,” kata Sidharta Tata dalam keterangannya , Jakarta, pada Rabu. Tata kembali menjadi sutradara bersama Fajar Martha Santosa sama seperti saat menggarap versi serialnya. Tata menyebut memastikan bahwa versi film Zona Merah agar tetap mudah diikuti oleh siapa pun, termasuk mereka yang belum pernah menonton serialnya.
“Film Zona Merah ini memang didesain agar accessible buat penonton baru. Memang secara cerita, kita meneruskan, tapi juga tidak menutup kemungkinan biar penonton yang baru bisa menonton filmnya tanpa harus nonton series-nya,” jelasnya.
Ada banyak Kejutan
Tata juga menambahkan bahwa adanya keputusan itu agar film “Zona Merah” bisa menjangkau penonton yang lebih luas tanpa beban pengetahuan sebelumnya. Hal tersebut juga sekaligus menjawab calon penonton baru sempat mempertanyakan apakah mereka perlu menonton serialnya terlebih dahulu sebelum menyaksikan filmnya nanti.
“Penonton series tentu tidak akan kebingungan karena dia pasti akan langsung melihat bagaimana pola 'benang merah' itu bekerja. Kalau kita bicara soal penonton baru, itu 'kan yang menjadi challenge buat kami. Jadi, kami mendesain film Zona Merah ini supaya menjadi sesuatu yang baru bagi penonton yang baru,” ujarnya.
Tata memberi sedikit bocoran bahwa film ini akan mengambil latar tidak hanya di kota fiktif Rimbalaya, tetapi juga memperluas semesta ke kota tetangganya, Wirabumi. “(Ceritanya) akan sedikit berbeda, walaupun masih ada benang merahnya. Artinya, kita masih menggunakan universe kita, Rimbalaya, dan kali ini juga kita akan bermain dengan kota sebelahnya Rimbalaya, yaitu Wirabumi. Kemudian, konfliknya akan mulai berkembang,” ungkap Tata.
Proses syuting film akan berlangsung mulai April 2026. Untuk jadwal penayangan resminya masih menjadi rahasia. Beberapa nama besar telah terlibat dalam film ini seperti Aghniny Haque tetap menjadi pemeran utama seperti pada versi serial. Aktris Luna Maya tidak hanya bergabung sebagai pemain tetapi juga sebagai produser eksekutif. Deretan aktor lainnya termasuk Andri Mashadi, Maria Theodore, Lukman Sardi, Bryan Domani, Shindy Huang, hingga artis cilik Myesha Lin.
Meski tetap mengangkat tema serangan mayat hidup atau zombie, film ini akan ada banyak kejutan baru yang tidak pernah muncul dalam serialnya. Harapannya film akan melampaui versi serial yang telah lebih dulu sukses. “Ternyata pas di sini juga ada yang ikutin delapan episode sampai selesai gitu. Nah, terus terang kami memang sangat tertekan. Tapi ini akan jauh lebih variatif dan akan jauh lebih menarik daripada 'series'-nya,” ungkpa Tata.
Tata bahkan membandingkan ambisi film ini dengan standar internasional. “Ketika di Korea punya ‘Train to Busan’, maka di Indonesia hanya ada ‘Zona Merah’,” tegasnya.
Dengan produksi yang semakin matang dan jajaran pemain yang kuat, “Zona Merah” versi film harapannya menjadi tonggak baru dalam industri film horor Indonesia. Selain itu juga mampu memperkuat posisi IP lokal bersaing dalam kancah global. Para penggemar kini tinggal menantikan film ini hadir secara resmi di bioskop dalam waktu dekat.
Penulis: Nurul Huda