Cidro Asmoro Bawa Budaya Jawa dan Kisah Viral ke Layar Lebar
Film drama komedi musikal Cidro Asmoro akan hadir di bioskop seluruh Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Film produksi Vision+ ini membawa musik Jawa, komedi, romansa, serta budaya lokal dalam cerita tentang popularitas yang datang secara tiba-tiba.
Selain itu film ini menggunakan campursari dan musik Jawa modern untuk memperkuat cerita sekaligus karakter para tokohnya. Kehadiran musik tersebut membuat film tidak hanya mengandalkan dialog dan komedi. Lagu juga menjadi bagian dari cara film membangun suasana dan menyampaikan perjalanan karakter.
Sekedar informasi sebelumnya, Cidro Asmoro hadir sebagai serial web pada 2023. Kali ini, Vision+ mengembangkan cerita tersebut menjadi film layar lebar dengan cerita baru. Dengan sutradara Senoaji Julius menghadirkan beberapa nama terkenal seperti Ndarboy, Happy Asmara. Selain itu juga ada Jodilee Warwick, Erick Estrada, serta Andra Bagindas.
Film berdurasi 106 menit ini menggabungkan unsur drama, komedi, musik, dan budaya Jawa. Ceritanya juga membawa penonton melihat perjalanan seseorang yang tiba-tiba memperoleh popularitas melalui media sosial.
Prita dan Perjalanan Menuju Dunia Musik
Cerita dilm ini berpusat pada Prita Anjarsari yang diperankan Jodilee Warwick. Ia merupakan perempuan sederhana yang bekerja sebagai penjaga kafe di Yogyakarta. Di balik kehidupannya, Prita menyimpan impian untuk menjadi penyanyi.
Suatu malam, Prita spontan bernyanyi dan berjoget ketika mendengar lagu Koyo Jogja Istimewa. Aksi tersebut direkam oleh sahabatnya, Molly, lalu diunggah ke media sosial. Video itu kemudian viral dan ditonton jutaan kali. Popularitas tersebut akhirnya membuka jalan bagi Prita untuk masuk ke industri musik.
Jodilee Warwick menggambarkan Prita sebagai perempuan yang polos, tulus, spontan, dan menyayangi keluarganya. Karakter tersebut juga cenderung menghindari konflik dan sulit menolak permintaan orang lain.
Kehidupan Prita kemudian berubah ketika Erick, gitaris Ndarboy Genk yang diperankan Erick Estrada, melihat peluang dari popularitas tersebut. Ia kemudian membujuk Daru, yang diperankan Ndarboy, untuk berduet dengan Prita. Namun, popularitas tidak selalu membawa kebahagiaan. Prita mulai berhadapan dengan persaingan industri musik, persoalan persahabatan, serta konflik perasaan.
Dalam film ini Senoaji tidak ingin budaya Jawa hanya muncul sebagai dekorasi. Ia mencoba memasukkan nilai dan karakter Jawa ke dalam perilaku para tokoh. Menurutnya konsep Jawa dalam film tersebut tidak hanya berkaitan dengan pakaian, bangunan, atau bentuk visual tradisional. βDi film ini sebenarnya kita coba tawarkan Jawanya tuh bukan Jawa yang yang tangible, Jawa yang bentuknya misalnya pakaian atau gedung atau bangunan, bukan. Jawa di sini adalah sikap orangnya,β ujarnya
Ia menambahkan gagasan tersebut juga berkaitan dengan musik Ndarboy yang menggunakan bahasa Jawa dalam kemasan musik modern. βMemang saya terinspirasi oleh lagu-lagunya Mas Ndarboy. Lagu-lagunya Mas Ndarboy tuh kan liriknya bahasa Jawa, ya kan, bicara tentang struggle-nya manusia Jawa, tapi tuh musik modern gitu,β ungkapnya
Sementara itu bagi Ndarboy, film ini juga menjadi pengalaman baru. Selama ini ia lebih dikenal sebagai penyanyi dan pencipta lagu berbahasa Jawa. Dalam Cidro Asmoro, ia harus menjalankan peran sebagai Daru sekaligus beradaptasi dengan proses produksi film. Ia mengaku mendapat banyak pembelajaran selama menjalani proses syuting. Ia mengikuti pendampingan acting coach dan berlatih bersama para pemain lainnya.
Ndarboy menyebut film tersebut sebagai ruang untuk memperluas kehadiran musik Jawa dalam industri hiburan nasional. βSaya harap teman-teman pecinta musik Jawa itu kan banyak sekarang. Hingga kita para musisi Jawa bisa ikut andil dalam mewarnai industri musik di Indonesia,β tambahnya.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement