Ekonomali: Saat Rupiah Melemah, Kenapa Stasiun, Bandara, dan Mal Justru Tetap Penuh?
Mestinya saya ke Blitar. Tapi harus ditunda karena ada agenda di Jogja yang mendesak. Dari Jogja terus ke Jakarta, Palembang dan Lampung. Akhir pekan sudah harus berada di Bandung.
Tapi tiket ke Jogja ternyata ludes. Dari dan ke Jogja di akhir pekan kemarin. Padahal ini baru hari Jumat. Semua kereta eksekutif habis. Hatta Sancaka Surabaya-Jogja. Tinggal ada beberapa biji kelas ekonomi.
Akhirnya dapat kereta jarak jauh. Itu pun terpaksa mengorbankan salat Jumat. Karena memang tinggal kereta pagi jurusan Jakarta dan Bandung yang masih tersisa. Hampir tak ada kursi kosong di setiap gerbong.
Benar saja. Setiba di stasiun Tugu Jogja penuh sesak dengan penumpang. Baik yang datang dari arah barat maupun dari timur. Seperti musim lebaran tiba. Saat orang-orag kota mudik ke daerah.
Untuk ke Jakarta, hari Sabtu dan Minggu juga sudah tak tersedia kursi. Padahal saya suka naik gerbong luxury perjalanan Jogja-Jakarta. Berangkat malam sampai ibukota pagi. Bisa tidur nyenyak di perjalanan.
Terpaksa naik pesawat. Ada dua penerbangan dari Adi Sucipto ke Halim Perdanakusuma. Keduanya pakai pesawat ATR. Baling-baling. Hanya karena telat issued, tiket pagi sudah tak ada. Tinggal maskapai Fly Jaya agak siang
Fenomena padatnya angkutan publik ini menarik. Katanya ekonomi kita sedang tidak baik-baik, tapi kenapa stasiun dan bandara masih tetap ramai? Demikian juga mall dan restoran-coffee.
Apakah ini gejala ekonomi yang anomali?
Saya menyebutnya gejala ekonomali. Yakni keadaan ketika indikator-indikator ekonomi menunjukkan pelemahan di satu sisi. Tapi, di sisi lain, aktivitas konsumsi tertentu tetap semarak.
Permukaan ekonomi tampak normal, bahkan ramai. Namun di bawah permukaan, fondasinya mulai retak. Ada cermin retak yang membuat wajah asli kita tidak seperti yang sebenarnya. Permukaan tidak sama dengan kenyataan di dalamnya.
Sampeyan tahu, beberapa indikator makro ekonomi kita memperlihatkan gejala yang tidak bisa diabaikan. Nilai tukar rupiah sepanjang semester pertama 2026 menembus kisaran Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS.
Ini titik terlemah dalam beberapa dekade. Bank Indonesia memang telah intervensi pasar valas. Juga menaikkan hingga BI-Rate sampai 5,75 persen untuk stabilisasi. Tapi biaya investasi menjadi lebih mahal (Reuters).
Tekanan terlihat di sektor eksternal.
Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Mei 2026 mengalami defisit sekitar US$1,61 miliar. Ini defisit bulanan pertama setelah Indonesia menikmati surplus perdagangan selama enam tahun berturut-turut.
Pelemahan ekspor komoditas berjalan seiring dengan lonjakan impor. Terutama energi dan bahan baku. Ini menjadi sinyal bahwa mesin ekonomi mulai kehilangan tenaga. Meminjam istilah otomotif, mesinnya mulai mbrebet.
Di sektor riil, pelemahan ini bisa dilihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur. Pada Juni 2026, PMI Indonesia turun ke 46,9. Jauh di bawah angka 50 yang menjadi batas antara ekspansi dan kontraksi.
Ini bukti aktivitas manufaktur menyusut. Ketika pabrik mengurangi pesanan, produksi, dan jam kerja, dampaknya bisa bikin kepala migrain. Penyerapan tenaga kerja akan melambat dan daya beli masyarakat melemah (Indonesia Investment).
Tekanan harga juga mulai meningkat. Inflasi tahunan Juni 2026 mencapai 3,34 persen, mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia. Kenaikan biaya transportasi, pangan, serta dampak pelemahan rupiah terhadap barang impor ikut mendorong inflasi.
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 hanya 5 persen. Lebih rendah dari target pemerintah. Itupun masih sangat bergantung pada belanja pemerintah. Investasi swasta dan sentimen investor masih saling menunggu (Reuters).
Dus, gambar ekonomi kita jelas. Rupiah tertekan, suku bunga naik, industri manufaktur berkontraksi, neraca perdagangan defisit, dan dunia usaha menahan ekspansi.
Sementara itu, dalam waktu yang sama, stasiun kereta tetap penuh, bandara ramai, mal padat, dan coffee shop tak sepi. Seolah semua itu tak pernah kehilangan pelanggan. Inilah yang saya sebut sebagai ekonomali.
Ekonomali bisa terjadi karena struktur konsumsi berubah. Sebagian kelompok masih mampu belanja. Sebagian lainnya mulai menahan konsumsi dan tunda investasi. Bahkan ada yang masih berjuang dapat pekerjaan.
Ekonom menyebutnya fase ekonomi dua kecepatan. Ini yang sedang kita alami. Ekonomi yang ditandai dengan perbedaan antara statistik makro dengan realitas sosial. Keduanya tidak bergerak dalam irama yang sama.
Jika tesis ini benar, maka ramainya stasiun kereta, bandara, restoran, coffee dan mall, bukan indikator kesejahteraan. Ini semua hanya pergeseran pola konsumsi. Misal, dulu menggunakan mobil pribadi kini beralih kereta. Juga pengguna pesawat.
Mereka tetap bepergian. Tapi dengan biaya yang lebih efisien. Dalam ilmu ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai downtrading, yaitu pergeseran konsumsi ke pilihan yang lebih hemat tanpa menghentikan aktivitas.
Apalagi, awal Juli bertepatan dengan akhir musim libur sekolah. Banyak keluarga yang sudah merencanakan perjalanan jauh-jauh hari ketika kondisi ekonomi belum seberat sekarang. Tiket sudah dibeli sejak beberapa bulan sebelumnya.
Bisa juga dipahami bahwa fenomena ini menunjukkan krisis yang terjadi di Indonesia tidak merata. Tapi lebih menunjukkan ekonomi yang terbelah. Antara kelompok berpenghasilan tinggi dan berpenghasilan rendah.
Kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi relatif tidak banyak terpengaruh. Mereka tetap berwisata, makan di restoran, menonton konser, dan berbelanja di shopping mall.
Sebaliknya ada kelompok paling terdampak. Mereka pekerja informal, kelas menengah bawah, pelaku UMKM, dan pencari kerja baru. Mereka ini yang mengalami tekanan berat.
Dalam situasi demikian, kelas menengah biasanya menjadi kelompok paling rentan. Mereka bukan penerima bantuan sosial, tetapi juga tidak memiliki bantalan kekayaan yang cukup besar.
Pendapatan mereka relatif stagnan. Sedangkan biaya hidup terus meningkat. Cicilan rumah, pendidikan anak, biaya kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari terus menggerus kemampuan menabung.
Betul mereka masih minum kopi di kafe. Atau bepergian di akhir pekan. Tapi mulai menunda membeli rumah, mengganti mobil, atau berinvestasi. Konsumsi masih bertahan. Tapi kualitas daya beli mulai menurun.
Lantas bagaimana kita harus menyikapi kenyataan ini? Tampaknya pemerintah perlu memprioritaskan pemulihan kepercayaan dunia usaha.
Stabilitas nilai tukar, kepastian regulasi, kemudahan investasi, dan percepatan proyek-proyek produktif menjadi kunci. Semua itu agar investasi kembali bergerak dan lapangan kerja tercipta.
Bagi dunia usaha, masa seperti ini justru menjadi momentum untuk meningkatkan efisiensi. Juga momentum melakukan inovasi dan memperkuat pasar domestik.
Lainnya berinvestasi untuk meningkatkan produktivitas sumber daya manusia. Bertahan saja tidak cukup. Adaptasi menjadi syarat utama. Memanfaatkan momentum ini untuk konsolidasi.
Lantas bagaimana dengan masyarakat? Yang paling bijak adalah menjaga kesehatan keuangan keluarga. Menunda konsumsi yang tidak mendesak dan mengurangi utang konsumtif
Juga memperkuat dana darurat serta meningkatkan keterampilan agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Ini jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti gaya hidup yang tampak ramai di media sosial.
Jadi, ekonomali mengajarkan bahwa keramaian belum tentu berarti kemakmuran. Penuhnya stasiun tak sama dengan meningkatnya daya beli. Mal sesak bukan indikator ekonomi sedang sehat.
Ada kecemasan kolektif di balik keramaian. Untung ada hiburan yang menyelimur kita semua. Tarian Leonel Messi, Killian Mbappe, Ahmad Hakimi, Braut Halland, Hary Kane, dan Vini Junior di lapangan hijau Piala Dunia.
Sejenak, event bola dunia itu bikin kelompok glundang-glundung punya kesibukan di waktu dini sampai pagi hari. Sambil sesekali ikut teriak goooool…ketika nama-nama itu berhasil melesakkan bola ke gawang lawan.